Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 12/II/4-11 April 99
------------------------------

BERAS JEPANG DISOAL LAGI

(POLITIK): Beras sumbangan Jepang yang didistribusikan Nahdlatul Ulama
ternyata beras tak terpakai. Justru lebih murah jika mendatangkan beras
Thailand.

Berita Harian Yomiuri, 19 Maret 1999, benar-benar menyentak nurani kita.
Investigasi harian berbahasa Jepang yang terbit di Tokyo itu memberi
kesimpulan bahwa soft loan berupa beras dari negeri itu bukanlah sebuah niat
yang seluruhnya baik. Akhir tahun lalu, ketika krisis pangan di Indonesia
dikawatirkan akan membawa bencana kelaparan, pemerintah Jepang tergerak
hatinya menyumbangkan stok beras. Kala itu, Indonesia membutuhkan beras
impor sebanyak 3,5 juta ton, jumlah yang tak main-main. Pemerintah Jepang
meminjamkan berasnya sebanyak 700 ribu ton atau senilai 99 milyar yen.

Pemerintah Jepang telah dua kali mengirim beras bantuan Jepang sebagai
pinjaman darurat. Beras itu sebagian besar telah didistribusikan oleh
Lapesdam-NU ke masyarakat yang memburuhkan di beberapa tempat di Indonesia.

Nah, menurut Yomuiri, harga sesungguhnya beras Jepang itu 99 milyar yen,
namun karena Indonesia menggunakan harga standar internasional ketika
mengembalikan, maka harganya menjadi 22,4 milyar yen. Sisanya, sekitar 76,6
miliar yen, menjadi tanggungan rakyat Jepang. Menurut Yomuiri, niat
pemerintah Jepang ini sebenarnya tak lebih untuk menghabiskan stok beras
Jepang yang kelebihan. Kalau terus menerus disimpan, lama-lama beras itu
busuk juga.

Yomuiri mewawancarai Seiji Ueda anggota Parlemen dari Partai Demokratis di
Komisi Luar Negeri Parlemen. Menurut Seiji, beras bantuan Jepang ini adalah
beras simpanan untuk keperluan darurat yang terdiri dari 60% beras domestik
dan 40% beras minimum diimpor. Nah, Indonesia akan mengembalikan utang beras
itu dengan cicilan selama 32 tahun.

Seiji mengatakan, dibandingkan dengan beras Thailan, beras domestik Jepang
ini lebih mahal yakni serharga 300 ribu yen per ton. Padahal untuk kualitas
yang sama dari Tahilan hanya seharga 100 ribu yen per ton. Jelas tiga kali
lebih murah.

Menurut perhitungan Seiji, seandainya pemerintah Jepang memberi pemerintah
Indonesia pinjaman yen untuk mengimpor beras dari Thai, Jepang bisa
menghemat biaya sampai 21 milyar yen. Lagi pula rasa beras Thai dan
Indonesia mirip, karena itu dari dulu beras Thai sudah dikonsumsi masyarakat
Indonesia.

Menanggapi kritikan Seiji ini, Departemen Pertanian dan Kehutanan Jepang
mengatakan, jika Indonesia membeli beras yang sangat banyak dalam waktu
singkat, ada kemungkinan harga beras dunia akan membumbung tinggi. Makanya
Pemerintah jepang memberikan pinjaman beras, bukan yen.

Namun, di kalangan parlemen Jepang timbul kecurigaan, bahwa pengiriman beran
ke Indonesia karena peraturan pangan yang baru menetapkan jumlah stok beras
darurat sebanyak 1,5 juta ton. Pada Oktober lalu beras simpanan mencapai 2,9
juta ton, jadi kelebihan sekitar 1,4 juta ton. Karena kelebihan stok itu,
maka biaya pemeliharaan juga naik, antara lain untuk ongkos gudang, AC dan
lain-lain memerlukan 35,4 milyar yen.

Kenyataanya, bantuan beras terhadap Indonesia menjadi kesempatan baik bagi
pemerintah Jepang untuk menghabiskan stok berasnya yang tidak digunakan.
Toh, kendati begitu, Indonesia dengan senang hati menerima bantuan beras
murah dari Jepang itu. Memang ada banyak masalah menyangkut distribusinya.
Depot Logistik (Dolog) harus mengeluarkan ongkos angkut yang cukup besar
untuk mendistribusikan beras-beras itu ke beberapa tempat yang ditunjuk
Lapesdam-NU. Nah, buntutnya NU harus mengganti ongkos angkut. Tentu saja NU,
misalnya PWNU Jawa Timur tak punya uang untuk mengganti ongkos angkut.
Untung Asia Foundation, sebuah LSM dari Amerika yang punya kantor di
Jakarta, baik hati dan bersedia membayar ongkos angkut itu.

Ketika mulai didistribusikan beras ini kesandung masalah lainnya. Kantor
Berita Antara menulis, NU mempolitisir beras itu untuk kepentingan Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang didirikan oleh NU. Ini karena karung
beras itu dicap dengan logo PKB. Berita itu dibantah Lapesdam-NU, lembaga
otonom di lingkungan NU. Menurut Lapesdam, logo itu logo Lapesdam yang
memang mirip dengan logo PBNU dan logo PKB. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke