Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 12/II/4-11 April 99
------------------------------

KDI TERANCAM, ADI GUSAR

(POLITIK): Koperasi Distribusi Indonesia (KDI) dituntut dibubarkan. Tambang
emas Adi Sasono terancam bocor.

Nasib Koperasi Distribusi Indonesia (KDI) di ujung tanduk. Entah karena
angin apa, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Rahardi Ramelan
mempertimbang akan mencabut SK No.505/MPP/Kep/10/1998. Kalau SK ini dicabut,
ya tamatlah riwayat KDI, kartel koperasi bikinan Adi Sasono, Menteri
Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah.

Asal tahu saja, SK tersebut adalah SK yang memberikan hak monopoli
distribusi minyak goreng PT Perkebunan Nusantara dan gula pasir produksi PT
Rajawali Nusantara untuk Koperasi Distribusi Indonesia (KDI).

Rahardi beberapa waktu lalu mengatakan akan meninjau kembali SK itu karena
permintaan sejumlah koperasi di beberapa daerah. Sejumlah anggota dewan
perwakilan rakyat di daerah juga menuntut agar KDI dibubarkan saja. Kartel
KDI diberi tugas oleh Departemen Koperasi mengendalikan harga minyak goreng
yang sempat melonjak jadi Rp10 ribu per kilogram. Namun, pembentukan kartel
ini, 12 Juli tahun lalu, sebenarnya untuk mengambil-alih jalur distribusi
bahan makanan dari para pedagang Cina. Ketua Umum KDI bukan orang asing:
Nurdin Halid, koruptor yang dengan gampang bebas dari hukuman. KDI
memonopoli distribusi 40% minyak goreng curah nasional dan sekitar 40% gula
pasir. KDI belakangan juga akan memonopoli distribusi beras menggantikan
peran Bulog.

KDI dimodali pemerintah, duit segar berbunga rendah sebanyak Rp600 miliar.
Duit sebanyak itu diambil dari dana pajak ekspor crude oil palm. Dari
distribusi minyak goreng, KDI untung Rp50 tiap kilogramnya. Kalau kebutuhan
minyak goreng nasional mencapai tujuh ribu ton, keuntungan yang bakal diraup
KDI sebesar Rp350 juta sehari atau Rp10 miliar sebulan. Belum lagi
keuntungan penyalur gula pasir yang juga menguntungkannya. 

Namun, mungkin karena kinerja KDI yang makin memburuk belakangan ini,
sejumlah koperasi di daerah mengeluh karena tak kebagian minyak goreng.
Keluhan ini sampai ke meja Rahardi yang kemudian berjanji akan meninjau SK
itu. Terang saja pernyataan Rahardi ini membuat Adi Sasono cemas. Ia lalu
meminta Rahardi agar tak mencabut SK itu hanya karena permintaan beberapa
orang saja.

Belum terdengar apa komentar Rahardi tentang permintaan Adi agar ia tak
mencabut SK itu. Namun, jika kelompok Akbar Tanjung yang bersetru dengan Adi
(baca: Gerilya Politik Sang Menteri Koperasi), memang tengah mengerjai Adi,
bisa jadi SK itu dicabut Rahardi. Rahardi memang dekat dengan Adi, namun ia
tak terlalu kuat menerima tekanan Akbar dan kawan-kawannya. Nah, kalau
monopoli KDI dicabut, hilanglah salah satu tambang emas Adi. Dan, tentu ini
juga mengurangi pasokan dana untuk gerilya politiknya. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke