Precedence: bulk
IMBAUAN FALUR RATE LAEK UNTUK KELOMPOK PRO-INTEGRASI
DILI (MateBEAN, 2/4/99), Seperti yang telah kita ketahui, belakangan
pemerintah Indonesia telah membentuk dan mempersenjatai berbagai kelompok
milisi di Timor Timur. Para milisi ini melakukan teror terhadap penduduk di
pedesaan. Untuk menyabot perekonomian, mereka juga menakut-nakuti para
pendatang agar eksodus dari Timtim. Sepanjang 2 minggu terakhir ini, ketika
6 utusan PBB berkunjung di Timtim, para milisi dengan dukungan militer
Indonesia setiap hari menembaki warga sipil. Pada utusan PBB yang tampaknya
tak mengerti situasi sesungguhnya, para milisi menyatakan bahwa Falintil
adalah pelaku serangkaian pembunuhan terhadap warga sipil.
Untuk itu, MateBEAN kali ini sengaja menurunkan sebuah imbauan terbuka dari
salah satu komandan Falintil di sektor Timur, Falur Rate Laek. Laek
merupakan wakil panglima Falintil Taur Matan Ruak. Berikut adalah imbauannya.
-----------------
Karena kita sebagai orang Timor Lorosae maka dengan hati yang gembira dan
cinta kami menyampaikan imbauan bahwa mereka yang melakukan perang,
terutama mereka yang menyambung perang, dimana pihak Indonesia menyeberang
laut untuk menanam dan pelihara di tanah Timor untuk melawan
saudara-saudaranya (Povo Maubere) di seluruh Bumi Timor Lorosae.
Atas nama perjuangan Gerilyawan Falintil, terutama para pejuang gerilyawan di
Regiao III Cruzeiro, Falur Rate Laek bahwa sudah tiba saatnya dalam
perjuangan perang, di mana kita berani mengatakan kemenangan perang. Karena
Indonesia telah menjajah daerah kita selama 23 tahun. Dia (Indonesia) tidak
boleh menjajah lagi selama 23 tahun, untuk kehidupam semua orang dalam
sehari-hari, dimana dia mengadu-domba, mengkotak-kotak dengan berbagai
manipulasi dan kekayaannya, namun Indonesia tidak bisa lagi melakukannya
karena uangnya tidak mencukupi untuk membeli tanah dan hati rakyat.
Bahkan Indonesia telah kehabisan peluru untuk membunuh rakyat Timor Lorosae
dalam masalahnya yang telah sejarah dunia. Kemauannya (Indonesia) adalah
agar terjadi pertumpahan darah dan membodohi rakyat, dimana dia membagi-bagi
senjata di kala Indonesia mengalami kekalahan (perang) dan kepergiannya
dari Bumi Timor Lorosae.
Untuk itu kami meminta kepada semuanya (rakyat pro-integrasi dan
pro-kemerdekaan) untuk tidak terjebak dalam manuver-manuver Indonesia yang
menginginkan pertumpahan darah yang kedua kalinya. Khususnya organisasi
Mahidi, Aitara, Naga Merah, Besi Merah Putih, Makikit, Gadapaksi dan
organisasi paramilter lainnya untuk tidak merasa takut terhadap perbuatannya
di kemudian hari dan jangan berpikir dan bermimpi untuk mempertahankan
kekuasaan Indonesia atas Bumi Timor Lorosae sebagai Negara Merdeka dan
Berdaulat.
Kalian juga jangan berprasangka bahwa kami (Falintil) mau membunuh kalian
yang sedarah, satu tubuh, satu tanah dan satu orang, dimana tidak sama
seperti orang mata buta, telinga lebar, jalan berlompat-lompat bagaikan
pemuda yang perbuatannya hanya memecah belah semua orang Timor Lorosae.
