Precedence: bulk


NINDJA News, 1999.3.25.

Bank Exim Jepang beri pinjaman untuk meningkatkan produksi pupuk di
Indonesia

International Development Journal, Maret 1999

Bank Exim Jepang menandatangani kontrak pinjaman berjumlah total US$152
juta dengan RI pada tanggal 28 Desember tahun lalu. Pinjaman tersebut
merupakan  kerja sama dengan tiga buah bank swasta, Chase Manhattan Bank
cabang Tokyo, Bayerishe Hypo- und vereinsbank AG cabang Tokyo dan Sanwa
Bank. Bank Exim Jepang sendiri  memberi pinjaman sebanyak US$91 juta.
Pinjaman tersebut digunakan sebagai dana untuk membeli fasilitas dan
pelayanan dari eksportir, Toyo Engineering Corporation, untuk membiayai
PT. Iskandar Muda membangun unit pabrik urea (1.200 ton/hari) dan
amoniak (1.725 ton/hari) di daerah Lhokseumawe, kabupaten Aceh Utara,
yang terletak di barat laut pulau Sumatra. Bagi Indonesia, yang memiliki
penduduk sebesar 200 juta, pemasokan pangan secara stabil merupakan
masalah yang terpenting, dan pemerintah Indonesia mengambil
kebijaksanaan pembangunan pertanian, khususnya meningkatkan  swasembada
beras. Dalam rangka perluasan lahan pertanian, sebagai pelaksanaan dari
kebijaksanaan tersebut, kebutuhan pupuk dalam negeri melambung. Tetapi
dikhawatirkan bahwa masalah mengenai kekurangan pangan, terutama beras,
akan menimbulkan keresahan sosial. Meningkatkan produksi pupuk untuk
menjamin suplai pangan secara stabil merupakan hal yang mendesak. Volume
produksi pupuk dalam negeri per tahun di Indonesia dewasa ini kurang
lebih 5,65 juta ton. Tetapi, diperkirakan akan kekurangan pupuk 3 juta
ton pada tahun 2002, karena kebutuhan dalam negeri terus bertambah. 
Sehubungan dengan ini, pemerintah Indonesia berencana membangun 3 unit
pabrik pupuk yang dikelola oleh BUMN, untuk meningkatkan daya suplai
pupuk. Bank Exim Jepang akan memberi pinjaman pada proyek pertama
tersebut melalui penggunaan dana dari investasi fiskal dan program
pinjaman. Selain itu, Bank Exim Jepang telah memberi sumbangan untuk
meningkatkan  produksi pupuk melalui pemberian buyer's credit dengan
jumlah total 65 miliar yen kepada Indonesia, sebagai dana untukmembangun
unit pabrik.

Catatan Redaksi :

Di Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara  terdapat lima proyek vital, yaitu
2 kilang LNG (PT Arun, Mobil Oil Indonesia), 2 pabrik pupuk (PT Iskandar
Muda, PT Asean Aceh Fertilizer), dan sebuah pabrik pulp(PT Kertas Kraft
Aceh). Menurut penelitian yang dilakukan oleh NINDA (Network for Indonesian
Democracy, Japan), PTA, PT AAF dan PIM tersebut telah diberi pinjaman
dari ODA dan Bank Exim Jepang. Pinjaman tersebut semuanya disebut
'bantuan', tetapi  menurut penduduk di sekitarnya, telah terjadi
bermacam-macam masalah, misalnya proyek-proyek pembangunan itu merusak
lingkungan, merebut dasar kehidupan dan lain-lain. Tidak ada kesempatan
kerja bagi penduduk setempat, dan karenanya memperlebar jurang antara
yang kaya dan yang miskin.  Mereka mengecam proyek-proyek ini karena
sudah lama dipaksa menjadi penonton. Selanjutnya, pada masa DOM masih
berlaku, di atas tanah milik PTA dibangun kemah militer  dan digunakan
sebagai pusat penyiksaan massa. Itu menjadi trauma bagi penduduk. Selain
itu, pinjaman yang disebut 'bantuan' oleh pemerintah Jepang itu untuk
siapa dan untuk apa? Agaknya 'bantuan' itu bukan merupakan kepentingan
bagi penduduk di sekitarnya. Umpamanya, pinjaman kepada PIM kali ini
digunakan sebagai dana untuk membeli bahan dan pelayanan untuk membangun
unit pabrik dari perusahaan Jepang, Toyo Engineering Corporation.
Pinjaman itu digunakan untuk kepentingan perusahaan Jepang. Akhir-akhir
ini bertambah bnayak pinjaman yang disebut 'bantuan', tetapi bertujuan
untuk pemulihan ekonomi Jepang. Dikhawatirkan bahwa pinjaman dari Bank
Exim Jepang kepada PIM tanpa menyelesaikan masalah tersebut akan
mengulangi dan menambah masalah.


----------
NINDJA <[EMAIL PROTECTED]>
Network for Indonesian Democracy, Japan
Hinoki Bldg. 3F, 2-1 Kanda Ogawamachi Chiyoda-ku Tokyo 101-0052 Japan

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke