Precedence: bulk



Teman-teman di Yayasan Tahanjungan Tarung,

Saya selalu kagum melihat eksistensi kalian, apalagi setelah berkenalan 
dengan Emerson, tidak pretensius dan bersikap terbuka untuk diskusi.

Soal peranan ABRI (ke-effektifan-nya meredam situasi di Kalbar) tidak 
perlu dipertanyakan. Sekarang mereka sedang diskordinasi, tetapi kalau 
ABRI sudah konsolidasi lagi , mereka bisa saja men-terror lagi, kalau 
supremasi politik sipil gagal...!!

Yang perlu dipertanyakan adalah "underlying causes" kenapa terjadi 
kekerasan seperti itu. Saya teringat satu artikel laporan kunjungan 
Komnasham setelah situasi seperti ini terjadi di Kalbar akhir tahun 
1996. Asmara Nababan memberikan analisa yang patut dipikirkan secara 
panjang: Kejadian ditahun 1996 itu adalah berakar pada kesalahan 
kebijaksanaan pemerintah jaman ORDE Barunya Suharto dalam politik 
Kependudukan (a.l. migration policy, marginalisasi penduduk asli), 
Exploitasi Sumber Daya Alam, dan peranan elite politik juga yang di 
daerah. Semua hal ini belum didiskusikan secara menyeluruh dan dengan 
kepala dingin. Saya yakin teman2 di Kalbar juga sudah punya analisa dan 
kesimpulan tentang semua hal ini dan usulan-usulan pemecahannya. 

Adalah lebih baik kalau teman2 di daerah lain, terutama di Kalimantan 
Tengah dari sekarang lebih giat mendiskusikan desintegrasi sosial, 
kultur dan ekonomi di daerahnya. Kenapa  Kalimatan Tengah? Ini karena 
perhatian dan pekerjaan saya tiga tahun terakhir fokus ke sana. 

Beberapa bulan yang lalu waktu saya ke Palangka Raya, saya diceritakan 
oleh seorang pejabat yang asli Dayak, bhw sejak Suharto "jatuh" semua 
birokrat daerah berbagai sektor pemerintahan sibuk diskusi menghitung 
bagaimana "Pembangunan Daerah" bisa lebih beres kalau Daerah umpamanya 
saja bisa mengatur anggaran masuk dan pengeluaran secara mandiri. 
Dihitung-hitung bahwa kalau daerah menerima 50% saja anggaran (bagi 
"fifty-fifty" dengan Pusat), sekian ratus milyard rupiah itu katanya 
"pasti" lebih bisa membangun daerah. Jadi issue mereka hanya "otonomi 
budget". Ini sih sah-sah saja, tetapi kalau kita berani berpikir lebih 
panjang PAMAN, BIBI, SAUDARA SEPUPU, semua sanak keluarga kita yang ada 
di birokrasi pemerintahan daerah itu, selama ini yang ikut mengenyam 
cipratan dana pembangunan yang diatur oleh Pusat. Birokrasi ini juga 
terlibat dalam pengurasan sumber daya alam daerah kalian (tambang, kayu, 
dll) 

Saya lihat tokoh politik masyarakat (elit-elit politik) masyarakat Dayak 
di Kalteng diskusinya juga hanya disekitar situ-situ. Issuenya "siapa 
Anak Daerah yang nanti bisa jadi Gubernur.." Coba kita ingat agenda 
Pertemuan Dayak Besar bulan Desember tahun lalu. Disatu pihak ambisi ini 
juga sah-sah saja, mungkin Dayak lebih solid di propinsi ini. Tetapi kok 
anehnya MASALAH LINGKUNGAN yang menjadi salah satu dasar kehidupan 
manusia tidak menjadi salah satu issue utama di pertemuan itu, 
seandainya Issue Lingkungan itu toh juga dibahas "cara pengantarannya" 
masih kurang effektif untuk menggalang masyarakat daerah untuk membenahi 
soal ekploitasi dan pelestarian alamnya. Saya tahu banget, Oom-oom kita 
itu juga terlibat dagang kayu. Kayu-kayu sekarang dijarah disaat politik 
pusat dan daerah sedang "vakum". Di daerah "vakum" yah antara lain juga 
karena "dibiarkan" saja. Kapan lagi orang Daerah bisa mengenyam "uang-
masuk", 'kan dari dulu kesempatan hanya ada di Konglomerat dan orang2 di 
Pulau Jawa....?!. Saya jadi bingung di P. Jawa sedang Krismon, eh kalau 
masuk Bank di Palangka Raya, yang ngantri didepan loket deposito tiap 
hari puanjaang sekali, duit dibawa dalam kantung plastik atau bergepok-
gepok di amplop besar. Pernah sebentar saya kagum, tetapi setelah 
teringat situasi masyarakat yang di pedalaman, saya jadi prihatin dan 
bahkan geregetan melihat tokoh-tokoh yang ada di Ibukota propinsi. 