Dalam peperangan ini muncul kita (Falintil) melewati berbagai persoalan
berat, yakni kesusahan dan penderitaan dalam berbagai situasi sulit, di mana
kita hanya bertahan makan ubi jalar di hutan selama 23 tahun. Sekali pun
perjuangan kami terasa pahit, namun jiwa kami untuk melajutkan perang tetap
menyala-nyala karena kami memiliki kepercayaan yang seutuhnya bagi
kemenangan demi masa depan anak-cucu kita di Bumi Timor Lorosae nantinya.
Sekali pun kami menderita dan mati tanpa batu nisan dan dunia kehidupan kami
sangat berbeda dengan kehidupan kalian, tapi kami berani dan pasrah semua
demi kebersamaan dan memanggil kalian karena dimana sudah mendekat di
hadapan kita semua.
Kata kedamaian itu memang mudah ditulis, mudah disebut, mudah dibaca tapi
untuk menemukan dan tercipta di Bumi Timor Lorosae sangat susah dan berat.
Bahkan susah dan berat bagi kita untuk menciptakan kedamaian di setiap
kehidupan sehari-hari. Akibatnya kami (Falintil) mati perang, menderita,
berteriak, menangis, namun tetap ...dan berani berperang melawan Indonesia
yang datang di Timor Lorosae dengan perbuatan arogansi dan ambisiusnya.
Saudara-saudara Timor Lorosae punya darah baik beradal dari sesama di atas
gunung yang tinggi dan keramat seperti gunung KABLAKI, RAMELAU dan
MATEBIAN, di mana di kepalanya terselip buluh ayam, mencabut kris kramatnya
dengan teriakan dan sebaliknya mereka yang tahu untuk memasukan keris
kramatnya sarungnya jika sudah ada penyelesaian dan keputusannya.
Kami sadar bahwa kami (Falintil) adalah orang kecil yang tetap membela
hak-hak keramat rakyat Timor Lorosae, yakni UKUN RACIK AN. Lantas kalian
membela siapa? Dengan perbuatan kalian yang berperang untuk membunuh saudara
sendiri, lalu mau mencari apa? Perlu kalian ketahui bahwa kami (Falintil)
adalah orang kecil yang tidak tahu apa itu politik, tapi jika melakukan
politik demi bayangan maka menurut kami bahwa hak mendasar Timor Lorosae
untuk memperoleh perdamaian dan ketenangan dan kekegembiraan hidup tidak
berbeda dengan apa yang kami lakukan dalam medan peperangan yang penuh
kesusahan dan penderitaan demi menemukan kemerdekaan tahap demi tahap dan
tidak ada akhirnya.
Politik kami adalah perdamaiaan yang kami putuskan melalui ratusan darah dan
mayat manusia di seluruh Bumi Timor Lorosae. Ratusan keringat, air mata dan
darah telah mengalir di bumi Lorosae ini, bagaikan mata air yang mengalir ke
laut, namun semua itu mulai terlihat adanya terang di atas Gunung
Tatamailau. Bahkan suatu saat nanti seekor ayam jantan berdiri diatas gunung
Tatamailau akan berkotek sebagai tanda bahwa kita semua sama-sama telah
memenangkan suatu perjuangan. Menang kita semua menang, dan bukan hanya
kami, tapi kalian semua dan kita semua yang menang.Karena melalui perdamaian
itu akan membuat para janda saling berpelukan sambil menanggis.
Dalam perdamaian itu juga kita dapat melihat para kaum muda-mudi lebih mencari
tahu, untuk apa Cinta itu bisa mengalir lewat cela dua tangan. Karena hanya
lewat perdamaian itulah anak-cucu kita bisa bermain dengan bebas dan gembira.
Dengan perdamaian kita dapat menghibur hati para ibu-ibu dan bapak-bapak untuk
lebih senang dan karena hidup dengan perbuatan dan cinta yang sejati. Karenanya
kami bersikeras untuk perang melawan Indonesia dengan berbagai risiko, tapi
bukan menyambung perang seperti yang kalian pikirkan. Bukan! Kami berpikir bahwa
perang yang kami lakukan adalah demi kebaikan, terutama demi anak-cucu kita pada
masa mendatang. Bagi kami sudah berakhir.
Kami menilai bahwa perang yang kalian maksud adalah SALAH, berpikir TIDAK
BENAR, tidak berpikir PANJANG, berpikit PENDEK, berpikir LEMAH seperti
pendahulu. Maka sebagai generasi muda baru Timor Lorosae, dimana dengan
darahnya sendiri telah mencuci semua kesalahan yang dilakukan para pejuang
tua pada masa lalu. Jika kalian menyambung perang maka tidak membawah suatu
keuntungan apa pun bagi kita. Malah menambah kesusahan, perderitaan bagi
kita semua sebagai saudara atau adik-kakak. Kami dengar katanya jika kami
(FALINTIL) turun kota, lantas kalian (pro-integrasi) mau masuk hutan untuk
perang. Perang dan bertahan dengan siapa? Semua bisa muncul dan terjadi tapi
menurut kami adalah mustahil.
Oke, karena kondisi ini agak susah bagi niat kalian untuk bertahan dan
menang rakyat Timor Lorosae seperti kemauan kalian maka kami minta antara
kalian (pro-integrasi) dan kami (Falintil) meletakan senjata lalu kita
bicara. Mari kita berdialog untuk bisa memperpendek masalah, karena adalah
saudara, adik dan kakak. Rakyat kita yang mati tak berdosa menunggu
perbuatan baik kita, dan berpikir untuk membangun masa depan daerah kita.
Saudara-Saudara...senjata dan perang yang kami lakukan dengan kemauan dan
cinta, di mana kami tidak memenangkan sepotong emas dan perak, tapi demi
kebaikan dan perdamaian di atas Bumi Timor Lorosae. Kebaikan dan perdamaian
itu telah nampak bersamaan dengan terbitnya matahari. Untuk itu kami tetap
mempertahankan semua itu demi kalian untuk memperoleh hak-hak kalian di bumi
Timor Lorosae. Akan tetapi suatu saat kalian jangan meneriakan dan mencap
kami sebagai orang tidak berpendidikan.
Hal yang perlu diketahui saat ini, dana Indonesia yang digunakan untuk
pembantaian tidak dapat memecah-belah persatuan dan kesatuan orang Timor
begitu saja. Ini bukan jamannya diktator Soeharto dan Prabowo yang sangat
rakus dan suka menipu rakyat Indonesia. Sekarang Indonesia juga mau
memperbaiki citra jeleknya di mata dunia internasional. Jika kalian tidak
percaya kepada semut di bumi dan malaikat di surga maka Jendral Wiranto
melawan perjuangan.
Saudara-Saudara, kami berpikir bahwa tidak ada alternatif untuk membunuh
kami. Jangan berpikir lagi untuk saling membunuh dan saling memecahbela
sebab kalian pernah mengatakan bahwa kita sendiri yang melukai tangan dan
kaki. Bahkan kita sendiri yang mengotori dan memalukan diri sendiri. Jangan
sampai kolonial Indonesia. Presiden Indonesia bersama konco-konconya yang
buta dan tidak berhati yang tertawa (bergembira) di atas darah dan tulan kita.
Untuk semuanya maka kami memberitahukan kepada saudara Timorense...mari lah
kita bersama-sama berbuat sesuatu, dimana Timor Lorosae itu milik semua
orang Timor. Hanya kita sendiri yang menyuburi dan memperkuat pikiran kita.
Semuanya demi memperoleh kebahagian Timor Lorosae seperti yang sedang
dibahas Indonesia, Portugal dibawah naungan PBB. Untuk mengakhiri semua
kesusahan dan penderitaan kita selama ini maka kapan kita mati pun tetap di
bumi dan bendera Timor Lorosae. Bukan kita malah mati di bawah bendera Merah
Putih dan negara orang lain.
Untuk mengakhirinya maka kami sampaikan imbauan kami, terutama bagi kaum
muda sebagai lambang perdamaian di Bumi Timor Lorosae selama-lamanya. Kaum
muda Timor Lorosae harus selalu tampil dengan kelakukan yang baik demi
mempertahankan budaya kita.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html