Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 04/II/4-10 Februari 99
------------------------------

DUIT IMF UNTUK GOLKAR

(POLITIK): Maret nanti, Rp 12 triliun dana Jaring Pengaman Sosial harus
sampai di tangah masyarakat. Akan banyak yang bocor dan jatuh ke pendukung
pemerintah.

Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) akan menerima berkah besar-besaran.
Lebih-lebih menjelang Maret nanti, batas yang ditetapkan IMF untuk
penyaluran dana Perluasan Jaring Pengaman Sosial (PJPS), para pengurus LKMD
dan "kroni-kroninya" akan kebanjiran duit. Di tingkat pelaksanaan, LKMD
memang memegang peran penting dalam menentukan siapa saja yang bisa
memperoleh bagian dan berapa dana yang akan dikucurkan.

LKMD punya wewenang mengajukan permintaan dana. Cairnya dana pun tak susah,
karena hanya melalui beberapa tahapan. Dana pun dalam waktu singkat akan
singgah di rekening Ketua LKMD melalui Bank Rakyat Indonesia  atau Bank Pos.
Nah, LKMD akan akan membagi-bagi dana itu kepada kelompok-kelompok
masyarakat atau perorangan atau kontraktor yang akan mengerjakan
proyek-proyek yang telah disusun. "Di wilayah LKMD ini hingga ke tingkat
kecamatan, dana triliunan rupiah itu rawan korupsi," ujar seorang aktifis
lembaga swadaya masyarkat (LSM). 

Penggelembungan biaya untuk proyek-proyek padat karya pun tak usah kaget
jika akan banyak terjadi. Di tingkat LKMD inilah, praktek-praktek koncoisme
alias kroniisme akan banyak terjadi. Ada ratusan ribu LKMD yang akan
memperoleh kewenangan mengelola dana. Nah, siapa yang bisa mengawasi
perputaran dana di ratusan ribu desa itu? JPS pun, nampaknya tak
mengalokasikan dana untuk melakukan auditing. 

Kebocoran lain bisa terjadi ketika Badan Perencana Pembanguna Daerah, Bupati
atau Walikota menunjuk konsultan yang akan memperoleh bayaran ratusan juta
rupiah. Nah, kongkalikong akan mudah terjadi di sini. Konsultanya pun, yang
ditunjuk dari LSM setempat,  bisa saja dipilih LSM plat merah alias LSM yang
dibentuk pemerintah sendiri.

Sekarang repotnya, siapakah LKMD yang memegang penuh kendali dana JPS ini?
LKMD di masa Orde Baru tak lebih dari perpanjangan tangan Golkar di
desa-desa. LKMD merupakan organisasi desa yang dibentuk oleh lurah atau
kepala desa. Sudah jadi rahasia umum, ketua LKMD biasanya dari unsur Golkar
setempat, pegawai negeri atau anggota ABRI, biasanya Bintara Pembina Desa.
Untuk pengelolaan ini pengurus LKMD bukannya tak memperoleh fee. LKMD pun,
sesuai petunjuk pelaksanaan dari Badan Perencana Pembangunan Nasional
(Bapennas), akan melakukan pertemuan-pertemuan secara berkala dengan
kelompok binaan sepanjang berlangsungnya program itu. 

Nah, di sinilah letak rawannya money politic alias politik uang itu.
Masyarakat desa dan kaum miskin kota yang menerima bantuan kredit tanpa
bunga yang jumlahnya akan mencapai puluhan juta di seluruh Indonesia, akan
tergalang secara bagus. Jadi, para pengurus LKMD yang tak lain adalah para
kader Golkar, tinggal menyentil saja jika pemilihan umum sudah dekat.
"Golkar jadi punya media penggalangan massa yang efektif," ujar aktifis LSM
tadi.

Dana JPS ini ada dua macam yakni dana hadiah dan pinjaman lunak. Dana yang
berupa hadiah digunakan untuk membangun prasarana dan membayar upah
masyarakat yang akan dipekerjakan dalam proyek itu. Dana kedua berupa
pinjaman lunak tanpa bunga untuk orang-orang miskin, misalnya kepada penjual
bakso, pedagang kaki lima dan sebagainya.

Dulu, maksud IMF baik adanya. Para ekonom di lembaga dana internasional itu
sadar, krisis ekonomi dan politik yang  makin gawat akan mengacaukan negeri
ini. Nah, kalau negeri ini banyak orang miskinnya, kekacauan gampang muncul
dan itu sudah terbukti. Kalau terus-menerus kacau, program penyelematan
ekonomi IMF bisa berantakan karena investasi asing tak mau masuk karena
takut dibakar massa. Itu sudah diakui IMF. Makanya, untuk mencegah kegagalan
menjadi makin besar, IMF segera memaksa Indonesia untuk membagi-bagi dana
itu yang baru disalurkan 30 persennya.

Walhasil, program pun disusun, juklak dibuat, 27 LSM ditunjuk untuk jadi
pendamping atau diminta menyalurkan dana itu di kelompok-kelompok masyarakat
binaan LSM-LSM itu. Kalangan LSM pun pesimis program pemberdayaan ekonomi
rakyat kecil ini bisa berhasil, mengingat pemerintah sebenarnya tak punya
pengalaman dalam membina dan memberdayakan masyarakat. Keikutsertaan LSM
dalam program ini nampaknya hanya dipakai agar mengesankan bahwa pemerintah
akan bertindak jujur dalam mengelola dana itu. Nyatanya, LSM-LSM itu hanya
memperoleh porsi yang amat kecil. Sebagian besar dana memang dikuasai
ratusan ribu LKMD di seluruh Tanah Air. Kendati sudah kecil, namun sejumlah
LSM yang sudah ditunjuk jadi pelaksana program ini tak kunjung menerima dana
dari Bapennas. "Kami tak tahu mengapa dana itu tak kunjung turun, padahal
katanya, Maret nanti programnya harus sudah jalan," ujar salah seorang
aktifis LSM yang ditunjuk itu.

Nampaknya, IMF dan Bank Dunia yang memasok dana itu tak begitu peduli,
apakah dana JPS itu akan dikorupsi atau dipakai untuk politik uang. Bagi
mereka yang penting dan itu tersalur, rakyat miskin bisa bernafas lega dan
target perbaikan ekonomi Indonesia bisa berhasil. Mungkin saja mereka tak
tahu, bahwa di tingkat bawah, dana mereka digunakan oleh kader-kader Golkar
untuk membeli suara agar Golkar tak hanya mampu merebut 30 persen suara,
melainkan bisa menang lebih dari 50 persen. Atau siapa tahu IMF dan Bank
Dunia mendukung Golkar. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke