Precedence: bulk
Hersri Setiawan:
TENTANG NAMA: TRAGEDI YANG DINIKMATI
(renungan untuk ni wara dan ki wira demang) [1]
Pengantar
TULISAN ini tidak bersemangat pribadi, walaupun anak judul
di atas aku tujukan pada dua pribadi. Begitu juga muatan pesan
yang hendak disampaikan, bukannya suatu perkara yang dengan
semangat demikian.
Ini sebuah catatan tentang salah satu pengalaman dari
hidup orang bermasyarakat belaka. Katakanlah, catatan tentang
persinggungan-persinggunganku dengan sesama anggota masyarakat
itu. Masing-masing kita mau atau tidak mau, sadar atau tidak
sadar, merupakan hasil dari kehidupan masyarakat yang panjang
turun-temurun.
Jadi surat ini ditulis atas dasar pengalaman pribadi,
namun tidak untuk membicarakan tentang pribadi-pribadi. Tapi
tentang alam pikiran dan dunia batin masyarakat yang
melahirkan pribadi-pribadi itu.
Aku mulai dengan dongeng pertama:
Dongeng I
Tentang Notula Rapat
PADA suatu hari aku menerima undangan rapat. Karena
berbagai sebab aku mangkir. Tapi, sebelum rapat berlangsung,
pendapat-pendapat dan saran-saranku sudah kusampaikan pada
pemrakarsa. Baik liwat jalan telpon maupun jalan "sulis" (apa
akronim yang bagus untuk "surat listrik" sebagai padanan
"email"?). Begitu menguntungkan kemudahan sarana teknologi
mutakhir itu, bukan?
Tidak lama waktu berselang aku menerima semacam notula
rapat yang tak lengkap. Tak lengkap, karena hanya berupa
kiriman daftar nama-nama yang hadir pada rapat itu. Aneh
sebenarnya! Sebuah notula, walaupun sengaja atau tak sengaja
dibuat sebagai notula tidak lengkap, tentu lebih tepat jika
mengambekparamartakan berita tentang apa-apa yang diputuskan
rapat. Sedangkan berita tentang siapa saja yang hadir, atau
tentang segala apa lain-lainnya, merupakan butir-butir nomor
sekian. Tapi memang begitu, dan itu sajalah yang aku terima.
Masih ada yang lebih aneh lagi!
Berita itu mencantumkan nama-nama peserta rapat, ditulis
rapih berderet dari atas ke bawah. Tidak berurut menurut
urutan abjad, tapi mungkin atas dasar selera atau seingat si
penulis notula itu. Masing-masing nama mendapat nomor urut
dari angka 1 (satu) sampai dengan, sebut saja sebuah bilangan,
misalnya 12 (dua belas). Namaku tercantum pada baris urutan
terbawah, di belakang angka 12, disusul keterangan pendek
tentang ketidak-hadiranku dan alasanku mengapa tidak hadir.
Ni Wara dan Ki Wira,
Hampir semua nama yang mendapat nomor itu semuanya nama
laki-laki dan perempuan yang dikenal sebagai lajang. Tapi,
perhatikan baik-baik, ada dua nomor dari dua nama yang disusul
dengan nama-nama perempuan. Tidak mendapat nomor sendiri dua
nama perempuan itu, karena masing-masing tentu saja istri dari
dua laki-laki yang namanya tertulis di depan. Juga tidak ada
kata penghubung "dan", yang menyatakan kesetaraan, tertulis di
antara nama laki-laki dan perempuan yang saling terkait itu,
melainkan sebuah tanda baca "titik koma" saja. Embel-embel!
Harap diketahui, ya saudara-saudaraku. Rapat ini bukan
rapatnya para anggota Korpri KBRI di Den Haag. Bukan! Selain
itu rapat ini sebuah rapat kerja, paling tidak begitu
pretensinya, dan bukan sekedar pertemuan silaturahmi mamah-
ramah, di mana para laki-laki serimbit menggandeng istri atau
pacar. Kedua perempuan itu hadir sebagai pribadi, membawa
tubuh sendiri dengan pendirian dan pendapat sendiri. Tapi
karena kedua-duanya adalah "hanya" istri, maka kehadiran
mereka itu menjadi tidak diakui sebagai menampak. Mereka tidak
mendapat nomor, walaupun nomor penghabisan sekalipun!
Sebaliknya nomor penghabisan itu justru diberikan kepadaku.
Ya, aku yang tidak hadir!
Itulah contoh paling jelas tentang alam pikiran dan dunia
batin laki-laki kita. Notabene dunia laki-laki aktivis yang
sanggup bicara berkobar dan panjang lebar tentang demokrasi!
Sadar atau tidak sadar ternyata mereka masih menganut atau
dikuasai paham, seperti dinyatakan dalam syair lagu seriosa
gubahan Ismail Mz. "Wanita":
"Diciptakan alam pria dan wanita,
dua makhluk jaya asuhan dewata;
ditakdirkan alam pria berkuasa,
adapun wanita lemah lembut manja.
Wanita dijajah pria sejak dulu,
dijadikan perhiasan sangkar madu;
namun ada kala pria tak berdaya,
tekul lutut di sudut kerling wanita."
Paham, bahwa perempuan sekedar, pinjam istilah Simone de
Beauvoir, "le deuxi�me sexe". Makhluk klas kambing, yang
terbikin dari sempalan tulang rusuk laki-laki belaka. Bahwa
perempuan ialah makhluk yang lemah dan tolol (baca: Sarinah,
Bung Karno), yang tidak patut mengenal neraka apalagi surga,
kecuali jika dia perempuan yang beruntung. Perempuan baru akan
beruntung, yaitu jika ada laki-laki yang sudi memilikinya.
Sehingga dengan begitu perempuan tersebut akan terbawa (katut)
oleh laki-laki pemiliknya, atau jika ada sang suami, yaitu
laki-laki yang sudi dinunuti olehnya. Perempuan, seperti
pernah kutulis hampir 20 tahun yang lalu (Prisma, Juli 1981),
ibarat "awan th�kl�k bengi l�m�k". (Kakang Demang ketika itu
komentari: "Wah, judulnya kok provokatif, Dhi Lurah!?" Ingat
Kakang?)
Maka inilah pertanyaanku yang pertama: Bukankah dongeng
di atas itu sebuah lakon tragedi, yang justru dinikmati oleh
si protagonis?
Dongeng II
Tentang Sebuah Kartunama
Ni Wara dan Ki Wira,
PADA suatu hari aku bertemu seorang perempuan muda. Bukan
kenalan baru perempuan ini bagiku, dan juga bukan sekedar
"tepung kebo" kita saling mengenal. Ni Wara dan Ki Wira masih
tahu istilah "tepung kebo"? Sinonim kata ini "tepung celathu",
yaitu pengenalan selintas lalu seperti antar-orang
seperjalanan. Hanya saling bertukar sapa: "ni hao?", lalu:
"zai jian!".
"Lihat kartunamaku yang baru!" Kata perempuan itu sambil
memberikan selembar kartunama padaku. Wajahnya merah berseri,
memancarkan kegembiraan dan kebanggaan.
"Terimakasih!" Jawabku.
Kuamat-amati kartunama itu. Apanya yang baru, aku tidak
tahu. Karena kartunya yang lama tidak pernah aku menerimanya.
Mungkin kertasnya yang berwarna lembut dan berbau melati, dan
huruf-huruf serta tata cetaknya yang bergaya tulisan prasasti
kuno? Tapi, andaikata pun begitu, apa istimewanya? Karena
hampir semua "orang kota", walaupun tidak selalu tinggal di
kota, mengantongi kartunama di sakunya. Masing-masing tampil
menurut selera keindahan sendiri-sendiri.
Ah! Barangkali perempuan muda ini, ibarat rama-rama muda
yang baru keluar dari kepompong. Pikirku. Kartunama selain
mengandung gawai atau fungsi yang bersifat "gesellschaftlich",
juga mempunyai nilai kadar yang bersifat "gemeinschaftlich".
Kartunama, bagi yang bersangkutan, juga merupakan semacam
pernyataan kehadiran (eksistensi) dan kejatidirian (identitas)
sekaligus.
Maka kuamati huruf-huruf dan kata-kata yang tercetak pada
kartunama perempuan muda itu. Tertera di sana alamat pos,
nomor telpon dan faks, serta alamat sulis. Di atas semuanya
itu, dengan huruf-huruf bermodel "aristokrat" dan dalam
"point" yang lebih besar, terbaca namanya yang lengkap.
Panjang seperti lazimnya anak-anak Indonesia yang lahir
sesudah perang, atau nama-nama priyayi baru Indonesia, atau
nama-nama permandian Jawa (Orde) Baru yang dipungut oleh orang-
orang (maaf!) Kasno alias "Bekas Cino".
Nama yang panjang pada kartunama itu masih diperpanjang
lagi dengan "nama keluarga" suaminya (untungnya [atau justru
celakanya?] tanpa "nama keluarga" orangtua sendiri), dan
ditutup dengan gelar kesarjanaannya. Ya, begitulah. Perempuan
ini orang Indonesia, yang bersuami laki-laki Indonesia juga.
Tapi dalam hal menuliskan namanya, setengah berepigon pada
tatacara Barat atau Arab.
Tak kusadari aku menarik napas dalam-dalam.
Mengapa perempuan ini tidak berani tampil sebagai pribadi
sendiri, melainkan merasa perlu harus dikawal "sang suami"?
Mengapa nama orangtua sendiri, yang tanpa mereka dirinya
sendiri tidak akan pernah ada, malah tidak dicantumkannya?
Lalu gelar kesarjanaan itu! Apa hubungan pengakuan prestasi
ilmiah dari sesuatu universitas yang diberikan kepadanya itu
dengan keberadaan "sang suami"? Apalagi ketika gelar
kesarjaaan itu diraihnya, ia belum "diperistri" (sengaja
kupakai kata berawalan pemasif "di") oleh laki-laki itu!
Maka inilah pertanyaanku yang kedua: Bukankah dongeng di
atas itu sebuah lakon tragedi, yang justru dinikmati oleh si
protagonis?
Dongeng III
Istriku Ikut Arisan
PADA suatu sore hari istriku pergi. Menghadiri undangan
Arisan Ibu-Ibu se-RT. Ketika itu kami masih tinggal di salah
satu rumah, di Jalan Tebet Timur Dalam Gang L nomor 31 Jakarta
Selatan. Arisan itu diadakan sekali setiap satu bulan.
Tempatnya berganti-ganti. Yaitu di rumah keluarga yang, pada
pertemuan sebelumnya, memenangkan undian arisan.
Rumah kami juga pernah mendapat giliran. Sebanyak
duapuluhan lebih ibu-ibu jika hadir semua. Tapi dua kali jatuh
pada giliran di rumah kami, belum pernah lebih dari sepuluh
yang hadir. Tentu bukan karena rumah kami yang kecil, atau
karena perabotannya yang serba kampungan. Tapi pastilah
karena, seperti diceritakan istriku dalam memoarnya yang
berjudul "Selamat Tinggal Indonesia"[2] itu, mereka takut
ketularan "Virus Buru" yang terkenal keliwat ganas. Tidak
salah mereka. Suami istriku memang ET keluaran Pulau Buru!
Karena itu kami tidak pernah lagi mau menyediakan tempat. Tapi
pinjam tempat Ibu Su�b, tetangga di kiri, atau Ibu Junaedi,
tetangga di kanan. Walaupun hidangan makanan dan minuman tetap
kami yang menyediakannya.
Senja hari itu arisan diadakan di rumah Pak Haji.
Begitulah kami sekampung biasa menyebutnya. Kepala rumah
tangga tempat arisan memang seorang haji, penganjur Parmusi
(ketika $uharto belum men-sterilisasi parpol ini dan
meleburnya dalam PPP), dan pensiunan diplomat. Ia, pada awal
tahun 60-an, pernah dinas di bagian sandi KBRI di Beijing.
Konon ketika itulah ia pernah bertemu denganku. Begitu ia
bercericau pada tetangga, dalam bulan-bulan pertama sesudah
September 65, ketika Jakarta sedang dilanda keranjingan
"budaya" tumpas kelor terhadap kaum komunis dan sukarnois.
Arisan kali itu dihadiri hampir semua anggota. Orang
takut agaknya menjauhi tokoh yang didesas-desuskan sebagai
informan Kalong[3] itu. Di sini, dalam hubungan dengan "Cap
G30S-PKI", nasihat pepatah Jawa "aja cedhak kebo gupak",
jangan mendekati kerbau yang kotor, sama sekali tidak berlaku.
Karena yang berlaku justru yang sebaliknya: orang beramai-
ramai ingin pamer tentang kedekatannya pada "kebo gupak" itu.
Beda dengan arisan di tempat-tempat lain sebelumnya, yang
tidak pernah dihadiri suami, kali ini Pak Haji ikut ambil
bagian dari sejak pidato selamat datang sampai pidato penutup
ucapan terimakasih. Juga menyimpang dari kebiasaan sebelumnya,
pada pidato pembukaannya Pak Haji membacakan daftar hadir.
Satu demi satu nama ibu-ibu diserukan, yang disahut dengan
acungan telunjuk jari yang bersangkutan.
Istriku dalam hati bertanya-tanya. Karena menurut daftar
hadir yang ditulisnya, namanya sudah harus disebut sesudah
"ibu Junaidi" dan sebelum "ibu Su�b". Ia sudah berdiri,
berniat protes dan meninggalkan arisan, ketika tiba-tiba ruang
arisan menjadi agak riuh.
"Jitske!" Kata Ibu Jun menahannya, sambil menarik lengan
Jitske.
"Namamu dipanggil. Jawab dong!" Seru ibu-ibu yang lain.
"Nama saya? Tidak, saya tidak mendengar!"
"Sudah. Pak Haji tadi sudah memanggilmu!"
"Siapa dipanggil? Saya? Jitske?" Protes istriku.
"Bukan. Ibu Hersri. Itu kan nama suamimu?!" Ibu-ibu
beramai-ramai mempertahankan Pak Haji mereka.
"Nah! Jadi, bukan namaku toh?! Aku punya namaku sendiri.
Lihat saja daftar absen tadi, aku tulis dengan nama siapa!
Atau sudah dicoret dan diganti?!"
Pak Haji tunduk. Menyembunyikan malu ke pangkuan sendiri.
"Lagi pula ini katanya arisan ibu-ibu? Apa urusannya laki-
laki hadir di sini?"
Ruangan tamu Pak Haji akhirnya reda dengan suara. Tapi
seperti menjadi sesak oleh mendung perasaan. Dalam suasana
berat itu arisan berakhir. Pak Haji mengucapkan pidato basa-
basi penutupan. Atasnama pribadi, istri dan anak-anaknya
menyampaikan terimakasih pada ibu-ibu yang hadir. Sekali lagi
nama-nama ibu-ibu disebut, kecuali nama istriku. Tidak sebagai
Jitske Mulder, tidak sebagai Ibu Hersri.
Maka inilah pertanyaanku yang ketiga: Bukankah dari
gugatan Jitske Mulder itu kita menangkap sebuah sebuah lakon
tragedi, yang justru dinikmati oleh si protagonis?
Dongeng IV
Sekitar Kartini
PADA suatu ketika aku dibikin merenung oleh judul salah
satu buku karya tua Pramoedya Ananta Toer: Panggil Aku Kartini
Sadja. Walaupun judul yang imperatif itu ditulis tanpa
diakhiri dengan tanda pentung, namun aku menangkap nada protes
daripadanya. Nada gugatan. Tentu saja gugatan ala priyayi Jawa
dari akhir abad ke-19.
Aku lalu ingat syair pujaan untuk Kartini, yang digubah
menjadi lagu oleh Wage Rudolf Supratman. Judul semula lagu
ini, dan juga kalimat pertamanya, berbunyi "Raden Ajeng
Kartini". Aku belajar menyanyikan nyanyian ini ketika masih
kanak-kanak di desa Brosot, sebelum bersekolah, dari pembantu
rumah tangga kami Mbak Kustinah namanya. Ia memang suka
menyanyi. Jika terkadang belakangan hari ia kuingat kembali,
sungguh sangat menarik dan mengherankan. Wajahnya yang selalu
menyungging senyum, dan suaranya yang bening merdu ... Ya,
bagaimana gadis desa yang tidak pernah "makan sekolahan" itu,
pandai menyanyikan lagu-lagu dalam nada doremi (septatonik),
bukannya nada-nada jirolu (pentatonik), tanpa sumbang? Dan
perbendaharaan lagu yang dipunyainya lebih mengherankan lagi!
Lagu-lagu dari jaman awal pergerakan kebangsaan, seperti -
selain "Raden Ajeng Kartini" tersebut - "Prangko Amal" (yaitu
lagu kampanye gerakan amal jariah Muhammadiyah, ketika
mendapat ijin pemerintah Hindia Belanda mencetak dan
mengedarkan perangko), "Mars Gerindo" (gubahan siapa, Kakang
Demang tahu?), "Mars Surya Wirawan", "Lily Marlene"[4], "Di
Timur Matahari" dan versinya "Jempol Indonesia"[5], serta
beberapa lagi lagu-lagu sejaman dan semacamnya.
Aku pun suka dan sering menyenandungkan lagu "Raden Ajeng
Kartini" itu. Entah sejak kapan tepatnya, dan oleh perintah
siapa, hafalanku syair lagu ini tanpa kusadari telah menjadi
"Ibu Kita Kartini". Aneh ya? Menyimpang dari proses sosial
yang dialami pribadi Kartini itu sendiri: dari "raden ajeng"
langsung ke "ibu", tanpa melalui fasa dan kurun sebagai "raden
ayu".
Coba silakan renung! Apakah karena kurun waktu sebagai
raden ayu yang terlalu pendek, karena Kartini segera "seda
kunduran" seketika ia melahirkan bayinya? Ataukah karena fasa
sosial sebagai raden ayu berarti memasuki fasa menjadi "l�m�k"
dan "th�kl�k" laki-laki, sehingga tidak semestinya perempuan
diberi tempat? Atau, apakah karena alasan sederhana saja:
gandrungnya masyarakat Indonesia pada semangat demokrasi? Tapi
andaikata demi semangat demokrasi, mengapa toh "Ibu kita
Kartini" dan bukan "Wahai engkau Kartini", misalnya?
"Ibu"! Ki Wira, terutama engkau Ni Wara, mari bersama-
sama direnung. Apa arti sosial yang dikandung di dalam istilah
ini, selain "sekedar" (yang dalam konteks suasana demokrasi
sebenarnya tidak "sekedar"!) sebagai honorefik prefiks?
Sebutan "nyonya" dan "ibu", sebenarnya gambaran tentang
peranan perempuan yang bersangkutan. Pada "nyonya"
terbersitlah pesan, bahwa peranan perempuan sebagai "kanca
estri" (kawan perempuan) telah habis, dan diganti dengan peran
sebagai "kanca wingking" alias "kawan belakang" - sebuah
ungkapan yang contradictio in terminis: katanya "kawan" kok
ditempatkan di belakang! Nasib perempuan yang begini ini lebih
celaka dari nasib perempuan masyarakat Buru yang nomadis. Di
sana perempuan dipandang sebagai harta paling mulia, sehingga
karenanya justru selalu berjalan di depan laki-laki, dan
dikawal dengan kelewang dan tombak.
Pesan yang hendak dikatakan dalam sebutan "ibu" lebih
buruk lagi. Yaitu bahwa perempuan yang bersangkutan sudah
tidak mempunyai peranan apa-apa lagi! Tidak sebagai pribadi
sendiri, tidak pula sebagai "kanca istri", dan bahkan sebagai
"kanca wingking" sang suami pun tidak. Ia tinggal berperanan
sebagai "ibunya anak-anak". Itu pun hanya dalam sebutan.
Karena dalam praktek kehidupan, peranan "ibunya anak-anak" itu
bisa diganti oleh bibi pembantu, babysitter, atau rumah
penitipan anak-anak!
Maka inilah pertanyaanku yang keempat. Bukankah dari
dongeng "Sekitar Kartini" di atas, kita menangkap sebuah lakon
tragedi, yang justru dinikmati oleh si protagonis?
Tragedi itu, jika kita berhenti pada mendengar dan
melihat akibatnya yang menyedihkan saja, memang lebih banyak
dan lazim disifatkan pada kisah melodrama dunia perempuan.
Tapi jika kita "membaca apa yang tersirat di balik yang
tersurat", maka si laki-laki (suami) itu sendirilah yang
sesungguhnya menjadi sumber akibat. Justru dia itulah yang
hiidup dalam cengkeraman dunia tragedi[6], sebagai buah dari
obsesi kelaki-lakiannya yang hampa: adigang (sok kuasa),
adigung (sok-mulia), dan adiguna (sok-pintar).
Penutup
Ni Wara dan Ki Wira,
ORANG suka berlindung di balik perisai kata-kata puitis
Shakespeare. Tapi tanpa pernah merenungi butir kandungan
isinya, melainkan sekedar berlatah-latah mengunyah-kunyah
permen karet. Kata-kata yang kumaksud ialah ucapan Juliet
dalam Romeo and Juliet (II.II:43-44) ini:
"What's in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;"
Bacalah dan camkan inti makna kalimat pertama itu, baru
kemudian pahamilah kalimat kedua. Jangan dibalik! Karena
hubungan antara dua baris kalimat itu adalah hubungan antara
pokok dan keterangan, bukan seperti hubungan antara sampiran
dan isi dalam pantun.
Juliet (baca: Shakespeare) bukan bersoal dengan bentuk
lahiriah, tapi sebaliknyalah: dengan hakikat. Apa hakikat di
balik "mawar"? Apa hakikat di balik Romeo! Kalau hakikat itu
sudah tertangkap, maka sebutlah apa saja. Sama halnya seperti
orang Jawa lalu punya pemeo "lumah kurebing godhong suruh, y�n
ginugut padha rasan�" - dua sisi daun sirih (yang beda warna
itu), jika dikunyah sama saja rasanya. Atau ingatlah Ki Ageng
Bringin Suryamataram yang memberi nama pada ilmu hakikat
ajarannya dengan "seenaknya saja": Kawruh Be[g]ja.
Ada satu hal yang dalam hubungan ini perlu diperhatikan.
Kosakata bahasa Jawa yang melimpah dengan kata pinjaman dan
kata jadian dari khazanah bahasa "Sanskerta itu, justru
tentang perihal yang pokok ini mampu mempertahankan kosakata
sendiri. Orang Indonesia (Melayu) punya istilah "nama, yang
dipinjam dari Sanskerta, orang Barat pinjam dari Latin
"nomen", tapi orang Jawa mempunyai istilah miliknya sendiri:
"jeneng" atau "aran". Makna atau kandungan isinya pun jelas
dan tegas.
"Jeneng" ialah pokok atau "jejer" - subjek. Karena itu
juga berarti "adeg-adeg", yaitu tanda baca pada tulisan huruf
Jawa dan ditulis pada awal kalimat, yang berbentuk dua garis
tegak sejajar. Perhatikan itu: dua garis tegak sejajar! Dalam
paramasastra Jawa "tembung aran" ialah kata benda atau nomina,
yaitu kata yang menyatakan tentang benda berwujud atau
dianggap berwujud ...
***
Bangsa Jawa sejatinya bangsa yang sadar benar akan jati
diri sendiri. Bangsa yang sangat individualis, kata almarhum
Ruth Havelaar. Bagaimana bangsa yang berkualitas batin
demikian, kemudian menjadi tidak kenal praktik demokrasi - ini
perkara lain yang perlu dikupas dan disoroti.***
Keterangan:
1. Istilah "wara" dan "wira", sebutan panggilan anjuran Jawa
Dipa; "wara" untuk perempuan, dan "wira" untuk laki-laki.
Bandingkan dengan "ni" atau "nyi" dan "ki" bagi Keluarga Taman
Siswa; atau "zus" dan "bung" bagi kalangan kaum pergerakan
kebangsaan. Semuanya itu akhirnya hilang dilanda arus
tatakrama Orde Baru Jendral $uharto: "Bapak" dan "Ibu".
2. Selamat Tinggal Indonesia, 1995(i); versi Indonesia dari
Quartering, 1991; Inkwartiering, 1992(i).
3. Operasi Kalong, dinas intel TNI Angkatan Darat, dalam
gerakan penumpasan kaum komunis dan demokrat Indonesia sesudah
Peristiwa 30 September 1965.
4. Syair lagu Lily Marlene: Oh beginilah nasibnya soldadu /
diosol-osol dan diadu-adu / Tapi biar tidak apa / asal untuk
negri kita / naik dan turun gunung / hijrah pun tak bingung //
Lagu ini konon berasal lagu Perancis, juga diberi syair dalam
dua bahasa lainnya: Sunda dan Belanda.
5. Syair lagu Jempol Indonesia: Jempol indonesia / i-er
Sukarno / pandu indonesia / de-er sutomo / bapak indonesia /
ki dewantoro / jago indonesia / diponegoro //
6. Tragedi dari kata Yunani "tragoidia"; "tragos" = bandot
(kambing jantan), "oidia" = menyanyi.
(kambing jantan), "oidia" = menyanyi.
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html