Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 02/II/14-20 Januari 99
------------------------------

CENDANA DANAI BELASAN PARPOL

(PERISTIWA): Untuk tancapkan pengaruh politik, keluarga Cendana sumbang 19
parpol. Targetnya, 70 partai dapat dikuasai lewat tangan Ibnu Hartomo.

Kekhawatiran tentang praktek money politics (politik uang) akhirnya
benar-benar menjadi kenyataan. Bahkan, sebelum berlangsungnya pemilu 1999.
Ramalan para pakar politik dan ekonomi bahwa kekuatan politik lama-lah yang
potensial melakukan praktek ini, juga tak meleset.

Belakangan ini, pendekatan secara intensif telah dilakukan keluarga Cendana
terhadap partai-partai politik baru menjelang pemilu 1999. Operator yang
ditugaskan untuk itu adalah Ibnu Hartomo, adik Ny. Tien Soeharto yang
namanya sempat muncul dalam pemberitaan media massa beberapa waktu lalu
berkaitan dengan kasus penjualan surat berharga pemerintah Indonesia.
Kabarnya, melalui Ibnu, keluarga Cendana mentargetkan 70 parpol baru untuk
"dibeli".

Setidaknya, telah dua kali dilakukan pertemuan antar partai-partai politik
dengan Ibnu Hartomo di rumahnya di kawasan Condet, Jakarta Timur. Rencananya
pertemuan semacam ini akan menjadi lebih rutin. Hanya saja, sejauh ini baru
belasan parpol yang ikut serta dalam pertemuan itu.

Mereka itu adalah forum partai politik di bawah koordinasi Agus Miftach yang
rencananya akan mengadakan Kongres Nasional I Partai Politik, yaitu: Partai
Mutiara Indonesia, Partai Perempuan Indonesia, Partai Kedaulatan Rakyat,
Partai Demokratik Katolik, Partai Tharikat Islam, IPKI, Partai Gema
Masyarakat, MKGR, Partai Nahdlatul Ummat dan Partai Islam Demokrat. Di
samping Aliansi Partai Reformasi yang dipimpin oleh Syarifuddin Harahap dari
Partai Republik yang beranggotakan: Partai Kemakmuran Tani dan Nelayan,
Partai Uni Sosial Kemasyarakatan 45, Partai Amanat Penderitaan Rakyat,
Barisan Abdi Rakyat Indonesia, Partai Keadilan Sosial, Partai Reformasi
Indonesia dan Partai Pembaharuan Indonesia.

Namun, menurut sumber dari Partai Aliansi Kebangkitan Muslim Sunni Indonesia
(Akamsi), dalam perkembangan terakhir telah ada 50 parpol yang kini menerima
dana dari Soeharto. Partai Akamsi sendiri adalah salah satu parpol yang juga
didekati oleh keluarga Cendana, namun menolak menerima bantuan dana.

Yang mengkhawatirkan, keluarga Cendana juga secara agresif mendekati
parpol-parpol yang oleh sebagian masyarakat dianggap pro-reformasi. Malah
sempat berkembang isu bahwa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), salah satu
parpol besar yang menampung aspirasi warga NU, menerima dana sebesar Rp20
milyar dari keluarga Cendana. Namun, isu ini segera dibantah oleh Ketua
Dewan Syuro DPP PKB KH Ma'ruf Amin, hari Minggu lalu (10/1). Menurutnya, isu
demikian sengaja ditiupkan oleh pihak-pihak yang hanya ingin merusak nama
baik PKB.

Isu serupa juga sempat menerpa Partai Buruh Nasional (PBN) yang kelahirannya
dibidani Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Muchtar Pakapahan.
Konon, Soeharto memberikan kesempatan pada PBN berkunjung ke Cendana untuk
menerima sejumlah besar bantuan. Disebut-sebut, PBN akan memperoleh
sisa-sisa kekayaan dari perusahaan penerbangan Sempati Air milik keluarga
Cendana yang kini sudah tak beroperasi lagi. Namun, hingga kini, isu
tersebut belum terbukti kebenarannya.

Bagi keluarga Cendana, praktek politik uang, sebenarnya, bukanlah hal baru.
Berdasarkan pemilu-pemilu di jaman Orde Baru, praktek seperti ini sudah
mereka lakukan. Misalnya, pembagian "rezeki pemilu", berupa amplop berisi
sejumlah uang pada calon pemilih menjelang hari pencoblosan, yang biasanya
dilakukan kader supra di instansi-instansi pemerintahan; Lalu, melalui
"Operasi Fajar" yang dilakukan kader Golkar di tingkat desa -caranya dengan
mengetuk rumah penduduk di pagi hari sebelum pencoblosan sambil menyodorkan
beberapa ribu rupiah dan pesan untuk menusuk Golkar.

Dananya, ketika itu, bersumber dari sumbangan wajib dari para pengusaha,
sumbangan "diskriminatif" dari BUMN dan BUMD untuk Golkar, serta sumbangan
dalam jumlah besar dari "bisnis partai" yang dipimpin langsung Soeharto.
Misalnya, melalui Yayasan Dana Karya Abadi (Dakab) yang memiliki uang
sekitar Rp800-an milyar.

Berdasarkan pengalaman itu, praktek politik uang tentu dapat dengan mudah
kembali dilakukan keluarga Cendana. Kalau pada pemilu-pemilu terdahulu,
politik uang dilakukan sekedar untuk membeli loyalitas dan memantapkan
status quo kekuasaan. Pada pemilu nanti, tampaknya tujuannya tidak
sesederhana itu.

Ada anggapan bahwa Soeharto ingin menggunakan parpol-parpol tersebut justru
untuk menggagalkan pemilu. Pandangan ini sejalan dengan sinyalemen Ketua
Umum PBNU, Gus Dur, bahwa Soeharto dan pendukung-pendukung setianya berada
di balik berbagai kerusuhan belakangan ini. Mereka merekayasa konflik
horizontal di masyarakat agar menjadi lebih memanas, supaya pemilu gagal dan
Soeharto tak dibawa ke pengadilan oleh rezim baru yang nanti berkuasa.
Sementara parpol-parpol yang sudah "dibeli" Soeharto diharapkan mendukung
skenario ini.

Pendapat lain menganggap, saat ini, Soeharto ingin sekedar menancapkan
pengaruh politiknya dalam parpol-parpol baru. "Minimal untuk mempertahankan
kepentingan keluarganya," ungkap Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu
(KIPP), Mulyana W. Kusumah. Soal apakah Soeharto menghendaki pemilu 1999
digagalkan atau tidak, belum dapat ditentukan sekarang. Bisa saja Soeharto
tak hendak menggagalkan pemilu, asalkan ia dapat memastikan para pelaku
politik pasca-pemilu takkan mengutak-atik kepentingan keluarganya.

Apapun alasannya, praktek politik uang jelas akan menjadi catatan hitam
pemilu 1999. Upaya antisipasi bukan tak dilakukan pemerintah, namun tetap
saja bakal sulit memberikan sanksi hukum. Dalam RUU Partai Politik, sanksi
terhadap pelanggaran semacam ini setinggi-tingginya cuma Rp100 juta (atau
dicabut haknya mengikuti pemilu). Ini membuat parpol-parpol tertentu -yang
butuh uang besar untuk konsolidasi- mudah tergoda untuk melanggarnya. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke