Precedence: bulk
PROGRAM AMIEN RAIS MEMBERANTAS KKN MASIH DALAM KARUNG
Oleh: Sulangkang Suwalu
Hingga kini belum ada seorangpun yang namanya telah sering dimuat dalam
media massa sebagai calon presiden yang ke-4 RI, yang menampilkan programnya
untuk mengatasi krisis yang menimpa rakyat Indonesia dewasa ini. Yang mereka
persoalkan kebanyakan ialah bagaimana mengalahkan calon yang lain, agar
dirinya bisa menjadi presiden.
Diantara tokoh yang dicalonkan untuk menjadi presiden yang ke-4 RI itu
ialah Amien Rais. Ia dicalonkan oleh PAN (Partai Amanat Nasional). Mengenai
Amien Rais sangat berambisi jadi presiden, sudah hampir semua rakyat
Indonesia mengetahuinya. Dalam hal ini adalah menarik berita yang dimuat
Merdeka (12/3) sekitar kegiatan Amien Rais di Amerika Serikat. Inilah berita
tersebut:
AMIEN MINTA DOA DEWI SUKARNO
Janda mendiang Bung Karno, Ny Ratna Sari Dewi berharap bila Amien Rais
menjadi presiden dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik,
menciptakan kehidupan politik, ekonomi dan sosial yang jauh lebih sehat
ketimbang rezim sebelumnya.
Hal itu disampaikannya saat Ketua Umum PAN tersebut memberikan ceramah
dihadapan ratusan masyarakat Indonesia di aula University of Columbia, New York.
Meski demikian Dewi meragukan bekas Ketua Umum PP Muhammaddiyah itu dapat
mengerus praktek-praktek KKN yang telah mendarah daging selama 32 tahun
Suharto berkuasa.
Dewi kemudian berkata "Dapatkah Anda menjelaskan kepada saya, cara yang
diterapkan oleh PAN untuk memberantas, sekaligus menghalang-halangi
terulangnya praktek yang telah membuat Indonesia berada diambang kehancuran?"
Nampaknya karena PAN memang belum mempunyai program yang konkrit tentang
hal yang ditanyakan tsb, maka Amien Rais berkata "Buya Hamka pernah ditanya
oleh seseorang kalau saya berada di bulan, bagaimana menentukan kiblat
solat? Buya mengatakan: Anda berada di bulan dulu, baru saya beritahukan
kiblatnya".
"Jadi," kata Amien, "bila saya menjadi presiden, saya akan menjelaskan
program efektif untuk menghapus KKN. Jadi, Ibu (Dewi-red) doakan saya saja
jadi presiden."
Dengan kata lain PAN kini belum mempunyai program yang untuk memberantas,
serta menghalangi-halangi munculnya kembali KKN. Apakah program efektif yang
dikemukakan Amien Rais tsb akan benar-benar efektif nantinya, masih tanda
tanya. Yang penting bagi Amien Rais, pilih dirinya dulu jadi presiden.
Program soal nomor dua.
ISLAMI ATAU MACHIAVELIS?
Dalam rangka usaha Amien Rais memenuhi ambisinya jadi presiden RI yang
ke-4, adalah menarik tulisan HA Soemargono SE, yang berjudul "Perlukah
intervensi AS? Catatan untuk Dr M. Amien Rais" (Kompas, 12/3). HA Soemargono
SE ini adalah Ketua Pelaksana harian KISDI dan tidak takut disebut
fundamentalis atau sektarian. Pada akhir tulisannya HA Soemargono
mempertanyakan: apakah cara berpolitik Amien Rais ini Islami atau Machiavelis?
Pertanyaannya itu muncul, karena sikap Amien Rais yang kini berobah
mendekati AS yang mendukung Zionis, padahal dulu Amien Rais mengutuknya.
Malah HA Soemargono menyarankan (atau mengejek) agar lebih manjur, supaya
dukung saja sekaligus ide Gus Dur untuk mengadakan hubungan diplomatik
dengan Israil.
Untuk lebih jelasnya bagian tulisan HA Soemargono tentang berobahnya sikap
Amien Rais terhadap AS ini, bisa dikemukakan sebagai berikut:
Permintaan Amien Rais agar AS melakukan intervensi moral dalam bentuk
tekanan kepada pemerintah RI, telah memberikan legitimasi bagi "intervensi"
AS tsb. Tanpa diminta Amien pun, AS pasti melakukan intervensi ke negara yan
dipandang penting oleh AS. Bahkan terkadang, AS melakukan rekayasa, agar
kehadiran pasukannya atau campur tangan politiknya di suatu negara atau
kawasan menjadi absah.
Perobahan sikap yang cukup mendasar pada diri Amien dalam hal memandang AS.
Amie Rais selalu mengatakan bahwa barat dan AS adalah (1) musuh Islam,
karena selalu memukul kekuatan Islam yang akan bangkit dan (2) munafik dan
menerapkan standar ganda dalam menerapkan demokratisasi dan HAM. Opini
semacam itu sudah dikembangkannya selama belasan tahun ke berbagai penjuru
dunia, sejak ia menyelesaikan PhD di University Chicago thn 1981.
Apakah sikap AS saat ini telah berubah? Apakah AS saat ini menjadi
bersahabat dengan Islam dan tidak lagi memusuhi kekuatan Islam? Apakah AS
sekarang tidak lagi menerapkan standar ganda dalam soal HAM dan demokrasi?
Apakah AS sudah menjadi dewa penolong dalam soal HAM terhadap negeri-negeri
muslim? Dan sederet pertanyaan lainnya dapat kita ajukan tentang ada atau
tidaknya perubahan sikap AS.
Melihat perkembangan dunia internasional akhir-akhir ini, mulai kasus
Bosnia, Kosovo, Iran, Sudan, Libya dan serangan yang bertubi-tubi oleh AS
dan Inggris terhadap Irak, yang kemudian dikecam oleh dunia internasional
-dan AS tetap tidak peduli- menunjukkan bahwa perilaku AS tetap tidak
berubah, yakni tetap tidak fair dan munafik seperti yang digambarkan Amien
Rais selama ini. Sikap AS terhadap negara zionis Israil juga tidak mengalami
pergeseran, yang berarti: tetap membela dan melindungi kepentingan negara
Israil.
Kita patut bertanya: jika AS tidak berubah sikapnya, mengapa Amien Rais
justru yang berubah sikapnya? Jika Amien selalu mengatakan bahwa Barat
khususnya AS selalu menerapkan standar ganda dalam soal HAM, mengapa ia
meminta intervensi AS ke Indonesia untuk membereskan soal HAM di Ambon?
Jika kita mencoba berpikir positif tentang sikap Amien Rais terhadap AS
akhir-akhir ini, bisa dicari logika untuk membenarkan tindakannya, bahwa
tampaknya Amien Rais sedang melakukan manuver politik untuk "mengambil hati"
negara adikuasa itu. Sebagai pakar politik internasional dan telah
bertahun-tahun tinggal di AS, Amien tentunya paham bahwa AS begitu berkuasa
untuk menentukan "hitam putihnya" suatu negara, termasuk merestui atau tidak
merestui calon pemimpin suatu bangsa.
Mungkin Amien sedang berpikir sangat realistis, bahwa kalau mau jadi
presiden RI, maka mau atau tidak mau harus mendapat restu dari dunia
internasional. Dan dalam sistem hubungan internasional yang unipolar, maka
AS saat ini adalah raja. Untuk itu kiranya Amien perlu "menyimpan" pendapat
bernuansa anti barat, anti AS, anti Kristen atau anti Israil. Mungkin akan
lebih manjur lagi, jika Amien juga mendukung sikap Gus Dur agar Indonesia
segera membuka hubungan diplomatik dengan Israil. Demikian HA Soemargono.
Penilaian HA Soemargono terhadap Amien Rais ini sekaligus menunjukkan
berbedanya Islam KISDI dengan Islamnya Gus Dur dan selama ini Islamnya Amien
Rais masih ada titik temunya dengan Islam KISDI, yaitu sama anti barat, anti
AS, anti Kristen, anti Israil. Namun kini Islamnya Amien Rais, malah
didorongnya untuk mendukung Islamnya Gus Dur yang hendak membuka hubungan
diplomatik dengan Israil. Ini hanya menunjukkan bahwa Islam itu hanya
tunggal dalam ide, bukan dalam praktek.
KESIMPULAN
Jelas kiranya bahwa berdasarkan permintaan doa dari Amien Rais kepada Dewi
Sukarno agar dirinya bisa jadi presiden, serta pendekatan Amien Rais kepada
AS bahwa yang penting bagi Amien Rais dewasa ini, ialah ia bisa terpilih
jadi presiden ke-4 RI. Demi tujuan jadi presiden, segala cara dihalalkannya,
termasuk mendekati AS yang dahulu dikutuknya karena memusuhi Islam. Padahal
kini AS tetap memusuhi kekuatan-kekuatan Islam.
Karena belum jelasnya program dari calon-calon presiden yang akan datang,
maka memilih calon presiden yang akan datang dapat diibaratkan membeli
kucing dalam karung, belum tentu jantan betinanya, belum jelas belang atau
bukannya.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html