Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 12/II/4-11 April 99
------------------------------

PARTAI CENDANA, RUSAK KPU

(POLITIK): Partai-partai Cendana lakukan sejumlah manuver di tubuh Komite
Pemilihan Umum (KPU). Target akhirnya menggagalkan Pemilu?

Pengamat politik LIPI Muhammad AS Hikam tampaknya sudah tak tahan melihat
berbagai putusan Komite Pemilihan Umum (KPU) yang dinilainya makin tak
proporsional dan keluar dari rel-nya sebagai badan penyelenggara Pemilu.
Dalam suatu seminar, Rabu (31/3), salah satu keputusan KPU yang digugatnya
sebagai tak proporsional itu adalah permohonan dana bantuan dari
partai-partai politik kepada pemerintah sebesar Rp1 milyar hingga Rp25 milyar.

"Belum apa-apa partai-partai itu telah menunjukkan perilaku yang tak sesuai
dengan harapan rakyat. Tunjukkan dulu program kerja yang dapat meraih
simpatik rakyat pemilih, baru bicara soal dana bantuan dan sebagainya,"
ucapnya dengan nada kecewa.

Menurut Jacob Tobing, wakil PDI Perjuangan di KPU, usulan permintaaan dana
itu sebenarnya bukan menjadi skala prioritas partai-partai besar yang
memiliki massa-riil seperti partainya. Tapi usulan tersebut, lanjutnya,
didesakkan oleh sejumlah partai-partai "gurem" yang mengklaim tak memiliki
dana yang cukup menghadapi Pemilu mendatang.

Partai-partai "gurem" yang mendesakkan permintaan bantuan dana itu ternyata,
seperti disebutkan sejumlah perwakilan partai-partai politik di KPU,
didominasi oleh partai-partai politik yang ditengarai telah menerima dana
dari keluarga Cendana. Partai-partai politik tersebut adalah mereka yang
membentuk forum partai politik di bawah koordinasi Agus Miftach, dan mereka
yang tergabung ke dalam Aliansi Partai Reformasi yang dipimpin Syarifuddin
Harahap.

Partai-partai politik milik keluarga Cendana tersebut memang secara periodik
beberapa waktu lalu melakukan pertemuan di rumah Ibnu Hartomo, salah satu
kerabat keluarga Cendana di kawasan Condet. Di tempat itulah, kata sumber
dari Partai Aliansi  Kebangkitan Muslim Sunni Indonesia (Akamsi), digodog
pedoman gerilya politik -atas pesanan keluarga Cendana- partai-partai
tersebut untuk menggagalkan Pemilu, apapun caranya.

Tampaknya KPU menjadi obyek gerilya politik yang menguntungkan partai-partai
pro-status quo ini. Partai-partai "gurem" yang relatif tak memiliki kans
untuk memenangkan Pemilu bulan Juni mendatang itu, melakukan sejumlah
manuver, yang -sepintas lalu- radikal dan bersuara vokal dalam mengambil
sikap berseberangan dengan pemerintahan Habibie, misalkan dalam soal
keputusan boleh tidaknya menteri dan pejabat negara berkampanye.

Dari 46 suara setuju menteri tidak boleh berkampanye pada hasil voting pekan
lalu, sebagian besar didukung partai-partai milik keluarga Cendana tersebut.
Mereka dalam rapat pleno KPU, Rabu (31/3), bahkan bersuara keras, dan
mendesak Rudini, Ketua KPU, untuk tak tunduk dengan fatwa MA yang dinilai
telah salah kaprah dalam mengeluarkan pertimbangan hukumnya tertanggal 26
Maret 1999.

Menurut Hikam, mungkin saja partai-partai "gurem" itu berkepentingan untuk
mematangkan konflik antara KPU dengan pemerintah. "Jika ini berlarut-larut,
maka penyelenggaraan Pemilu terancam mundur, dan yang terburuk gagal sama
sekali. Ini kan sesuai dengan skenario pendukung status quo," katanya.

Sasaran tembak partai-partai "made in" keluarga Cendana ini tak hanya
pemerintah, tapi juga partai-partai besar berbasis massa riil yang dikenal
sebagai partai-partai penentang status quo, yang memiliki kans besar
memenangkan Pemilu. PDI Perjuangan merupakan salah satu partai besar yang
dibidik mereka. Tak jelas apa kaitannya dengan tugas pekerjaan KPU, Ketua
DPP Partai Bulan Bintang (PBB) Hartono Mardjono SH, dan Sekjen DPP Partai
Indonesia Baru (PIB) Soekarno Tomo, mendesak Rudini, agar KPU mengeluarkan
aturan yang membubarkan keberadaan posko-posko milik PDI Perjuangan yang
tersebar di berbagai kota besar dan kecil, serta di pelosok pedesaan di
Indonesia.

Entah kurang jeli mencermati manuver politik dibalik desakan tersebut,
Rudini berjanji akan mendukung keluarnya keputusan yang membubarkan
keberadaan posko-posko tersebut. Salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan
Soetardjo Soerjogoeritno menilai, desakan partai-partai "gurem" tersebut
sudah tak proporsional, tak realistis, dan tak memahami realitas obyektif
dukungan rakyat terhadap PDI Perjuangan.

"Ini jelas bagian dari gerilya politik pro-status quo untuk menggembosi
partai-partai pro-demokrasi. Sudah jelas hakekat pendirian posko-posko itu
berbeda dengan kuningisasi dulu. Kalau kuningisasi itu kan modelnya
top-down, sedangkan kehadiran posko-posko itu modelnya bottom-up, inisiatif
dan prakarsa rakyat," ujar mantan ketua GMNI Yogyakarta itu. 

Soetardjo bahkan mengecam partai-partai "gurem" tersebut telah menjadi
tiran-tiran baru dan bertindak otoriter dengan memanfaatkan KPU sebagai
kendaraan demi memperjuangkan kepentingan politik kelompoknya saja.

Ini memang tak mengherankan benar, karena Agus Miftach sendiri -sang
koordinator forum partai-partai politik "made in" keluarga Cendana tersebut,
menurut sumber Xpos di kalangan pengurus partai-partai politik, memiliki
catatan buruk di masa lalu. Ia ternyata merupakan "orang" Bakin (Badan
Koordinasi Intelijen Negara) yang ditanamkan untuk berkiprah di LSM dan kini
di partai politik, sebagai Ketua Umum Partai Rakyat Indonesia (PARI).

Agus Miftach juga pernah memiliki hubungan baik dengan Bob Hasan. Bob pernah
memberikan dana bagi Agus untuk mengelola sebuah LSM yang bergerak dalam
bidang pengelolaan hutan, yakni Masyarakat Perkayuan Indonesia (MPI). Agus
diberikan sebuah kantor di lingkungan perkantoran di Manggala Wanabhakti.
Ketika gerakan reformasi yang dipelopori para mahasiswa berhasil
menumbangkan Presiden Soeharto, bakat oportunis Agus muncul, dengan membelot
dari Bob -yang kroninya Soeharto itu-, serta membentuk MPI Reformasi.

Jadi sebagaimana pesan salah seorang wakil parpol di KPU kepada Rudini yang
disampaikannya melalui Xpos: "berhati-hati lah Pak Rudini, karena
orang-orangnya keluarga Cendana berupaya memanfaatkan Anda dan KPU sebagai
kuda tunggangan untuk menggolkan skenario memenangkan status quo."  (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke