Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 02/II/14-20 Januari 99 ------------------------------ GENOCIDE (LUGAS): Kata asing, yang berarti pelenyapan kelompok manusia itu, tiba-tiba muncul di surat-kabar Indonesia, pekan lalu. Yang melontarkan adalah Amien Rais, Ketua Partai Amanat Nasional. Ucapan itu dilontarkan sehubungan pembunuhan terus menerus yang dilakukan aparat keamanan terhadap masyarakat Aceh, selama masa Orde Baru. Yang terakhir terjadi adalah pengeroyokan terhadap para tahanan Satuan Tugas Operasi Wibawa 99 di Markas Polres Lhoksemauwe. Empat orang tewas, dan belasan luka berat, akibat penganiayaan sejumlah anggota ABRI. Sejatinya, genocide tak hanya terjadi di Aceh. Dalam sejarah Orde Baru, ratusan ribu orang kehilangan nyawa. Sebagian malah tak ketahuan dimana kuburnya. Sebut saja beberapa peristiwa penting: penumpasan anggota PKI yang dituduh terlibat G 30 S, Peristiwa Tanjung Priok, atau penumpasan orang-orang yang disebut sebagai Gerombolan Pengacau Keamanan di Irian Jaya dan Timor-Timur. Semua itu dilakukan secara sistematis dengan operasi militer dan intelijen. Fungsi militer dimanapun memang menjadi "mesin pembunuh". Tapi, sialnya, di negeri ini mesin itu menjadi sangat efektif karena ia ditunggangi berbagai kepentingan. Yang utama adalah kepentingan politik para perwira ABRI. Seperti diketahui, sejak lama militer di Indonesia memang terlibat jauh bermain di dunia politik. Untuk melegitimasi peran itu, malah sudah dirumuskan dalam doktrin "Dwi-fungsi ABRI" yang sangat terkenal itu. Kepentingan lain menyangkut kantong para jenderal. Sudah umum diketahui, para perwira ABRI bagaikan "raja kecil" di wilayah teritorialnya masing-masing. Mereka selalu terlibat jaringan bisnis dengan para pengusaha setempat. Bahkan, tak jarang para perwira itu "membisniskan" kerawanan keamanan di wilayahnya. Makin rusuh daerahnya, maka makin besarlah dana operasi pasukannya. Mungkin, kejadian di Aceh bisa kita lihat dari perspektif ini. Agaknya, bukanlah suatu kebetulan, "pemberontakan" rakyat Aceh marak lagi, tak lama setelah status DOM (daerah operasi militer) di wilayah itu dicabut. Bila itu betul yang terjadi, betapa malangnya bangsa ini. (*) ------------------------------ Berlanganan XPOS secara teratur Kirimkan nama dan alamat Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
