Precedence: bulk
HANYA ISLAM FASIS YANG ALERGI KRITIK
Oleh: Sulangkang Suwalu
Theo Syafei diberitakan datang ke Polda Metro Jaya untuk melaporkan Ahmad
Sumargono dan Hadi Mustofa Djuraid-pemimpin perusahaan dan pemimpin redaksi
tabloid Abadi. Karena tabloid Abadi dianggapnya telah mencemarkan nama baik
dan memfitnah dirinya ke Polda Metro Jaya.
Saya adukan tabloid itu, kata Theo Syafei, karena tabloid itulah yang pada
edisi 24 Desember 1998, secara resmi memuatnya (berita yang mencemarkan nama
baik dan memfitnahnya-pen). Dan akibat pemuatan itu lalu terjadi, ada
organisasi yang mengadukan saya. Jadi, di tabloid itulah awalnya mencemarkan
dan fitnah saya.
"Saya tidak pernah menghujat kelompok Islam manapun, apalagi
tokoh-tokohnya," ungkapnya usai membuat laporan ke Polda Metro Jaya.
BANYAK PEMUDA ISLAM TERSINGGUNG?
Seperti diberitakan mediamassa, Ketua pelaksana harian KISDI, HA Sumargono
bersama API (Assosiasi Pembela Islam) yang terdiri dari gabungan ormas Islam
seperti KISDI, HMI, DDII, KAHMI, ICMI, PPI, GPI dan PII datang ke Polda
Metro Jaya melaporkan bahwa Theo Syafei yang dianggap menghina.
Sumargono mengatakan Theo Syafei dalam ceramahnya itu, selain menghujat
tokoh Islam, melecehkan Presiden BJ Habibie, secara tendensius Theo juga
menyebut kiprah KISDI dan menganggap umat Islam tak berperan dalam proses
pendirian Republik ini.
Karena itu banyak pemuda Islam yang tersinggung pada materi ceramah Theo,
yang juga salah seorang Ketua PDI Perjuangan.
Saya kira, kata Sumargono, masih bagus reaksinya hanya dalam bentuk gerakan
moral, daripada mereka main hakim sendiri. Untuk itu Sumargono mengaku sudah
meredam sebagian pemuda Islam keberatan pada materi ceramah Theo.
Dengan kata lain, sebagian pemuda Islam yang disebut Sumargono sebagai
tersinggung telah siap untuk melakukan kekerasan pada Theo Syafei sekiranya
tidak diredamnya.
SEMESTINYA UMAT ISLAM BERTERIMA KASIH
Menanggapi tuduhan kepada Theo Syafei sebagai menghina Islam, maka
Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa (Gus Dur) dalam harian Merdeka
yang sama mengatakan agar umat Islam tak terburu-buru mencap buruk kepada
pidato Ketua DPP PDI Perjuangan Theo Syafei yang beredar luas dalam bentuk
kaset di Kupang.
"Justru semestinya umat Islam berterima kasih kepada Pak Theo, karena itu
berarti ada orang yang berpandangan lain tentang Islam".
Mengenai bagaimana menyikapi pidato Theo Syafei yang bernada hujatan itu,
Gus Dur mengatakan belum mendengar secara lengkap apa dan bagaimana isi
pidato yang dianggap menggegerkan itu.
Gus Dur mengatakan bahwa kasus ceramah Theo Syafei menyatakan bahwa apa
yang diberitakan bahwa Theo Syafei berniat melecehkan umat Islam adalah fitnah.
Saya sudah mendengar transkripsinya dan rekamannya. Saya bisa pastikan
bahwa pemberitaan itu adalah fitnah. Pak Theo bukan bermaksud melecehkan
umat Islam. Justru apa yang dikatakannya Theo Syafei itu sebenarnya ingin
membela agama Islam.
Mengapa Gus Dur menilai bahwa pidato Theo Syafei justru membela gerakan
Islam? Kalau disimak baik-baik, pidato Theo Syafei memang justru membela
gerakan Islam. Bahwa gerakan Islam itu tidak pernah menuntut untuk
mendirikan negara agama. Lalu ini dibalik oleh tabloid (Abadi-pen) ibukota.
Ini fitnah.
Meskipun sama beragama Islam, ternyata berbeda seperti siang dengan malam
antara penilaian Sumargono (KISDI) cs dengan Gus Dur, tentang apa yang
dikatakan pidato Theo Syafei. Yang satu menuduh "melecehkan agama Islam"
yang lain mengatakan "membela gerakan Islam".
PEMBUSUKAN DARI DALAM
Kesimpulan Gus Dur bahwa pidato Theo Syafei justru membela gerakan Islam,
bukan melecehkan Islam seperti yang dituduhkan Ahmad Sumargono dkk, mudah
dimengerti, mengingat di dalam pidato Theo Syafei (bila transkripsi itu
benar-benar pidato Theo Syafei-pen) ia mengemukakan bahwa hingga kini,
meskipun penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, namun filosofi
negaranya bukan Islam. Tidak pernah UU diberlakukan menurut pikiran-pikiran
Islam.
Tempo dulu di masa Sriwijaya, filosofinya Budha; di masa Majapahit
filosofinya Hindu; di masa penjajahan Belanda filosofinya Kristen dan di
masa RI, Pancasila. Tentu saja hal itu menimbulkan kegalauan di kalangan
umat Islam. Timbullah pemberontakan-pemberontakan untuk mendirikan negara
Islam, seperti pemberontakan DI/TII dengan Imamnya Kartosuwirjo,
pemberontakan Kahar Muzakar di Sulsel, pemberontakan Ibnu Hajar di Kalsel
dan pemberontakan Daud Bereuh di Aceh.
Ketika terbuka kesempatan untuk membentuk negara Islam melalui pemilu tahun
1955, ternyata setelah 4 tahun Konstituante berjalan, juga gagal, terutama
setelah AH Nasution mengusulkan kepada Presiden Sukarno untuk kembali ke UUD
1945. Keluar lah Dekrit 5 Juli 1959: kembali ke UUD 1945, Pancasila.
Islam yang galau itu, bukan Islam keseluruhan. Yang galau itu hanya Islam
fundamental. Islam itu ada dua: Islam fungsional dan Islam politik. Islam
fungsional yang memperjuangkan supaya fungsi-fungsi Islam itu dilaksanakan
dalam
keadilan sosial, di dalam kesejahteraan, di dalam kesehatan, di dalam
makanan. Islam yang fungsional tersebut tercermin dari mereka yang ada di
NU. Islam politik yang ingin benderanya berkibar sebagai kekuatan. Itu Islam
yang berada di ICMI dan Islam yang berada setengah dari Islam Muhammaddiyah.
Bedanya NU dengan Muhammaddiyah ialah bagi NU bila ada persoalan di luar
tentang haram dan halal, tentang sah dan tidak sah, ia mencari pembenarannya
dari Kiayi-kiayi yang berpegangan kepada buku Kuning, buku Khittah 1926.
Sedang bagi Muhammaddiyah mencari pembenarannya kepada Al Quran dan Hadits.
Upaya Islam politik untuk mengibarkan bendera Islamnya dalam kekuasaan,
diantaranya melalui strategi HMI: pembusukan dari dalam kekuasaan. Hal itu
dikemukakan setelah di tahun 1978 GBHN menetapkan orsospol dan ormasnya
azasnya harus tunggal: Pancasila. HMI menolak azas tunggal Pancasila itu.
Akbar Tanjung (mantan Ketua HMI dan ketika itu ia menjadi Ketua KAHMI,
alumnus HMI) dalam pidatonya di Medan mengatakan, "Kalau HMI tidak menerima
azas tunggal, maka kalian sebagai ormas tidak sah. Kalau ormasnya tidak sah,
kalian harus memperjuangkan Islam di luar sana, paling pinggir. Kapan kalian
bisa di sentral power? Mari kita terima azas tunggal Pancasila sebagai
taktik, agar kita bisa masuk dalam Golkar, ke dalam pemerintahan dan
kemudian melakukan pembusukan-pembusukan dari dalam." Dan itulah yang
dilaksanakan oleh KAHMI.
Kemudian setelah hampir 2 tahun, berdiri ICMI, yang dimotori Prof Dr
Imanuddin. Ketuanya mereka pilih BJ Habibie. Habibie menurut penilaian
mereka adalah figur yang paling bisa dimanfaatkan. Karena dia sudah dekat
dengan sentral kekuasaan. Habibie cuma simbol, lambang. Kemudian ICMI ini
makin lama makin banyak dalam Golkar, dalam pemerintahan, dalam kabinet yang
lalu.
Nah, Islam yang dipakai Pak Harto itu adalah Islam yang tadinya dikatakan
Akbar Tanjung, Islam yang melakukan pembusukan dari dalam. Islam ini
kemudian mengatakan: mari kita dorong Soeharto sebagai bapak pembangunan.
Supaya nanti kalau ada kesalahan di Republik ini, maka satu-satunya yang
paling salah adalah Soeharto. Dan itu terjadi hari ini.
Demikian di antaranya isi transkripsi pidato Theo Syafei tersebut.
FUNDAMENTALISME ISLAM ALERGI KRITIK
Bertolak dari transkripsi serta pernyataan Theo Syafei bahwa "Ia tidak
pernah menghujat kelompok Islam manapun, apalagi tokoh-tokohnya", menjadi
diragukan dalih Ahmad Sumargono untuk melaporkan Theo Syafei kepada Polda
Metro aya. Sebab dalihnya melaporkan tersebut ialah dinilainya pidato Theo
Syafe dalam ceramahnya, selain menghujat tokoh Islam, melecehkan Presiden BJ
Habibie, secara tendensius menyebut kiprah KISDI dan menganggap umat Islam
tak berperan dalam proses pendirian Republik ini.
Kelompok Ahmad Sumargono adalah kelompok Islam fundamental yang alergi
terhadap kritik. Fundamentalisme menurut Dr Djohan Effendi "Timbul karena
absolutisme pemahaman. Mereka akhirnya mengklaim dirinya paling benar.
Sepertinya mereka mewakili Tuhan. Ini hasil dari paradigma teologi lama".
Karena merasa dirinya paling benar, maka apa yang dilakukan tokoh-tokoh
fundamentalisme di bidang politik, dinilainya pasti benar dan kalau ada yang
mengecamnya atau mengkritiknya, maka yang mengecam atau mengkritik itu
dituduh menghina atau melecehkan agama Islam. Padahal para tokoh Islam dari
pihak manapun adalah manusia biasa, tidak luput dari kekeliruan atau
kesalahan. Tidak tertutup kemungkinan melakukan kekeliruan dalam
mempraktekan ajaran Islam dalam kehidupan berpolitik.
Apakah tidak boleh mengecam Habibie yang begitu banyak melakukan kekeliruan
atau kesalahan, baik ketika mendukung Soeharto secara langsung atau tidak
langsung dalam melakukan pembantaian di Aceh, di Tanjung Priok, di Lampung
dan kini tetap berada di bawah bayang-bayang Soeharto?
Apakah juga tidak boleh menyebut kiprah KISDI, misalnya KISDI membela Pam
Swakarsa yang menggunakan senjata bambu runcing guna menghadapi gerakan
mahasiswa untuk dilaksanakannya reformasi secara total? Apakah tidak boleh
mengkritik peranan umat Islam dalam proses, pendirian Republik Indonesia?
Tampaknya KISDI ini menghendaki ikuti saja lah apa yang dimauinya. Tidak
boleh dibantah. Sama seperti kehendak Soeharto fasis ketika masih berkuasa.
BUKAN PENGIKUT RASULULLAH BILA ALERGI KRITIK
Sungguh bertentangan sikap kelompok KISDI yang alergi terhadap kritik
dengan sikap Rasulullah terhadap kritik. Tentang kesediaan Rasulullah di
kritik, itu diungkapkan oleh Wakil Sekjen Generasi Muda Persatuan (GMP)
Machfuddin Ali pada harian Terbit (7/5/96).
Menurut pengamatan Machfuddin Ali selama ini banyak orang yang gampang
marah ketika seorang melontarkan kritik. Kendati materi kritik itu betul dan
juga seadanya, yang kena kritik seperti tidak rela diharuskan. Kritik
dianggap hal yang melecehkan atau meremehkan.
"Umat Islam, seyogianya tidak pula menganggap kritikan sebagai sesuatu yang
aneh. Sebab, sejak zaman Nabi Muhammad Saw, kritik sudah menjadi komunikasi
yang permanen diberlakukan."
Setidaknya Rasulullah, yang terkenal maksum pun senantiasa menerima
kritikan dengan lapang dada. Lihatlah ketika Nabi menanda-tangani perjanjian
Hudaibiyyah, tanpa tedeng aling-aling sahabat-sahabat yang tidak terima
terhadap perjanjian tersebut langsung mengajukan kritik yang pedas. Padahal
kalau dilihat dari kasat mata, Nabi tidak mungkin salah. Tapi Nabi menerima
dengan lapang dada. Ini menunjukkan Nabi Muhammad itu tidak anti kritik.
Begitu juga sahabat Nabi, seperti Abubakar ataupun Umar bin Chattab ketika
keduanya menjadi Khalifah. Abubakar malah mengundang semua rakyatnya untuk
melakukan kritik terhadap dirinya. Dan bukan basa-basi kalau pada akhirnya
kritik pedas pun dia terima.
Malah Umat bin Chattab yang dalam sejarah hidupnya dikenal sebagai orang
yang paling keras hatinya, begitu mendengar kritik, langsung
mengapresiasikan dalam bentuk keputusan yang nyata.
Misalnya sewaktu ada seorang ibu secara pedas menyampaikan kritik terhadap
tanggungjawab Umar sebagai Khalifah. Beliau langsung mengangkat gandum ke
rumah orang miskin tersebut. Dan ketika seorang bawahannya menawarkan diri
untuk membantu mengangkat, dengan serta merta Umar menampik, dengan
mengatakan, "Apa kah siap menggantikannya di azab di neraka?" Ini
menunjukkan Umar yang agung itu terbuka terhadap kritik.
Karena itu Machfuddin mengharap agar umat Islam tidak alergi terhadap
kritik-kritik yang datang kepadanya. Entah kritik itu yang dari bawahan,
ataupun dari anak sekalipun hendaknya di pandang sebagai kritik yang membangun.
Kritik dalam tradisi Islam merupakan keharusan, merupakan kewajiban sebagai
umat Islam dalam rangka mengingatkan akan kebaikan dan kebenaran.
KESIMPULAN
Umat Islam yang sungguh-sunnguh pengikut Rasulullah Saw, tentu akan
mengikuti langkah Rasulullah yang terbuka dan berlapang dada menerima kritik
dari manapun datangnya. Tentu soalnya menjadi lain, sekira dirinya mengaku
sebagai pengikut Rasulullah, tapi hatinya bulat membelakang. Mereka tentu
akan menolak kritik, mereka menganggap dirinya selalu benar.
Hanya Islam fasis, seperti Islamnya Soeharto yang menganggap dirinya selalu
benar, tidak pernah salah, yang salah ialah yang mengecamnya dan karena itu
harus digebuk, dipenjarakan. Islam fasis itulah yang alergi terhadap kritik.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html