Mereka sama gobloknya dengan tokoh atau birokrat yang ada di Pusat. 
Beranikah mereka mendiskusikan soal pro$e$ perusakan alam yang sekarang 
terjadi dan apakah ada yang mau mengambil inisiatif "membenahi" 
kerusakan lingkungan, sosial ekonomi dan kultural yang disebabkan oleh 
umpamanya Proyek Lahan Gambutnya Suharto? Nggak ada lah..! Yang saya 
tahu ada adalah ketulusan dan keberanian masyarakat pedalaman yang sudah 
dirugikan, umpamanya a.l. masyarakat Dadahup yang tahun lalu dua minggu 
berkemah didepan gedung Gubenuran, nuntut kompensasi atas perusakan PLG 
itu pada kebun rotan, kebun purun dan kolam beje-nya... 

Elit-elit daerah ini perlu terus didesak mengambil posisi untuk 
menghentikan penjarahan hutan, pertambangan liar dan kolusi pejabat-
cukong. Kita semua harus berani membongkar masalah-masalah ini dan 
menanamkan tonggak2 kemasyarakatan yang lebih adil dan lestari. Kalau 
tidak Kalteng hanya akan menjadi eksportir kebakaran hutan dan 
masyarakat setempatnya menjadi manusia-manusia cacat fisik dan mental  
karena air sungai sudah tercemar dengan racun pengawet kayu dan racun 
yang ditimbulkan oleh pembukaan kanal-kanal Proyek lahan Gambut. 

Apa kita mau melihat anak-cucu kita cacat seperti di Minimata, Jepang 
itu? Kan kebakaran hutan -yang katanya orang Kalimantan tujuh bulan 
nggak melihat matahari- belum lama terjadi sebagai "Peringatan". Ada 
satu filsafat yang perlu kita direnungkan: manusia atau masyarakat yang 
merusak/menghancurkan alam lingkungannya, disana sini membunuh satwa 
hanya semata karena instink perut lapar dan merusak/menghancurkan 
tumbuhan yang menjadi bagian dari keseluruhan alam, mereka akan mendapat 
balasan yang sama dahsyatnya dari alam itu. Ini tentunya bukan kutukan 
bagi orang Kalteng, tapi juga bisa kita simak dari prediksi-prediksi 
ajaran-ajaran Kaharingan.

"Oebans" menulis di emailnya: "revolusi belum selesai". Ah, kalau 
revolusi yang kayak begituan sih saya nggak mau ikut-ikutan. Revolusi 
itu nggak ada selama tidak ada gerakan-gerakan dari dalam masyarakat 
sendiri.

Daripada "repolusi" lebih baik kita rame-rame nutup kanal-kanal PLG, 
menghijaukan kembali lahan-lahan yang rusak, menguatkan ekonomi 
alternatif masyarakat (rotan, karet, tapi jangan perkebunan Kelapa Sawit 
yang besar2an ah!; kalau nggak percaya lihat saja ke Malaysia "kodok" 
saja nggak ada di perkebunan kelapa sawit itu.., apalagi yang namanya 
biodiversitas), membantu masyarakat setempat mempertahankan hutan dan 
pohon-pohonnya supaya bisa dilestarikan produktivitas Non-Timber-Forest-
Product-nya), menghentikan praktek cukong-cukong, pejabat, tentara, oom-
oom dan saudara-saudara kita yang sekarang menjarah hutan-hutan Kalteng. 
Nggak usah jauh2, pertahankan hutan Sebangau, Dadahup dan ex-zone "E"-
nya Proyek Lahan Gambut, kalau orang Kalteng nggak mau dilanda banjir 
badang dan diselimuti asap beracun kebakaran hutan tahun-tahun 
mendatang. 

"Repolusi" No dulu....'lah!!!
"Re-appresiasi" kekayaan hutan dan alam yang masih kita punya, Yes!!

Salam, juga untuk teman-teman di daerah-daerah lain.

Hasjrul Junaid
SKEPHI Cabang Eropa
------------------------------
On Tue, 23 Mar 1999, ytt wrote:

> Buat kawan-kawan di Kal-Bar bagai mana situasi terakhir keadaan di Sambas
> dan di kec. lainnya.Apakah pembataian masih berlangsung, dan bagaimana
> tindakan Pemda dan aparat terkait terutama ABRI .... .. OH ABRI..apa sih
> yang kalian kerjakan...!..selalu minta bantuan...apakah disana kekurangan
> personil...apakah dengan mendatangkan personil dapat meredam kerusuhan yang
> terjadi.Marilah lagi kita lihat tragedi Ambon,personil ABRI banyak yang
> dikirim akan tetapi tidak bisa juga mengatasi kerusuhan disana.Ternyata
> ABRI yang selalu dibanggakan dimasa orde barunya suharto tidak bisa
> menjalankan tugas dengan baik, ternyata ABRI hanya bisa main
> perang-perangan,ternyata BOHONG BESAR..!!!               salam dari
> oe-bans,.... Revolusi belum selesai.....

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke