Precedence: bulk
PRO-STATUS QUO ISLAMI?
Oleh: Sulangkang Suwalu
Ketua Pelaksana Harian KISDI Ahmad Soemargono mengemukakan kekecewaannya
kepada Habibie, karena "... hari demi hari, Habibie makin menjauhi umat
Islam. Habibie takut dicap fundamentalis atau sektarian. Ketakutan itu
muncul karena Habibie memiliki ambisi untuk terus berkuasa dan itu manusiawi
karena itu umat Islam sebenarnya sekarang sedang mencari simbol alternatif,
namun belum menemukannya." (Kompas, 9/3).
Seterusnya Ahmad mengatakan terus terang, umat Islam sekarang ini kecewa
pada Habibie. Ia menyebut contoh perlakuan Habibie terhadap Xanana Gusmao
sehingga menjadikannya sebagai pahlawan. Mengapa, katanya, tidak lepas
Xanana sekalian.
Habibie juga menurut Ahmad mengumbar kata-kata yang sudah masuk kuburan
"ekstrem Islam". Yang paling menyakitkan itu, Habibie menghidupkan PRD yang
Marxis itu. Jadi reformasi itu dilihat umat Islam seolah-olah segalanya
dibolehkan Habibie. Jangan-Jangan sebentar lagi kita membuka hubungan
diplomatik dengan zionis Israel.
Hanya saja lanjutnya, saat ini belum ada figur lain sebagai simbol
alternatif. Karena itu Ahmad berharap dalam perkembangannya nanti akan
muncul tokoh yang diharapkan.
Menurut dia, bagaimanapun pemimpin masa depan harus memiliki dukungan dari
umat Islam. Atau setidaknya, tidak memusuhi Islam, maka ia akan kami dukung.
Saya pernah mengatakan tidak peduli apakah orang itu pro status quo, tapi
kalau membawa aspirasi Islam, maka ia akan kami dukung. Demikian Ahmad
Soemargono.
Tampaknya kekecewaan Ahmad Soemargono kepada Habibie disebabkan opsi
otonomi luas atau lepas dari Indonesia bagi Timtim, disahkannya PRD sebagai
parpol peserta pemilu, julukan ekstrem Islam bagi sementara umat Islam.
Selain daripada itu juga muncul persoalan hubungan pro status quo dengan
aspirasi umat Islam. Mari kita amati!
HABIBIE DAN TIMTIM
Seperti diketahui pemerintahan Habibie mengemukakan opsi bagi penyelesaian
masalah Timtim, yaitu otonomi khusus yang luas atau lepas dari Indonesia.
Dalam perkembangannya kemudian Xanana Gusmao dipindahkan dari penjara
Cipinang ke rumah tahanan khuaus di Salemba. Dengan demikian diharapkan
Xanana akan dapat menyumbangkan pikirannya bagi penyelesaian masalah Timtim.
Menjadi pertanyaan: faktor apa yang mendorong Habibie melontarkan ide opsi
di atas, apakah secara sukarela ataukah karena dipaksa oleh tekanan dunia
serta tekanan krisis ekonomi dan kepercayaan dalam negeri yang masih
berlanjut terus. Suatu hal yang mustahil, Habibie menampilkan ide opsi tsb
karena baik hatinya pada rakyat Timtim. Opsi itu muncul karena dipaksa oleh
situasi yang tidak menguntungkan bagi Indonesia.
Bila Habibie tidak muncul dengan ide opsinya tsb diperkirakan tekanan dunia
internasional akan semakin keras dan itu akan lebih memperpanjang masa
krisis kepercayaan di dalam negeri. Sebagai konsekuen dari opsi tersebut,
memang terbuka kesempatan bagi Xanana Gusmao untuk menunjukkan perannya
sebagai pemimpin bangsa Maubere yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan.
Dan dari sanalah menonjol dirinya sebagai pahlawan bangsa Maubere, rakyat
Timtim. Memang Xanana bukan pahlawan dari bangsa Indonesia, seperti juga
Bung Karno bukan pahlawan bangsa Belanda.
Ahmad Soemargono rupanya kurang memahami latar belakang ide opsi yang
dilontarkan Habibie tsb. Itu hanya sebuah sandiwara, seolah-olah Habibie
setuju Timtim lepas dari Indonesia. Padahal sesungguhnya tidak demikian.
Sejak dengan opsinya ditanamkannya bom waktu, melalui dipersenjatainya warga
sipil pro integrasi. Dengan demikian hal itu justru akan menyulitkan posisi
Xanana untuk memperjuangkan Timtim Merdeka.
Kekecewaaan Ahmad Soemargono atas opsi Habibie mengenai Timtim tsb, hanya
mencerminkan dukungannya pada politik penjajahan atas Timtim dari fasis
Suharto. Padahal penjajahan atas Timtim itu bertentangan 180 derajat dengan
Mukaddimah UUD 1945, yaitu kemerdekaan bagi tiap-tiap bangsa, tentu tidak
terkecuali bagi bangsa Maubere. Rupanya Ahmad Soemargono menolak isi
Mukaddimah UUD 1945 itu, karena isinya mengakui hak menentukan nasib sendiri
bagi setiap bangsa. Hak menentukan nasib sendiri itu bukan hanya untuk
bangsa Indonesia, tapi juga untuk bangsa Maubere. Jika hak menentukan nasib
sendiri itu tidak berlaku bagi bangsa Maubere, dimana letak keadilan yang
menjadi benang merah ajaran Islam, yang katanya dianut Ahmad Soemargono?
Ya, Islamnya Ahmad Soemargono adalah Islamnya fundamentalis, Islam yang
sektarian, dimana Habibie dinilainya takut pada pendirian yang begitu.
HABIBIE DAN PRD
Seperti juga ide opsi bagi Timtim yang terpaksa dilontarkan Habibie, maka
pengesahan PRD oleh pemerintahan Habibie sebagai partai yang berhak menjadi
peserta pemilu, adalah karena semua syarat yang diperlukan sebagai suatu
partai politik telah dipenuhi PRD. Semula memang ada usaha menjegalnya,
dengan dalih RRD menggunakan istilah yang berbau Orde Lama, yaitu azas
demokrasi kerakyatan. Namun kemudian terpaksa dibenarkan, juga PRD mengakui
Pancasila sebagai azasnya. Meniadakan hak PRD sebagai parpol, terlalu
mencolok anti demokrasinya Habibie. Padahal Habibie hendak menunjukkan dia
adalah seorang demokrat.
Selain dari pada itu baik Pasal 28 UUD 1945, maupun Pancasila menjamin hak
hidupnya PRD sebagai sebuah faham politik dari rakyat Indonesia yang dapat
memperjuangkan fahamnya itu di dalam Dewan-Dewan Perwakilan Rakyat.
Jadi, meniadakan hak hidup bagi PRD selain dari bertentangan dengan UUD
1945 dan Pancasila, juga akan menunjukkan anti demokrasinya Habibie dan
sifatnya yang demikian hanya akan memamerkan kefasisannya belaka. Seperti
diketahui Sekneg pada tahun 1994 melalui buku "G.30-S Pemberontakan PKI"
telah memuat definisi fasisme, yaitu: ideologi otoriter yang memuja
superioritas nasional, anti komunisme dan liberalisme.
Di samping keterpaksaan pemerintah mengakui hak hidup PRD, karena Habibie
juga meyakini dalam pemilu yang akan datang PRD tak akan mempunyai daya
kekuatan. Karena, Habibie di samping berhak mengangkat 65 orang wakil
golongan, 155 orang utusan daerah, sisa 38 kursi bagi ABRI, yang tentu
mereka itu tidak akan mendukung PRD, melainkan pihak Habibie.
Tampaknya Ahmad Soemargono menyesali sikap Habibie yang mengakui hak hidup
PRD, karena Ketua KISDI tsb hendak melanjutkan politik fasisme Suharto yang
memenjarakan aktivis PRD, dengan dalih mereka melakukan kegiatan subversif.
Hanya kaum fasis yang mendukung fasis Suharto. Dan Ahmad Soemargono termasuk
pendukung fasis Suharto tersebut.
ISLAM DAN PRO-STATUS QUO
Yang amat menarik ialah pengakuan Ahmad Soemargono bahwa dia pernah
mengatakan "tidak peduli orang itu pro status quo, tapi membawa aspirasi
umat Islam, maka ia akan kami dukung". Pernyataan Ahmad Soemargono ini
menimbulkan pertanyaan: apakah ia mengerti hakikatnya seseorang yang
menyatakan pro status quo? Apakah pro status quo itu menunjukkan Islaminya
seseorang?
Pro status quo, berarti pro kepada politik pembunuhan terhadap demokrasi
yang dilakukan Suharto selama 32 tahun ia berkuasa; pro status quo berarti
pro terhadap pembantaian-pembantaian yang dilakukan Suharto terhadap umat
Islam di Aceh, di Tanjung Priok, di Lampung dan juga terhadap lawan-lawan
politiknya; pro status quo berarti pro dilakukannya KKN (korupsi, kolusi dan
nepotisme) yang dilakukan Suharto demi kepentingan anak cucu dan
kroni-kroninya. Tegasnya pro status quo berarti pro kezaliman, pro kemunkaran.
Apa kah dapat dikatakan seorang pro status quo yang membawa aspirasi umat
Islam? Seorang yang Islam yang sungguh-sungguh, bukan Islamnya hanya sekedar
sebagai kenderaan untuk kepentingan politiknya, tentu dia akan menegakkan
amar ma'ruf nahi munkar. Ini sesuai dengan surat Ali Imran ayat 104, yang
berbunyi: "Hendak lah ada diantara kamu umat yang menyeru kepada kebaikan,
menyuruh dengan ma'ruf dan melarang dari yang munkar dan mereka itulah yang
menang".
Bila Ahmad Soemargono benar-benar Islami tentu dia akan menegakkan
keadilan, karena menegakkan keadilan itu menjadi kewajiban umat Islam. Ini
sesuai dengan Surat Al Maidah Ayat 8, yang berbunyi: "Hai orang-orang yang
beriman, hendaklah kamu berdiri karena Allah, menjadi saksi dengan keadilan.
Jangan kamu tertarik karena kebencian pada satu kaum, sehingga kamu tidak
berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada taqwa
dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa-apa yang
kamu kerjakan".
Bila Ahmad Soemargono benar-benar Islami tentu dia akan mengutuk orang-yang
menumpuk harta, baik melalui KKN atau melalui pemerasan tenaga kerja kaum
buruh. Hal itu dinyatakan dalam surat Al Humazah: 1. Celaka lah (azab lah)
untuk tiap-tiap pengumpat dan pencela. 2. Yang mengumpulkan harta benda dan
menghitung-hitung.
Bila Ahmad Soemargono benar-benar Islami, bukan hanya menggunakan Islam
sebagai kenderaan politik, tentu dia akan memperjuangkan dibumikannya surat
Al Qashas ayat 5 dan 6, yang berbunyi: "Dan kami hendak memberi karunia
kepada orang-orang yang tertindas (mustadhafhin atau dhuafa) di bumi dan
hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang
mewarisi bumi. Dan kami tegakkan kedudukkan mereka di bumi".
Tegasnya, bila Ahmad Soemargono sungguh-sungguh Islami dan bukan fasis yang
menggunakan Islam sebagai kenderaan politiknya, tentu dia tidak akan
mendukung yang pro status quo. Karena pro status quo tidak bisa berarti lain
pro ketidakadilan, pro kezaliman. Dan tidak menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.
Islam fasis semacam Ahmad Soemargono itulah tampaknya yang dimaksud Habibie
dengan ekstrem Islam.
KESIMPULAN
Jelas kiranya bahwa dalih Ahmad Soemargono untuk kecewa kepada Habibie
tidak beralasan, baik mengenai soal Xanana jadi pahlawan, soal disahkan PRD.
Dalih Ahmad Soemargono justru menempatkan dirinya sebagai kaum
fundamentalis, sektarian, ekstrem Islam. Sebab, apa yang dilakukan Habibie
hanya sebuah sandiwara untuk mempertahankan status quo, dengan berpura-pura
sebagai seorang demokrat.
Tentu akan lain halnya sekiranya Ahmad Soemargono kecewa kepada Habibie
karena ia telah bersandiwara dengan Ghalib mengenai pemeriksaan Suharto dan
tidak mempunyai kemampuan menyelesaikan atau menuntaskan krisis atau
kerusuhan yang terjadi dimana-mana. Dapatkah kita mengharapkan Ahmad
Soemargono akan bersikap demikian? Rasanya seakan sipunguk merindukan bulan.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html