Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN KE TIMTIM (Bagian 2)

        Para mahasiswa di Dili tenyata juga tak mau kalah dengan rekan-rekannya
di Jakarta. Mereka menduduki Kantor DPRD dan Kantor Gubernuran. Berbeda dengan
mahasiswa Jakarta yang menuntut Soeharto diadili dan pencabutan Dwifungsi,
mahasiswa di Dili menuntut penarikan semua pasukan ABRI dari bumi Loro Sae.
Apa pasalnya? Sebelum berangkat menuju Dili, lewat E-mail dan internet saya 
mengetahui bahwa pasukan ABRI telah melakukan penyerbuan terhadap pemukiman 
penduduk di Kecamatan Alas, Kabupaten Manufahi, sebuah wilayah terpencil di 
selatan Timor Timur. Serangan tersebut merupakan aksi balas dendam yang 
dilakukan pasukan ABRI akibat serangan sekitar 100 pemuda Timor Timur yang 
tergabung dalam Forcas Armadas Libertacao de Timor Leste (Falintil) atas 
markas Koramil pada 9 November 1998 yang menewaskan 3 prajurit ABRI dan 
belasan anggota Koramil Alas  disandera. Serangan ABRI yang membabi buta 
terhadap warga sipil tersebut  menewaskan 11 penduduk, termasuk kepala desa 
Desa Taituduh. Puluhan penduduk lainnya, termasuk sejumlah perempuan, 
ditangkapi dan ganti disandera ABRI sebagai bahan tawar-menawar dengan 
Falintil untuk membebaskan rekan-rekan mereka.
        Alhasil, tindakan keji ABRI terhadap penduduk sipil yang tak berdosa
itu mengundang berbagai gelombang protes. Termasuk dari dunia internasional. Di
Dili sendiri pada 23 November 1998, lebih seribu mahasiswa turun ke jalan
melakukan aksi demo. Dengan mengambil start di Kampus Untim para mahasiswa
beriringan menuju Kantor DPRD yang berdekatan dengan Kantor Gubernur Abilio.
Mereka melancarkan sejumlah tuntutan antara lain agar semua pasukan ABRI ditarik
dari Timor Timur dan dibentuk sebuah Tim Pencari Fakta atas Kasus Alas. Para
mahasiswa menginap semalaman di Kantor DPRD dan keesokannya bergerak menuju
Kantor Gubernuran.
        Saya tak akan bercerita banyak soal aksi dan dialog antara mahasiswa
dan penguasa di Timor Timur (telah ditampilkan dalam rangkaian posting MateBEAN
-red.), sebab yang lebih menarik bagi saya saat menyaksikan demo tersebut
adalah karakteristik aksinya. Tak seperti diceritakan orang sebelumnya bahwa
demo di Timor Timur selalu mengundang perusakan pada harta benda orang "Jawa",
demo yang saya saksikan kali ini betul-betul sebuah "peaceful demonstration". 
Saya melihat demo di depan mata saya sebagai sebuah tontonan baru. Puluhan 
mahasiswa mengenakan seragam kaos berwarna kuning, merah dan hitam (warna 
bendera Fretilin) yang disablon ala kadarnya, bertugas sebagai satuan 
pengaman. Tak tampak satu pun tentara berseragam hijau. Demikian juga para 
"mauhu" dan anggota Kopassus yang biasanya menyamar dengan pakaian preman 
atau menyamar sebagai satuan polisi. 
        Di seputar Gedung DPRD, yang tampak hanyalah wajah orang Timor Timor. 
Dan dari gerak-geriknya mereka tampaknya adalah kelompok yang menuntut agar 
ABRI segera pergi jauh-jauh dari wilayah mereka. Kelompok Gadapaksi binaan 
mantan Danjen Kopassus, Letjen (purn) Prabowo, atau pun satuan "vigilante" 
lainnya tak tampak satu "ekor" pun.
        Dan yang lebih penting, adalah tak terjadi serangan satu pun pada 
warga pendatang atau pun harta benda mereka. Memang beberapa di antara 
satuan pengaman sempat mencurigai saya yang berwajah lain dengan mereka, 
tapi setelah mereka diberitahu oleh seorang kenalan saya bahwa saya adalah 
sahabat mereka ketegangan di wajah mereka menghilang digantikan rekahan 
senyum. "Silakan dekat sini, jangan jauh-jauh agar kami juga bisa mengawasi 
keselamatan Mas!" ujar salah seorang di antara mereka.  
        Gaya, orasi dan cara penuntutan yang dilakukan para pendemo 
mengingatkan saya pada para mahasiwa di Jakarta. Persis, "plek" sama. Hanya 
saja di Jakarta ABRI bertindak  represif dan unjuk kesangaran.  Yang saya 
saksikan di Dili selama 3 hari demonstrasi soal Alas tersebut, hanya ada 
satu-dua orang polisi yang bekerja mengatur kelancaran lalulintas. Ke mana 
15 ribu pasukan ABRI yang ada di Timor Timur?
        Sejumlah sumber yang saya temui mengatakan, kebanyakan anggota 
militer di Timor Timur mengalami demoralisasi akibat gerakan reformasi yang 
tejadi seluruh wilayah Indonesia. Apalagi gerakan reformasi yang 
digelindingan mahasiswa salah satunya adalah menuntut dicabutnya Dwifungsi 
ABRI. "Sejak reformasi ABRI di sini jadi jinak. Dalam kasus Alas saja mereka 
jadi beringas lagi," ujar sebuah sumber. Sumber yang lain mengatakan bahwa 
ribuan pasukan ABRI dikerahkan untuk mengepung posisi pasukan Falintil 
pimpinan Taur Matan Ruak yang bertahan dengan para sandera ABRI di Alas. 
Pasukan ABRI itu termasuk sejumlah pasukan Kopassus yang pada Agustus 1998 
lalu pura-pura ditarik dari Dili, tapi sebenarnya masuk lagi melalui Ambeno. 
Mereka membantu gabungan pasukan Batalyon 744, Batalyon 745 (sebagian lagi 
anggotanya melakukan desersi;  (baca: MateBEAN (2/12/98): BATALYON 745 DI 
TIMTIM DESERSI), BTT 604/Kapuas  dan Kodim 1634/Manufahi yang sebelumnya 
telah menjepit posisi Falintil.
        Selama saya di Dili, sejumlah demo dilancarkan masyarakat. Salah 
satu yang menarik adalah demo anti-kekerasan yang dilancarkan kaum perempuan 
Timor Timur yang dikoordinir Forum Komunikasi Untuk Perempuan Loro Sae 
(Fokupers). Demo pada 25 November 1998 itu betul-betul menarik. Selain 
menampilkan gugatan kaum ibu atas serentetan tindak perkosaan prajurit ABRI 
terhadap perempuan Timor Timur, sejumlah anak-anak juga memamerkan berbagai 
karya lukis mereka yang menggambarkan kekejaman tentara terhadap ibu-ibu 
mereka.
        Demo dengan isu yang terfokus, tertib dan penuh kedamaian tersebut 
betul-betul berbeda dan semua gambaran yang ada di kepala saya tentang 
berbagai kerusuhan di Timor Timur yang selalu menyertai setiap aksi demo. 
        Dengan berjalan kaki, usai melihat demo penuh damai itu, saya 
menyempatkan diri berkeliling kota Dili. Saya tak menemukan lagi pasar 
senggol yang dulunya dihuni orang-orang Jawa pendatang dari Lamongan dan 
Banyuwangi, Jawa Timur. Beberapa bangunan di bekas kawasan Pasar Senggol 
tampak sebagai puing-puing.  Saya juga tak menemukan kompleks pelacuran di 
kawasan dekat Pantai Pasir Putih. Rupanya aksi massa sebelumnya, yang 
disertai kekerasan, telah membuat ketakutan kaum pendatang. Dalam gelombang 
aksi anti-Indonesia dan kaum pendatang pada Agustus 1998 lalu, ribuan "orang 
Jawa" dari Lamongan dan Makassar mengungsi ke luar dari Timor Timur. Dan 
hanya sebagian yang bertahan. Mereka kini banyak yang memilih berdagang atau 
buka warung di kawasan Komoro, kawasan pantai di bagian barat Dili.
        Gedung bioskop satu-satunya di Dili dan juga di Timor Timur yang 
terletak di Jl Americo Thomas juga telah lama jadi "rumah hantu". Sekitar 2 
tahun lalu bioskop yang selalu memutar film propaganda pemerintah Indonesia 
ini dihancurkan para pemuda saat ada demonstrasi anti-integrasi.
        Dari sejumlah sumber, saya dengar bahwa lokasi pelacuran satu-satunya,
Aspal Goreng, yang sebenarnya telah ditutup oleh Pemda ternyata masih beroperasi
secara diam-diam. "Bagaimana bisa tutup. Kan di tempat tersebut prajurit ABRI
menyalurkan hajatnya!" ujar sebuah sumber sembari menuturkan bahwa perempuan
Timor Timur pantang menjadi pelacur meski kehidupan ekonomi sangat sulit.
Arus reformasi di Jakarta, ternyata mendatangkan akibat demoralisasi dan 
dekadensi berkepanjangan bagi anggota militer yang bertugas di wilayah Timor 
Timur. 
        Perang tanpa motivasi barangkali adalah gambaran yang lebih tepat, 
seperti halnya saat para pemuda belia prajurit AS harus melancarkan perang 
suci "demi negara" di wilayah milik bangsa lain, Vietnam. Gerakan reformasi 
di Jakarta tenyata menghasilkan krisis legitimasi bagi kehadiran pasukan 
ABRI di tanah milik sebuah "bangsa" yang terus menuntut kemerdekaannya. 

(BERSAMBUNG)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke