Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 03/II/28 Januari-3 Februari 99
------------------------------

PEMANTAU PARTIKELIR

(POLITIK): Terilhami Namfrel di Filipina, kini muncul berbagai pemantau
pemilu independen di dalam negeri. Sayangnya, belum saling koordinasi.

Pemilu 7 Juni nanti, akan banyak memperlihatkan hal-hal baru. Tidak saja
dari undang-undangnya, sistemnya, maupun kontestannya, tapi juga dari sisi
pengawasannya. Gejala yang relatif baru adalah maraknya partisipasi politik
masyarakat dalam aktifitas pemantauan pemilu. Setidaknya terdapat beberapa
lembaga partikelir yang telah mengemukakan komitmennya untuk terlibat dalam
kegiatan seperti ini, misalnya University Network for Free and Fair Election
(Unfrel), Forum Rektor dan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP).

Unfrel atau Jaringan Universitas untuk Pemantauan Pemilu (JUPP), dibentuk 5
Desember tahun lalu melalui penanda-tanganan deklarasi bersama 14 mahasiswa
Perguruan Tinggi Negeri di Kampus Universitas Indonesia, Depok. Mereka yang
ikut menandatangani antara lain: Universitas Haluoleo, UNDIP, UNHAS,
Universitas Bengkulu, UGM, USU, Unair serta Universitas Udayana. Dalam
keterangan seorang aktifisnya belum lama ini, Unfrel mengaku telah hadir di
140 kampus negeri dan swasta di berbagai wilayah Indonesia. Tokoh yang
mengkoordinir kegiatan Unfrel adalah praktisi hukum terkemuka yang juga
pengajar di Universitas Indonesia, Dr. T. Mulya Lubis.

Forum Rektor adalah jaringan pemantauan pemilu yang juga berbasis kampus.
Forum ini sebetulnya merupakan tindak lanjut dari pertemuan para rektor
se-Indonesia tahun lalu di saat maraknya demonstrasi mahasiswa. Keputusan
untuk memantau pemilu, merupakan salah satu komitmen para rektor untuk
berpartisipasi dalam pemilu 1999. Secara resmi, forum ini memang belum
mendeklarasikan organisasi pemantauan pemilunya. Namun, persiapan teknisnya
terus dilakukan oleh sebuah Komisi Persiapan. Forum ini dikoordinatori oleh
kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) -sehingga lebih dikenal sebagai
Forum Rektor ITB. Menurut Lucky Djani, salah satu pegiat dalam Forum Rektor,
mereka memiliki jaringan di 159 kampus di Indonesia.

Sedangkan KIPP adalah lembaga tertua yang akan melakukan pemantauan. Lembaga
ini didirikan tahun 1996 oleh berbagai organisasi masyarakat, kemahasiswaan
dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dalam situasi represif di tahun 1997,
KIPP mengerahkan 12.000 relawan untuk memantau pemilu di 14 propinsi. Hingga
kini, KIPP telah hadir di 23 propinsi dan 72 cabang. Dengan modal pengalaman
dalam pemilu 1997, KIPP mulai memasuki persiapan teknis seperti pembuatan
modul dan petunjuk pemantauan serta training for trainers tingkat nasional.
Kegiatan KIPP secara nasional dikoordinatori seorang Sekretaris Jenderal,
yaitu Mulyana W. Kusumah -yang baru terpilih sebagai anggota Tim Sebelas
untuk mempersiapkan pembentukan Komisi Pemilihan Umum.

Terbentuknya lembaga-lembaga pemantau pemilu swasta ini, sebetulnya diilhami
oleh sebuah gerakan serupa yang terjadi belasan tahun lalu di negara
tetangga, Filipina. Ketika rezim Ferdinand Marcos masih berkuasa, pemilu
lebih merupakan alat pengesah status quo kekuasaan ketimbang sebuah proses
penghormatan terhadap kedaulatan rakyat. Sehingga kecurangan, intimidasi dan
teror senantiasa mewarnai pemilu di Filipina. Untuk melawan praktek
demikian, sebagian rakyat Filipina mendirikan sebuah lembaga independen yang
mereka namakan National Citizen Movement for Free Election (Gerakan
Masyarakat untuk Pemilu yang Bebas, disingkat Namfrel).

Di awal pendiriannya, Namfrel juga mendapat kritikan tajam dari sesama
kalangan pro-demokrasi. Sebab, pemantauan pemilu dianggap cuma akan
melegitimasi pemilu yang curang. Namun, para aktifis Namfrel beranggapan
lain: Untuk meyakinkan rakyat bahwa hak-hak politiknya dicurangi, masyarakat
sendiri harus dilibatkan dalam pengawasan. Dengan begitu pendidikan politik
akan lebih efektif. Hal ini terbukti dalam pemilu 1986. Ketika komisi
pemilihan umum (Comelec) Filipina mengumumkan kemenangan Marcos, sementara
Namfrel menemukan fakta bahwa Cory Aquino yang menang, rakyat Filipina
bereaksi. People Power terjadi, Marcos tumbang.

Awal Januari ini, atas inisiatif KIPP, dilakukan pertemuan antara
lembaga-lembaga pemantau pemilu swasta Indonesia dengan Namfrel di Manila,
Filipina. Dalam pertemuan yang dinamakan "Forum Dialog Manila" ini, pemantau
pemilu dari Indonesia bertukar pikiran tentang hal-hal teknis menyangkut
manajemen dan metode pemantauan. Para peserta juga akan bertemu muka dengan
mantan Presiden Cory Aquino dan Fidel Ramos yang menyatakan dukungannya
terhadap penyelenggaraan pemilu yang jujur dan adil di Indonesia. Untuk
membantu kegiatan pemantauan di Indonesia, Namfrel berjanji mendatangkan 200
ahli pemantauan yang mereka miliki untuk disebar di berbagai wilayah Indonesia.

Hanya saja, dalam pertemuan itu belum ada kesepakatan di antara para
pemantau pemilu dalam negeri untuk melakukan koordinasi lantaran persiapan
teknis dari masing-masing pemantau berada dalam tahap yang berbeda-beda.
Sehingga sulit menyamakan langkah. Padahal, persoalan ini semestinya
dibicarakan secepatnya agar tidak terjadi tumpang-tindih pekerjaan. Atau
lebih buruk lagi, penilaian terhadap pemilu akan berbeda-beda sehingga
membingungkan masyarakat. Sekjen KIPP Mulyana W. Kusumah mengusulkan, bila
sulit berkoordinasi dalam tingkat teknis, sebaiknya para pemantau pemilu
menyepakati standar minimum kecurangan pemilu. Supaya penilaian takkan
terlalu bias. Nah, silakan berembuk. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke