Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 03/II/28 Januari-3 Februari 99
------------------------------

ALTERNATIF SELAIN RATIH

(POLITIK): Kekerasan antar massa partai diperkirakan memuncak sampai pemilu.
Antisipasi dan penanganan konflik mendesak untuk disiapkan.

Di sepanjang jalanan kota sampai desa di Jawa kini menjamur posko PDI
Perjuangan. Sementara di berbagai sudut persimpangan, berbagai spanduk
partai seolah berlomba untuk memampang slogan perjuangan sampai ucapan
selamat hari raya Idul Fitri. Kampanye, tanpa disemprit kapan mulainya telah
menggelora di berbagai pelosok tanah air. "Ini merupakan fenomena yang wajar
setelah rakyat selama Orde Baru hanya dijadikan obyek rekayasa pemilu.
Sekarang rakyat sendiri ingin menjadi subyek yang menentukan suaranya mau
diarahkan ke partai mana. Rakyat tidak ingin lagi ada rekayasa dan pemaksaan
untuk mencoblos salah satu organisasi peserta pemilu. Yang penting adalah
bagaimana supaya tidak terjadi benturan antara massa partai," ujar Kwik Kian
Gie menjawab pertanyaan Xpos.

Tapi harapan Kwik di lapangan rupanya sulit diwujudkan. Hampir tiap hari,
kini arak-arakan kampanye partai ramai menyusuri jalan raya hingga
lorong-lorong kampung. Benturan fisik, mulai dari perkelahian sampai
pembunuhan, tidak terelakkan. Di Yogyakarta, konflik fisik antara
pemuda-pemuda pendukung PDI Perjuangan dan PPP menjelang Lebaran telah
menelan korban luka-luka. Di kota-kota yang berjajar sepanjang pantai utara
Jawa, seperti Cirebon, Brebes, Pekalongan, hingga Semarang, massa PKB saling
panas-memanasi ketika bersimpang jalan dengan massa PAN. Arak-arakan
tersebut sering memacetkan jalan dan memancing adu mulut dengan rombongan
mudik lebaran. Bahkan, mobil-mobil pribadi yang tak tahu menahu politik jadi
penyok-penyok gara-gara terlambat minggir. Kekhawatiran tentu saja merebak,
Pemilu tahun 1997 yang diikuti oleh tiga organisasi politik saja menurut
data statistik telah memakan 186 nyawa, itu yang tercatat di Departemen
Dalam Negeri bersumber laporan yang masuk ke kepolisian. ABRI mengantisipasi
kekerasan menjelang pemilu tahun ini dengan mengusulkan pembentukan Rakyat
Terlatih. Meskipun memancing kontroversi, pelatihan militer untuk sipil
tersebut telah dijalankan di beberapa kodam.

Kodam IV/Diponegoro misalnya, sudah menyiapkan satu kompi (120 personil)
sejak Agustus 1997 yang berpangkat prajurit dua (Prada). Mereka kemudian
melatih para lulusan SMU yang berbadan sehat dan masih menganggur. Mereka
diharapkan bisa mencegah perkelahian yang terjadi antar massa di
lingkungannya saat kampanye hingga pemilu nanti.

Di Jawa Timur, Kodam V/Brawijaya juga telah selesai mendidik satu kompi yang
sama. Mulai 11 Januari hingga 12 Maret 1999 mereka akan merekrut latih 6000
personil kamra. "Itu didasarkan pada kebutuhan menjaga keamanan saat pemilu
dan mengantisipasi kerusuhan lain," kata Kadispen Polda Jatim Letkol
Sutrisno TS. Sementara di Kodam I/Bukit Barisan sejak Oktober 1997 juga
sudah tercetak satu kompi yang direkrut dari karyawan perkebunan Propinsi
Riau. Singkat kata, targetnya memang setiap Kodam menyiapkan satu kompi
wanra yang kemudian akan melatih sepuluh ribuan kamra. Untuk mendukung
program Ratih dalam mengatasi kekerasan itu telah tersedia dana Rp300
milyar. Pangab Jendral Wiranto beralasan di hadapan DPR awal Januari 1999,
sebagai cara cepat pemenuhan kebutuhan aparat adalah dengan melaksanakan
latihan bagi rakyat.

Tapi cara mengantisipasi benturan fisik dalam pemilu nanti dengan
menggunakan Ratih banyak mengundang protes. Satu pendapat yang tampaknya
mewakili yang tidak setuju seperti diucapkan Rachmad Wijanarko, mahasiswa
IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam acara debat "SAKSI" di sebuah saluran
televisi. Cara penyelesaian krisis yang memicu kekerasan antar massa parpol
dengan menggunakan Ratih, tutur Rachmad, justru berbahaya. Karena akan
memperluas konflik horisontal di antara masyarakat. "Ini jelas malah memicu
ketidakamanan. Seharusnya negara bertanggungjawab untuk menyelesaikan
konflik ini. Bila tidak sanggup, apalagi gunanya negara? Kalau begitu negara
dibubarkan saja!" ujar Rachmad.

Tapi tentu membubarkan negara juga tidak memecahkan masalah. Beberapa
aktivis dan intelektual yang menyadari bahaya ini kini sedang menggodok ide
untuk membentuk suatu crisis center untuk mengantisipasi dan menyelesaikan
konflik sipil. Mereka yang sengaja belum menyebut nama untuk menggalang
dukungan yang lebih luas itu menilai bahwa persoalan sipil harus
diselesaikan oleh sipil sendiri. "Kita sebagai masyarakat sipil berkewajiban
mengelola konflik horisontal sehingga tidak menimbulkan atau paling tidak
meminimalkan korban yang jatuh akibat bentrokan kekerasan," ujar seorang
aktivis. Bila tidak, maka penyelesaian akan memakai cara-cara ABRI yang
militeristik. Dan bahkan, militer jadi seperti punya legitimasi untuk
mengendalikan situasi dengan tujuan melanggengkan status quo dominasi ABRI."

Idenya, crisis center ini memfokuskan diri pada upaya penanganan konflik dan
solusinya. Mereka yang mau terlibat dalam upaya ini bisa saja dari kalangan
independen seperti mahasiswa, kampus, LSM, atau media, maupun juga
partai-partai yang menyadari bahayanya benturan kekerasan yang mengancam
keselamatan anggota partainya. Bentuk konkrit dari upaya ini misalnya
mendorong kesepakatan antar partai mengenai rute-rute mana yang dilewati
saat kampanye sehingga tidak bertumbukan, sampai pelaksanaan prosedur
penyelesaian konflik fisik.

Boleh jadi, ide ini bakal bersambut di kalangan sipil yang selama ini jenuh
dengan intervensi militer. Tentu saja efektivitasnya akan sangat tergantung
pada seberapa jauh crisis center ini bisa menggalang solidaritas bertindak
untuk mencegah kerusuhan yang merugikan banyak pihak. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke