Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 03/II/28 Januari-3 Februari 99
------------------------------

AKSI PREMAN CENDANA

(POLITIK): Ambon terbakar, dan sejumlah preman dituding sebagai provokator
kerusuhan. Nama Yorrys Raweyai ikut disebut-sebut.

Kerusuhan masih membakar seluruh negeri. Di bulan Ramadhan kemarin, yang
mestinya saat-saat menahan amarah, amuk massa merebak di mana-mana. Di awal
Ramadhan, kerusuhan meledak di Karawang, Jawa Barat, gara-gara seorang
tukang ojek di pukul polisi setempat. Di beberapa kota di Jawa malah terjadi
tawuran antar kampung hanya karena soal-soal sepele. 

Belakangan, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri, 19-20 Januari lalu, pecah
kerusuhan dahsyat di Ambon, ibukota Propinsi Maluku. Kerusuhan itu dipicu
hal sepele saja. Ceritanya, pagi itu Jopie Saiya, warga Desa Batumerah Atas
yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir angkutan umum, diperas seorang
preman asal desa tetangganya: Desa Batumerah Bawah. 

Tak senang dengan perlakuan itu, Jopie mengadukan soal itu kepada
kawan-kawannya. Maka, siang itu, puluhan pemuda Batumerah Atas menyatroni
desa tetangganya itu. Kawanan itu pun disambut para pemuda Desa Batumerah
Bawah. Perkelahian pun tak terhindarkan. 

Kabar tentang perkelahian itu dengan cepat merebak ke seantero kota Ambon.
Tapi, entah siapa yang meniupkan, kabar tersebut sudah dibumbui isu tentang
pembakaran gereja dan mesjid. Dan, sebentar kemudian, kerusuhan meledak di
sebagian penjuru kota. Situasi Ambon tak ubahnya kota yang dilanda perang,
berantakan dimana-mana. Bahkan, kerusuhan meluas sampai ke Pulau Seram dan
Sanana, Maluku Tenggara. Aparat keamanan yang datang terlambat, baru mampu
meredakan keadaan seminggu kemudian.

Akibatnya, korban pun berjatuhan. Sampai pekan lalu, tercatat 52 orang tewas
dan 105 luka berat (termasuk tiga orang polisi). Sebagian yang tewas adalah
warga Ambon yang beragama Islam, sebagian lagi warga Kristen. Selain itu,
476 rumah hangus dibakar, begitu pula 82 kios, 3 pasar, 2 bank, sebuah
penginapan dan bioskop, 22 mobil, 25 sepeda motor, dan 216 becak. Kerugian
material akibat kerusuhan ditaksir sekitar Rp500 milyar lebih. 

Bagi warga Ambon, kerusuhan berbau rasial itu terasa mengejutkan. Sebab,
selama ini hampir tak pernah terjadi kerusuhan seperti itu. Paling-paling
hanya perkelahian atau peristiwa kriminal biasa. Selama ini kerukunan
beragama hidup kuat masyarakat Ambon, bahkan diabadikan dalam budaya pela
gandong yang termasyhur itu.      

Tak heran, bila kemudian muncul kecurigaan ada "orang luar" yang bermain
dalam kerusuhan rasial di Hari Lebaran tersebut. Yusuf Eli, salah seorang
tokoh masyarakat Ambon, misalnya, menyebut-nyebut sekitar 600 preman asal
Jakarta yang sengaja didatangkan memprovokasi kerusuhan. Mereka ini datang
secara bergelombang, menyusul Kerusuhan Ketapang, beberapa waktu lalu. 

Soal provokator itu sempat pula disinggung Panglima Kodam Trikora, Mayjen
Amir Sembiring. Ia mengatakan, sebelum kerusuhan, aparat intelijen telah
mendeteksi kegiatan kelompok kecil yang berlatih menggerakkan massa. Sayang,
Sembiring tak mengungkapkan siapa saja orang-orang yang terlibat dalam
kelompok tersebut. 

Keterangan lebih jelas malah datang dari Abdurahman Wahid, Ketua Umum PBNU.
Menurut Gus Dur, penggerak kerusuhan Ambon adalah anak buah preman asal
ibukota yang tinggal di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. Meski tak
menyebut nama, tudingan Gus Dur itu agaknya mengarah ke Yorrys Raweyai.
Soalnya, rumah Ketua DPP Pemuda Pancasila itu memang berada di wilayah
Ciganjur -tak jauh dari kediaman Gus Dur sendiri. Di kawasan yang sama
bermukim pula senior Yorrys, Ketua Umum Pemuda Pancasila: Yapto Suryosumarno. 

Menurut Gus Dur lagi, para preman tadi datang ke Ambon menjelang lebaran,
seolah-olah mudik. Tapi, sesampai di Ambon mereka malah merancang kerusuhan
yang meresahkan rakyat Ambon. 

Benarkah tudingan itu? Yorrrys sendiri mati-matian membantah keterlibatannya
dalam kerusuhan Ambon. "Saya sendiri baru tahu kerusuhan itu setelah baca
koran," tegas Yorrys. Ia juga membantah keterlibatan aktivis Pemuda
Pancasila di Ambon, sebab selama ini kegiatan organisasi pemuda tersebut di
Maluku bisa dibilang vakum.  

Tudingan ke arah Yorrys itu memang ada alasannya. Selama ini, tokoh preman
ini memang dikenal dekat dengan keluarga Cendana. Padahal, isu yang merebak
kemana-mana mensinyalir kekuatan politik pro-Cendana lah yang berperan
dibalik berbagai kerusuhan belakangan ini. 

Tapi, tunggu dulu, ada versi lain tentang provokator kerusuhan Ambon tadi.
Menurut sebuah sumber, tokoh preman yang dimaksud bukanlah Yorrys, melainkan
Ongen Sangaji. Tokoh terakhir ini dikenal sebagai preman yang disegani di
kawasan Cawang, Jakarta Timur. 

Sepak terjang Ongen dalam berbagai "kegiatan politik" sudah lama dipantau
pihak intelijen. Yang terakhir, Ongen -yang juga aktif di Ikatan Pemuda
Muslim Maluku- itu terlibat dalam pengerahan massa Pam Swakarsa untuk
"mengamankan" Sidang Istimewa MPR, November tahun lalu. Empat anggota Pam
Swakarsa yang tewas dikeroyok massa di kawasan Cawang, tak lain anak buah
Ongen Sangaji. 

Tapi, sampai saat ini memang belum jelas betul siapa dalang penggerak
kerusuhan Ambon. Aparat keamanan memang mengaku sudah membekuk puluhan
provokator kerusuhan. Namun, seperti biasa, polisi tak mau menjelaskan
identitas orang-orang tersebut. 

Karena itu, banyak kalangan pesimis soal sebab kerusuhan itu bisa diusut
tuntas. Paling-paling perkara ini akan berakhir dengan puluhan kasus
kerusuhan lainnya -Kerusuhan Mei, Insiden Ketapang, atau Tragedi Banyuwangi:
digantung, lalu dilupakan begitu saja. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke