Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 12/II/4-11 April 99
------------------------------

BUPATI MUNDUR, SIAPA PEMBANTAINYA?

(POLITIK): Bupati Banyuwangi, Purnomo Sidik mundur dari jabatan dan ada
upaya untuk tetap mempertahankannya. Tekanan kelompok 101 kian gencar. Tapi
pembataian warga NU tetap sebagai misteri.

Setelah terombang-ambing tiga bulan, upaya 101 ulama Banyuwangi untuk
menuntut mundur Bupati Purnomo Sidik membuahkan hasil. Kamis (25/3), Bupati
Banyuwangi, disaksikan pimpinan DPRD Banyuwangi membuat pernyataan
pengunduran diri. "Saya mengundurkan diri karena ada desakan dari atas,"
kata Purnomo. Ucapan bupati ini mau tidak mau membuat tanda tanya, betulkah
Purnomo legowo melepaskan jabatannya? Siapa yang menekan? Sumber Xpos
mengatakan Danrem Banyuwangi, Kolonel (Inf) Agus Suyitno, sebenarnya aktif
memainkan peran agar Purnomo mau mundur. Beberapa waktu lalu, ketika massa
mengepung kantor Pemda dan berniat tidak akan meninggalkannya sampai ada
keputusan atas tuntutan pengunduran diri bupati. Danrem Baladika Jaya
berinisiatif bertemu kiai sepuh, KH Zarkasyi Junaedi. "Niatan ini baru
terlaksana kesokan harinya. Saat itu juga beberapa  tokoh 101 ulama
berkumpul di rumah Kiai Zarkasyi," ujar sumber Xpos itu. Hal ini dibenarkan
oleh KH Hasyim Cholil, koordinator 101 ulama sekaligus Ketua PC NU
Banyuwangi. Pak Hasyim, demikian biasanya dipanggil, berpendapat bahwa semua
inisiatif berasal dari Kolonel Agus Suyitno. 

Kalau dirunut ke belakang, aktifnya Kolonel Agus Suyitno mengambil inisiatif
tidak lepas dari keinginan Pangdam Brawijaya, Mayjen Ryamizard Ryacudu untuk
secepatnya menyelesaikan masalah Banyuwangi. Hal itu disampaikan pada akhir
Januari 1999 saat berdialog dengan 101 ulama. Mungkinkah langkah yang
diambil Danrem Baladika Jaya lebih banyak didasarkan pertimbangan keamanan?
Apakah ada kaitan dengan persiapan menjelang pemilu?

Saat dihubungi, Danrem, Baladika Jaya, Kolonel Agus Suyitno mengatakan
kalaupun inisiatif penyelesaian berasal dari dia, semuanya semata untuk
kebaikan Banyuwangi sendiri. "Kita tidak bisa membiarkan kondisi yang rawan
konflik itu terus berlangsung. Hanya itu," katanya. 

Bagaimana dengan pernyataan bupatai yang mengatakan bahwa pengunduran
dirinya karena desakan? Agus mentakan desakan dari atas memang ada. Agus
Suyitno juga menolak kalau dikatakan keberadaan dirinya dalam proses
perundingan sebagai representasi pihak atas yang mendesak Purnomo. 

Tetapi sehari setelah pernyataan mundur Purnomo, Azis Burhanuddin, anggota
FPP DPRD Banyuwangi menganggap keputusan Ketua DPRD untuk memberikan tanda
tangannya hanya sebagai keputusan pribadi, bukan keputusan dewan. Sebab
tidak melalui rapat dewan. Lho? Usaha membela Purnomo?

"Tidak. Saya tidak membela, tapi mencoba mendudukkan persoalan sesuai
prosedur semestinya. Apalagi sebenarnya ada kelompok masyarakat yang justru
menghendaki bupati dipertahankan. Mengapa suara dari kelompok ini tidak
dipertimbangkan?" katanya. Kelompok mana? "Pokoknya ada," katanya singkat.

Menanggapi hal ini, Ketua DPRD Banyuwangi, Damad Dahono sempat terkejut. Dia
menyesalkan pernyataan itu. Damad mengatakan statement Azis itu keluar
karena tidak tahu prosesnya. "Ini kan masih tahap awal. Nanti tugas dewan
meneruskan dan membahas dalam sidang panipurna. Sudahlah, yang penting kita
berusaha mencegah potensi ancaman keamanan bagi Banyuwangi," kata Damad.

Menyinggung tentang pasifnya DPRD terhadap gejolak masyarakat, Damad menolak
anggapan itu. Bagi Damad, kunci penyelesaian tetap ada pada bupati. Sebab
DPRD tidak mempunyai kewenangan untuk memberhentikan bupati. Selesai? Belum.
Jauh hari Dirjen PUOD Depdagri, Prof. Dr. Ryaas Rasyid mengatakan tidak akan
mengeluarkan surat pemberhentian bagi bupati Banyuwangi. Meskipun didasarkan
pada permohonan bupati sendiri. "Saya tidak akan meluluskan," katanya kepada
wartawan di Jakarta.

KH. Hasyim Cholil terkejut ketika diberi tahu komentar Ryaas Rasyid. Tapi
kiai yang satu ini masih tetap yakin Mendagri, Syarwan Hamid akan meluluskan
permohonan ini. Apalagi KH Hasyim yakin Purnomo tidak akan menjilat ludah
kembali. Kalau tidak? "Sebagaimana yang dikatakan bupati, dia mundur demi
keamanan Banyuwangi. Kalau Mendagri tidak meluluskan permintaan ini berarti
Mendagri tidak menginginkan adanya keamanan. Dia akan tahu sendiri
akibatnya," katanya dengan sedikitnya ancaman.

Cukup pelik memang babak akhir kasus Banyuwangi ini. Di satu sisi, tekanan
masyarakat sudah demikian kuat, bahkan sudah diwujudkan dalam bentuk
pendudukan kantor pemda Banyuwangi. Tapi di sisi lain, ada kelompok yang
tidak diuntungkan dengan turunnya bupati Banyuwangi. Kelompok ini yang punya
peluang memunculkan konflik.

Kelompok inilah yang ditengarai bisa menimbulkan masalah baru di Banyuwangi.
Indikasi ini terlihat dari pernyataan Azis Burhanudin. Anggota FPP DPRD
Banyuwangi ini mengatakan bahwa keputusan mundurnya bupati justru akan
memunculkan konflik baru. Sayang saat didesak, Azis tidak mau merinci lebih
jauh.

Tetapi satu informasi salah seorang dari 101 ulama memberikan gambaran
sedikit jelas. Menurut ulama muda ini dengan keberhasilan para ulama ini mau
tidak mau semakin mengangkat nama PKB di masyarakat. Sebab yang selama ini
getol memperjuangkan tuntutan adalah para ulama ini yang notabene pendukung
PKB Banyuwangi. "Ini jelas tidak dikehendaki oleh beberapa partai politik
yang ada. Seperti PPP Banyuwangi. Semakin tipis peluangnya meraih suara.
Juga Golkar," kata pengasuh pondok pesantren di Gambiran, Genteng ini.

Cukup beralasan memang. Paling tidak, dalam pemilu mendatang, PKB merupakan
ancaman yang cukup besar bagi PPP dan Golkar. Sebab selama ini, dua partai
warisan Orde Baru ini lebih banyak ditopang oleh basis massa NU. Dengan
semakin menguatnya PKB di Banyuwangi berarti mengurangi peluang bagi Golkar
dan PPP.

Namun potensi rusuh akan semakin besar jika tuntutan rakyat tidak mendapat
tanggapan yang serius bagi pemerintah. Seperti yang dikatakan seorang  warga
keturunan Cina pendukung PKB. "Saya tak tahu lagi kalau sampai tuntutan
masyarakat diabaikan Jakarta," kata pengusaha yang cukup berhasil di
Banyuwangi ini. 

Selanjutnya pengusaha ini mengatakan  apapun yang dikatakan oleh aktivis
PPP, jelas aspirasi yang dibawa oleh  101 ulama merupakan suara mayoritas
rakyat Banyuwangi. "Siapa masih meragukan kredibilitas KH Zarkasyi. Sekali
beliau mengatakan A, seluruh masyarakat akan berdiri di belakangnya. Kalau
orang PPP itu kan hanya didasarkan kekecewaan dan ketakutan kehilangan
kekuasaan," katanya. Apapun yang menjadi argumentasi kedua pihak yang
menyimpan potensi rusuh, yang jelas kedua pilihan ini memang cukup sulit.
Tetapi akan lebih sulit kalau Banyuwangi diobok-obok lagi.

Kendati Purnomo mundur, misteri pembantaian warga NU di Banyuwangi dan
sekitarnya belum juga terungkap. Kalau Purnomo didicurigai terlibat,
sebaiknya setelah mundur, ia diperiksa. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke