Precedence: bulk


Hersri Setiawan:

             TENTANG NAMA: TRAGEDI YANG DINIKMATI
             (renungan untuk ni wara dan ki wira demang) [1]

                           Pengantar

      TULISAN ini tidak bersemangat pribadi, walaupun anak judul
di atas aku tujukan pada dua pribadi. Begitu juga muatan pesan
yang  hendak  disampaikan, bukannya suatu perkara yang  dengan
semangat demikian.
      Ini  sebuah  catatan tentang salah satu pengalaman  dari
hidup  orang bermasyarakat belaka. Katakanlah, catatan tentang
persinggungan-persinggunganku dengan sesama anggota masyarakat
itu.  Masing-masing kita mau atau tidak mau, sadar atau  tidak
sadar,  merupakan hasil dari kehidupan masyarakat yang panjang
turun-temurun.
      Jadi  surat  ini ditulis atas dasar pengalaman  pribadi,
namun  tidak untuk membicarakan tentang pribadi-pribadi.  Tapi
tentang   alam   pikiran  dan  dunia  batin  masyarakat   yang
melahirkan pribadi-pribadi itu.
    Aku mulai dengan dongeng pertama:


                           Dongeng I
                     Tentang Notula Rapat

      PADA  suatu  hari  aku menerima undangan  rapat.  Karena
berbagai  sebab aku mangkir. Tapi, sebelum rapat  berlangsung,
pendapat-pendapat  dan  saran-saranku sudah  kusampaikan  pada
pemrakarsa. Baik liwat jalan telpon maupun jalan "sulis"  (apa
akronim  yang  bagus  untuk  "surat listrik"  sebagai  padanan
"email"?).  Begitu  menguntungkan kemudahan  sarana  teknologi
mutakhir itu, bukan?
      Tidak  lama waktu berselang aku menerima semacam  notula
rapat  yang  tak  lengkap. Tak lengkap,  karena  hanya  berupa
kiriman  daftar  nama-nama yang hadir  pada  rapat  itu.  Aneh
sebenarnya!  Sebuah notula, walaupun sengaja atau tak  sengaja
dibuat  sebagai notula tidak lengkap, tentu lebih  tepat  jika
mengambekparamartakan berita tentang apa-apa  yang  diputuskan
rapat.  Sedangkan berita tentang siapa saja yang  hadir,  atau
tentang  segala apa lain-lainnya, merupakan butir-butir  nomor
sekian. Tapi memang begitu, dan itu sajalah yang aku terima.
     Masih ada yang lebih aneh lagi!
      Berita itu mencantumkan nama-nama peserta rapat, ditulis
rapih  berderet  dari  atas ke bawah.  Tidak  berurut  menurut
urutan  abjad, tapi mungkin atas dasar selera atau seingat  si
penulis  notula  itu. Masing-masing nama mendapat  nomor  urut
dari angka 1 (satu) sampai dengan, sebut saja sebuah bilangan,
misalnya  12  (dua belas). Namaku tercantum pada baris  urutan
terbawah,  di  belakang  angka 12, disusul  keterangan  pendek
tentang ketidak-hadiranku dan alasanku mengapa tidak hadir.
     Ni Wara dan Ki Wira,
      Hampir semua nama yang mendapat nomor itu semuanya  nama
laki-laki  dan  perempuan yang dikenal sebagai  lajang.  Tapi,
perhatikan baik-baik, ada dua nomor dari dua nama yang disusul
dengan  nama-nama perempuan. Tidak mendapat nomor sendiri  dua
nama perempuan itu, karena masing-masing tentu saja istri dari
dua  laki-laki yang namanya tertulis di depan. Juga tidak  ada
kata penghubung "dan", yang menyatakan kesetaraan, tertulis di
antara  nama laki-laki dan perempuan yang saling terkait  itu,
melainkan sebuah tanda baca "titik koma" saja. Embel-embel!
      Harap  diketahui, ya saudara-saudaraku. Rapat ini  bukan
rapatnya  para anggota Korpri KBRI di Den Haag. Bukan!  Selain
itu   rapat  ini  sebuah  rapat  kerja,  paling  tidak  begitu
pretensinya,  dan  bukan sekedar pertemuan silaturahmi  mamah-
ramah, di mana para laki-laki serimbit menggandeng istri  atau
pacar.  Kedua  perempuan  itu hadir sebagai  pribadi,  membawa
tubuh  sendiri  dengan  pendirian dan pendapat  sendiri.  Tapi
karena  kedua-duanya  adalah  "hanya"  istri,  maka  kehadiran
mereka itu menjadi tidak diakui sebagai menampak. Mereka tidak
mendapat   nomor,   walaupun  nomor   penghabisan   sekalipun!
Sebaliknya  nomor  penghabisan itu justru diberikan  kepadaku.
Ya, aku yang tidak hadir!
     Itulah contoh paling jelas tentang alam pikiran dan dunia
batin  laki-laki kita. Notabene dunia laki-laki  aktivis  yang
sanggup  bicara berkobar dan panjang lebar tentang  demokrasi!
Sadar  atau  tidak sadar ternyata mereka masih  menganut  atau
dikuasai  paham, seperti dinyatakan dalam syair  lagu  seriosa
gubahan Ismail Mz. "Wanita":

          "Diciptakan alam pria dan wanita,
          dua makhluk jaya asuhan dewata;
          ditakdirkan alam pria berkuasa,
          adapun wanita lemah lembut manja.

          Wanita dijajah pria sejak dulu,
          dijadikan perhiasan sangkar madu;
          namun ada kala pria tak berdaya,
          tekul lutut di sudut kerling wanita."

Paham,  bahwa  perempuan  sekedar, pinjam  istilah  Simone  de
Beauvoir,  "le deuxi�me sexe".  Makhluk  klas   kambing,  yang
terbikin  dari  sempalan tulang rusuk laki-laki belaka.  Bahwa
perempuan  ialah makhluk yang lemah dan tolol (baca:  Sarinah,
Bung  Karno), yang tidak patut mengenal neraka apalagi  surga,
kecuali jika dia perempuan yang beruntung. Perempuan baru akan
beruntung,  yaitu  jika ada laki-laki yang  sudi  memilikinya.
Sehingga dengan begitu perempuan tersebut akan terbawa (katut)
oleh  laki-laki  pemiliknya, atau jika ada sang  suami,  yaitu
laki-laki  yang  sudi  dinunuti  olehnya.  Perempuan,  seperti
pernah  kutulis hampir 20 tahun yang lalu (Prisma, Juli 1981),
ibarat  "awan th�kl�k bengi l�m�k". (Kakang Demang ketika  itu
komentari:  "Wah, judulnya kok provokatif, Dhi Lurah!?"  Ingat
Kakang?)
      Maka  inilah pertanyaanku yang pertama: Bukankah dongeng
di  atas itu sebuah lakon tragedi, yang justru dinikmati  oleh
si protagonis?

                          Dongeng II
                   Tentang Sebuah Kartunama

     Ni Wara dan Ki Wira,
     PADA suatu hari aku bertemu seorang perempuan muda. Bukan
kenalan  baru  perempuan ini bagiku, dan  juga  bukan  sekedar
"tepung kebo" kita saling mengenal. Ni Wara dan Ki Wira  masih
tahu istilah "tepung kebo"? Sinonim kata ini "tepung celathu",
yaitu    pengenalan   selintas   lalu   seperti    antar-orang
seperjalanan.  Hanya saling bertukar sapa:  "ni  hao?",  lalu:
"zai jian!".
      "Lihat kartunamaku yang baru!" Kata perempuan itu sambil
memberikan selembar kartunama padaku. Wajahnya merah  berseri,
memancarkan kegembiraan dan kebanggaan.
     "Terimakasih!" Jawabku.
      Kuamat-amati kartunama itu. Apanya yang baru, aku  tidak
tahu.  Karena kartunya yang lama tidak pernah aku menerimanya.
Mungkin kertasnya yang berwarna lembut dan berbau melati,  dan
huruf-huruf serta tata cetaknya yang bergaya tulisan  prasasti
kuno?  Tapi,  andaikata  pun begitu, apa  istimewanya?  Karena
hampir  semua "orang kota", walaupun tidak selalu  tinggal  di
kota,  mengantongi kartunama di sakunya. Masing-masing  tampil
menurut selera keindahan sendiri-sendiri.
      Ah! Barangkali perempuan muda ini, ibarat rama-rama muda
yang  baru  keluar  dari kepompong. Pikirku. Kartunama  selain
mengandung gawai atau fungsi yang bersifat "gesellschaftlich",
juga  mempunyai  nilai kadar yang bersifat "gemeinschaftlich".
Kartunama,  bagi  yang  bersangkutan, juga  merupakan  semacam
pernyataan kehadiran (eksistensi) dan kejatidirian (identitas)
sekaligus.
     Maka kuamati huruf-huruf dan kata-kata yang tercetak pada
kartunama  perempuan  muda itu. Tertera di  sana  alamat  pos,
nomor  telpon  dan faks, serta alamat sulis. Di atas  semuanya
itu,   dengan  huruf-huruf  bermodel  "aristokrat"  dan  dalam
"point"  yang  lebih  besar,  terbaca  namanya  yang  lengkap.
Panjang  seperti  lazimnya  anak-anak  Indonesia  yang   lahir
sesudah  perang,  atau nama-nama priyayi baru Indonesia,  atau
nama-nama permandian Jawa (Orde) Baru yang dipungut oleh orang-
orang (maaf!) Kasno alias "Bekas Cino".
      Nama  yang panjang pada kartunama itu masih diperpanjang
lagi  dengan "nama keluarga" suaminya (untungnya [atau  justru
celakanya?]  tanpa  "nama  keluarga"  orangtua  sendiri),  dan
ditutup  dengan gelar kesarjanaannya. Ya, begitulah. Perempuan
ini  orang Indonesia, yang bersuami laki-laki Indonesia  juga.
Tapi  dalam  hal  menuliskan namanya, setengah berepigon  pada
tatacara Barat atau Arab.
     Tak kusadari aku menarik napas dalam-dalam.
     Mengapa perempuan ini tidak berani tampil sebagai pribadi
sendiri,  melainkan merasa perlu harus dikawal  "sang  suami"?
Mengapa  nama  orangtua  sendiri, yang  tanpa  mereka  dirinya
sendiri  tidak  akan  pernah ada, malah tidak  dicantumkannya?
Lalu  gelar  kesarjanaan itu! Apa hubungan pengakuan  prestasi
ilmiah  dari sesuatu universitas yang diberikan kepadanya  itu
dengan   keberadaan   "sang  suami"?  Apalagi   ketika   gelar
kesarjaaan  itu  diraihnya,  ia  belum  "diperistri"  (sengaja
kupakai kata berawalan pemasif "di") oleh laki-laki itu!
      Maka inilah pertanyaanku yang kedua: Bukankah dongeng di
atas  itu sebuah lakon tragedi, yang justru dinikmati oleh  si
protagonis?


                          Dongeng III
                      Istriku Ikut Arisan

      PADA  suatu sore hari istriku pergi. Menghadiri undangan
Arisan  Ibu-Ibu se-RT. Ketika itu kami masih tinggal di  salah
satu rumah, di Jalan Tebet Timur Dalam Gang L nomor 31 Jakarta
Selatan.  Arisan  itu  diadakan  sekali  setiap  satu   bulan.
Tempatnya  berganti-ganti. Yaitu di rumah keluarga yang,  pada
pertemuan sebelumnya, memenangkan undian arisan.
       Rumah  kami  juga  pernah  mendapat  giliran.  Sebanyak
duapuluhan lebih ibu-ibu jika hadir semua. Tapi dua kali jatuh
pada  giliran  di rumah kami, belum pernah lebih dari  sepuluh
yang  hadir.  Tentu bukan karena rumah kami yang  kecil,  atau
karena   perabotannya  yang  serba  kampungan.  Tapi  pastilah
karena,  seperti  diceritakan  istriku  dalam  memoarnya  yang
berjudul  "Selamat  Tinggal Indonesia"[2]  itu,  mereka  takut
ketularan  "Virus  Buru" yang terkenal  keliwat  ganas.  Tidak
salah  mereka.  Suami istriku memang ET keluaran  Pulau  Buru!
Karena itu kami tidak pernah lagi mau menyediakan tempat. Tapi
pinjam  tempat Ibu Su�b, tetangga di kiri, atau  Ibu  Junaedi,
tetangga di kanan. Walaupun hidangan makanan dan minuman tetap
kami yang menyediakannya.

      Senja  hari  itu  arisan diadakan  di  rumah  Pak  Haji.
Begitulah  kami  sekampung  biasa  menyebutnya.  Kepala  rumah
tangga  tempat  arisan memang seorang haji, penganjur  Parmusi
(ketika   $uharto  belum  men-sterilisasi   parpol   ini   dan
meleburnya dalam PPP), dan pensiunan diplomat. Ia, pada  awal
tahun  60-an,  pernah dinas di bagian sandi KBRI  di  Beijing.
Konon  ketika  itulah  ia pernah bertemu denganku.  Begitu  ia
bercericau  pada  tetangga, dalam bulan-bulan pertama  sesudah
September   65,  ketika  Jakarta  sedang  dilanda  keranjingan
"budaya" tumpas kelor terhadap kaum komunis dan sukarnois.
      Arisan  kali  itu dihadiri hampir semua  anggota.  Orang
takut  agaknya  menjauhi  tokoh yang didesas-desuskan  sebagai
informan  Kalong[3] itu. Di sini, dalam hubungan  dengan  "Cap
G30S-PKI",  nasihat  pepatah Jawa  "aja  cedhak  kebo  gupak",
jangan mendekati kerbau yang kotor, sama sekali tidak berlaku.
Karena  yang  berlaku justru yang sebaliknya:  orang  beramai-
ramai ingin pamer tentang kedekatannya pada "kebo gupak" itu.
     Beda dengan arisan di tempat-tempat lain sebelumnya, yang
tidak  pernah  dihadiri suami, kali ini Pak  Haji  ikut  ambil
bagian  dari sejak pidato selamat datang sampai pidato penutup
ucapan terimakasih. Juga menyimpang dari kebiasaan sebelumnya,
pada  pidato  pembukaannya Pak Haji membacakan  daftar  hadir.
Satu  demi  satu  nama ibu-ibu diserukan, yang disahut  dengan
acungan telunjuk jari yang bersangkutan.
      Istriku dalam hati bertanya-tanya. Karena menurut daftar
hadir  yang  ditulisnya, namanya sudah harus  disebut  sesudah
"ibu  Junaidi"  dan  sebelum "ibu  Su�b".  Ia  sudah  berdiri,
berniat protes dan meninggalkan arisan, ketika tiba-tiba ruang
arisan menjadi agak riuh.
      "Jitske!" Kata Ibu Jun menahannya, sambil menarik lengan
Jitske.
     "Namamu dipanggil. Jawab dong!" Seru ibu-ibu yang lain.
     "Nama saya? Tidak, saya tidak mendengar!"
     "Sudah. Pak Haji tadi sudah memanggilmu!"
     "Siapa dipanggil? Saya? Jitske?" Protes istriku.
      "Bukan.  Ibu  Hersri.  Itu kan nama  suamimu?!"  Ibu-ibu
beramai-ramai mempertahankan Pak Haji mereka.
      "Nah! Jadi, bukan namaku toh?! Aku punya namaku sendiri.
Lihat  saja  daftar absen tadi, aku tulis dengan  nama  siapa!
Atau sudah dicoret dan diganti?!"
     Pak Haji tunduk. Menyembunyikan malu ke pangkuan sendiri.
     "Lagi pula ini katanya arisan ibu-ibu? Apa urusannya laki-
laki hadir di sini?"
      Ruangan  tamu Pak Haji akhirnya reda dengan suara.  Tapi
seperti  menjadi  sesak oleh mendung perasaan.  Dalam  suasana
berat  itu arisan berakhir. Pak Haji mengucapkan pidato  basa-
basi  penutupan.  Atasnama  pribadi,  istri  dan  anak-anaknya
menyampaikan terimakasih pada ibu-ibu yang hadir. Sekali  lagi
nama-nama ibu-ibu disebut, kecuali nama istriku. Tidak sebagai
Jitske Mulder, tidak sebagai Ibu Hersri.
      Maka  inilah  pertanyaanku yang  ketiga:  Bukankah  dari
gugatan  Jitske Mulder itu kita menangkap sebuah sebuah  lakon
tragedi, yang justru dinikmati oleh si protagonis?

                          Dongeng IV
                        Sekitar Kartini
      PADA  suatu ketika aku dibikin merenung oleh judul salah
satu buku karya tua Pramoedya Ananta Toer: Panggil Aku Kartini
Sadja.  Walaupun  judul  yang  imperatif  itu  ditulis   tanpa
diakhiri dengan tanda pentung, namun aku menangkap nada protes
daripadanya. Nada gugatan. Tentu saja gugatan ala priyayi Jawa
dari akhir abad ke-19.
      Aku  lalu ingat syair pujaan untuk Kartini, yang digubah
menjadi  lagu  oleh Wage Rudolf Supratman. Judul  semula  lagu
ini,  dan  juga  kalimat  pertamanya,  berbunyi  "Raden  Ajeng
Kartini".  Aku belajar menyanyikan nyanyian ini  ketika  masih
kanak-kanak di desa Brosot, sebelum bersekolah, dari  pembantu
rumah  tangga  kami  Mbak  Kustinah namanya.  Ia  memang  suka
menyanyi.  Jika terkadang belakangan hari ia kuingat  kembali,
sungguh sangat menarik dan mengherankan. Wajahnya yang  selalu
menyungging  senyum, dan suaranya yang bening  merdu  ...  Ya,
bagaimana gadis desa yang tidak pernah "makan sekolahan"  itu,
pandai  menyanyikan lagu-lagu dalam nada doremi  (septatonik),
bukannya  nada-nada  jirolu (pentatonik), tanpa  sumbang?  Dan
perbendaharaan lagu yang dipunyainya lebih mengherankan  lagi!
Lagu-lagu  dari  jaman awal pergerakan kebangsaan,  seperti  -
selain  "Raden Ajeng Kartini" tersebut - "Prangko Amal" (yaitu
lagu   kampanye  gerakan  amal  jariah  Muhammadiyah,   ketika
mendapat   ijin   pemerintah  Hindia  Belanda   mencetak   dan
mengedarkan  perangko), "Mars Gerindo" (gubahan siapa,  Kakang
Demang  tahu?),  "Mars Surya Wirawan", "Lily Marlene"[4],  "Di
Timur  Matahari"  dan  versinya "Jempol  Indonesia"[5],  serta
beberapa lagi lagu-lagu sejaman dan semacamnya.
     Aku pun suka dan sering menyenandungkan lagu "Raden Ajeng
Kartini"  itu.  Entah sejak kapan tepatnya, dan oleh  perintah
siapa,  hafalanku syair lagu ini tanpa kusadari telah  menjadi
"Ibu  Kita  Kartini". Aneh ya? Menyimpang dari  proses  sosial
yang  dialami pribadi Kartini itu sendiri: dari "raden  ajeng"
langsung ke "ibu", tanpa melalui fasa dan kurun sebagai "raden
ayu".
      Coba  silakan renung! Apakah karena kurun waktu  sebagai
raden  ayu  yang terlalu pendek, karena Kartini  segera  "seda
kunduran" seketika ia melahirkan bayinya? Ataukah karena  fasa
sosial sebagai raden ayu berarti memasuki fasa menjadi "l�m�k"
dan  "th�kl�k" laki-laki, sehingga tidak semestinya  perempuan
diberi  tempat?  Atau,  apakah karena alasan  sederhana  saja:
gandrungnya masyarakat Indonesia pada semangat demokrasi? Tapi
andaikata  demi  semangat demokrasi,  mengapa  toh  "Ibu  kita
Kartini" dan bukan "Wahai engkau Kartini", misalnya?
      "Ibu"!  Ki Wira, terutama engkau Ni Wara, mari  bersama-
sama direnung. Apa arti sosial yang dikandung di dalam istilah
ini,  selain  "sekedar" (yang dalam konteks suasana  demokrasi
sebenarnya   tidak  "sekedar"!)  sebagai  honorefik   prefiks?
Sebutan   "nyonya"  dan  "ibu",  sebenarnya  gambaran  tentang
peranan    perempuan   yang   bersangkutan.   Pada    "nyonya"
terbersitlah  pesan,  bahwa peranan perempuan  sebagai  "kanca
estri" (kawan perempuan) telah habis, dan diganti dengan peran
sebagai  "kanca  wingking"  alias "kawan  belakang"  -  sebuah
ungkapan  yang contradictio in terminis: katanya  "kawan"  kok
ditempatkan di belakang! Nasib perempuan yang begini ini lebih
celaka  dari nasib perempuan masyarakat Buru yang nomadis.  Di
sana  perempuan dipandang sebagai harta paling mulia, sehingga
karenanya  justru  selalu  berjalan di  depan  laki-laki,  dan
dikawal dengan kelewang dan tombak.
      Pesan  yang  hendak dikatakan dalam sebutan "ibu"  lebih
buruk  lagi.  Yaitu  bahwa perempuan yang  bersangkutan  sudah
tidak  mempunyai  peranan apa-apa lagi! Tidak sebagai  pribadi
sendiri, tidak pula sebagai "kanca istri", dan bahkan  sebagai
"kanca  wingking" sang suami pun tidak. Ia tinggal  berperanan
sebagai  "ibunya  anak-anak". Itu  pun  hanya  dalam  sebutan.
Karena dalam praktek kehidupan, peranan "ibunya anak-anak" itu
bisa  diganti  oleh  bibi  pembantu,  babysitter,  atau  rumah
penitipan anak-anak!
      Maka  inilah  pertanyaanku yang keempat.  Bukankah  dari
dongeng "Sekitar Kartini" di atas, kita menangkap sebuah lakon
tragedi, yang justru dinikmati oleh si protagonis?
      Tragedi  itu,  jika  kita berhenti  pada  mendengar  dan
melihat  akibatnya yang menyedihkan saja, memang lebih  banyak
dan  lazim  disifatkan pada kisah melodrama  dunia  perempuan.
Tapi  jika  kita  "membaca apa yang  tersirat  di  balik  yang
tersurat",  maka  si  laki-laki (suami)  itu  sendirilah  yang
sesungguhnya  menjadi sumber akibat. Justru  dia  itulah  yang
hiidup  dalam cengkeraman dunia tragedi[6], sebagai buah  dari
obsesi  kelaki-lakiannya  yang  hampa:  adigang  (sok  kuasa),
adigung (sok-mulia), dan adiguna (sok-pintar).

                            Penutup

Ni Wara dan Ki Wira,
      ORANG  suka berlindung di balik perisai kata-kata puitis
Shakespeare.  Tapi  tanpa  pernah  merenungi  butir  kandungan
isinya,   melainkan  sekedar  berlatah-latah  mengunyah-kunyah
permen  karet.  Kata-kata yang kumaksud  ialah  ucapan  Juliet
dalam Romeo and Juliet (II.II:43-44) ini:
     "What's in a name? that which we call a rose
     By any other name would smell as sweet;"
Bacalah  dan  camkan  inti  makna kalimat  pertama  itu,  baru
kemudian  pahamilah  kalimat  kedua.  Jangan  dibalik!  Karena
hubungan  antara dua baris kalimat itu adalah hubungan  antara
pokok  dan keterangan, bukan seperti hubungan antara  sampiran
dan isi dalam pantun.
      Juliet  (baca: Shakespeare) bukan bersoal dengan  bentuk
lahiriah,  tapi sebaliknyalah: dengan hakikat. Apa hakikat  di
balik  "mawar"? Apa hakikat di balik Romeo! Kalau hakikat  itu
sudah  tertangkap, maka sebutlah apa saja. Sama halnya seperti
orang Jawa lalu punya pemeo "lumah kurebing godhong suruh, y�n
ginugut  padha rasan�" - dua sisi daun sirih (yang beda  warna
itu),  jika dikunyah sama saja rasanya. Atau ingatlah Ki Ageng
Bringin  Suryamataram  yang memberi  nama  pada  ilmu  hakikat
ajarannya dengan "seenaknya saja": Kawruh Be[g]ja.
     Ada satu hal yang dalam hubungan ini perlu diperhatikan.
Kosakata  bahasa Jawa yang melimpah dengan kata  pinjaman  dan
kata  jadian  dari  khazanah  bahasa  "Sanskerta  itu,  justru
tentang  perihal yang pokok ini mampu mempertahankan  kosakata
sendiri.  Orang Indonesia (Melayu) punya istilah  "nama,  yang
dipinjam  dari  Sanskerta,  orang  Barat  pinjam  dari   Latin
"nomen",  tapi orang Jawa mempunyai istilah miliknya  sendiri:
"jeneng"  atau "aran". Makna atau kandungan isinya  pun  jelas
dan tegas.
      "Jeneng"  ialah pokok atau "jejer" - subjek. Karena  itu
juga  berarti "adeg-adeg", yaitu tanda baca pada tulisan huruf
Jawa  dan ditulis pada awal kalimat, yang berbentuk dua  garis
tegak  sejajar. Perhatikan itu: dua garis tegak sejajar! Dalam
paramasastra Jawa "tembung aran" ialah kata benda atau nomina,
yaitu  kata  yang  menyatakan  tentang  benda  berwujud   atau
dianggap berwujud ...
                              ***
      Bangsa Jawa sejatinya bangsa yang sadar benar akan  jati
diri  sendiri. Bangsa yang sangat individualis, kata  almarhum
Ruth   Havelaar.  Bagaimana  bangsa  yang  berkualitas   batin
demikian, kemudian menjadi tidak kenal praktik demokrasi - ini
perkara lain yang perlu dikupas dan disoroti.***

Keterangan:
1.  Istilah "wara" dan "wira", sebutan panggilan anjuran  Jawa
Dipa;  "wara"  untuk  perempuan, dan "wira"  untuk  laki-laki.
Bandingkan dengan "ni" atau "nyi" dan "ki" bagi Keluarga Taman
Siswa;  atau  "zus" dan "bung" bagi kalangan  kaum  pergerakan
kebangsaan.   Semuanya  itu  akhirnya  hilang   dilanda   arus
tatakrama Orde Baru Jendral $uharto: "Bapak" dan "Ibu".
2.  Selamat  Tinggal Indonesia, 1995(i); versi Indonesia  dari
Quartering, 1991; Inkwartiering, 1992(i).
3.  Operasi  Kalong,  dinas intel TNI  Angkatan  Darat,  dalam
gerakan penumpasan kaum komunis dan demokrat Indonesia sesudah
Peristiwa 30 September 1965.
4.  Syair  lagu Lily Marlene: Oh beginilah nasibnya soldadu  /
diosol-osol dan diadu-adu / Tapi biar tidak apa /  asal  untuk
negri kita / naik dan turun gunung / hijrah pun tak bingung //
Lagu  ini konon berasal lagu Perancis, juga diberi syair dalam
dua bahasa lainnya: Sunda dan Belanda.
5.  Syair  lagu  Jempol  Indonesia: Jempol  indonesia  /  i-er
Sukarno  / pandu indonesia / de-er sutomo / bapak indonesia  /
ki dewantoro / jago indonesia / diponegoro //
6.  Tragedi  dari kata Yunani "tragoidia"; "tragos"  =  bandot
(kambing jantan), "oidia" = menyanyi.
(kambing jantan), "oidia" = menyanyi.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke