Precedence: bulk
LIQUICA RUSUH LAGI: 2 TEWAS, 10 LUKA DAN 8 RRMAH DIBAKAR MILISI
LIQIUCA (MateBEAN, 7/4/99), Setelah adanya kejadian di Kecamatan
Maubara, Liquica, Sabtu (13/4) lalu, yang mengakibatkan tangan pastor
Rafaiel dos Santos terluka ketika hendak menyelamatkan Felisberto dos Santos
dari tangan Besi Merah Putih (BMP), kini pertikaian serupa terjadi lagi di
daerah itu.
Kelompok pro-otonomi yang selama ini menamakan diri sebagai kekuatan
Besi Merah Putih (BMP), Senin (5/4) kemarin bentrok lagi dengan
pro-kemerdekaan.
Sekitar pukul 9.30 wita, kemarin, kelompok pro-kemerdekaan bentrok dengan
BMP. Mulanya kedua kelompok yang mengandalkan parang, panah dan senjata
buatan tangan saling membalas, namun secara spontan kelompok BMP tiarap,
lantas para prajurit ABRI Koramil Maubara langsung menembak, sehingga dua pemuda
kelompok pro-kemerdekaan langsung tewas tertembak.
Pro-kemerdekaan yang sudah berada pada posisi yang lemah memilih mundur.
Para anggota BMP yang diperkuat prajurit ABRI (dari Koramil Maubara)
dengan mudah memukul mundur kelompok pro-kemerdekaan hingga ke kota Liquisa.
Sekitar pukul 13.00 wita kelompok BMP berhasil masuk dan menguasai kota
Liquisa. Pukul 13.45 wita anggota Kodim 1638 dan Polres Liquisa mengeluarkan
tembakan secara sporadis di semua lini kota Liquisa. Akibatnya warga sipil
lari terbirit-birit menyelamatkan diri ke gereja Liquisa dan sebagian
lainnya masuk ke hutan. Seketika suasana kota Liquisa dan sekitarnya menjadi
lumpuh karena prajurit ABRI mengeluarkan tembakan yang sangat menakutkan
warga sipil. Tua, muda, laki dan perempuan lari meninggalkan rumahnya.
Akibat penyerangan kedua kelompok (pro dan anti integrasi) itu, telah
menewaskan dua orang. Mereka masing-masing, Fransisco, warga Desa Vatubou,
Kecamatan Maubara dan Felix warga Desa Dato, Kecamatan Liquisa Kota.
Sementara 10 korban luka-luka, 7 diantaranya telah dilarikan ke Dili untuk
dirawat secara intensif di Poliklinik Santo Antonio Motael dan Rumah Sakit
Wira Husada Dili.
Kesembilan korban itu 2 di antaranya dari kelompok BMP, yakni Domingos
dan Francisco yang saat ini sedang dirawat di Puskesmas Maubara dan Crisanto
Oliveira (23) dipukul oleh anggota kodim 1638 Liquica. Sedangkan dari tujuh
korban luka lainnya yang dirawat di Dili diantaranya Manuel Flores (23) luka
tembak di bagian bawah tali pusat, sekarang sudah rujuk dari Poliklinik
Motael ke Rumah Sakit Wira Husada Dili (RS ABRI), Paulina de Jesus (23) tiga
luka bacok di bagian bahu kanan, mata kiri, dan di bagian bawah buah dada,
Jose Cirilo (17) siswa SMU Kristal Liquica, kena luka tembak di bagian paha
kiri, dan Manuel Caldeiro (27) luka tembak di tangan kiri.
Kasdim Kodim 1638 Liquica, Kapten Purwanto, memberikan keterangan
yang berbeda dengan penjelasan sejumlah saksi mata. Menurutnya, awal kejadian
itu mulai dari Sabtu (3/4), rumah anggota PNS Koramil Liquica Antonio Lopes da
Cruz dibakar kelompok pro-kemerdekaan. Termasuk rumah Asisten II Sekwilda Pemda
Liquica, Jorge Xavier dirusak, lalu massa itu malamnya (Sabtu-red) datang ke
rumah salah satu anggota Kamra diminta paksa untuk ikut kelompok
pro-kemerdekaan.
Kejadian Sabtu itu berlanjut terus hingga Minggu (4/4) siang. Jaimito
salah seorang anggota kelompok kemerdekaan datangi rumah Viktor dari
kelompok BMP, disitulah terjadi perang mulut. Sehingga sekitar 25 anggota
BMP yang ada di Kampung Puke Lara pada pukul 16.00 Wita minta berlindung di
Koramil Liquica. Setelah kejadian itu, Senin (5/4) kemarin kelompok pro
kemerdekaan melakukan serangan ke Desa Vatubou, Kecamatan Liquica, sehingga
adanya serangan balasan kelompok BMP dari Maubara menuju kota Liquica.
Dengan adanya serangan dari kelompok BMP menuju Liquica kota, ribuan
masyarakat lari menyelamatkan diri, saat ini sekitar sebagian 1000 warga
Liquica berlindung di gereja Liquica, sebagian berlindung di Koramil dan
kediaman Bupati Leonito Martins. Sedangkan ratusan lainnya melarikan diri ke
hutan, hingga saat ini kota Liquica lumpuh total, dan dikuasai oleh kelompok
BMP. Bahkan menurut Komandan BMP, Manuel Sousa mulai pukul 19.00 Wita,
pihaknya akan menetapkan pos-nya di Pasar Liquica.
Karena itu, mulai malam Selasa (tadi malam-red), kelompok BMP bergabung
dengan anggota Polres dan anggota Kodim 1638 Liquica untuk melakukan patroli
malam. Dan rencana mereka setelah menguasai kota Liquica mereka tetap berada
di kota Liquica untuk melakukan aktivitasnya. "Sebelum orang-orang yang kami
cari yang saat ini berlindung di gereja, tidak menyerahkan diri kepada
polisi maka kami tetap berada di Liquica untuk mencari mereka,"jelas Manuel.
Sementara itu pastor Paroki Liquica, Pe. Rafaiel Dos Santos ketika
memantau kejadian itu sangat menyesalkan tindakan kelompok BMP. Bahkan lebih
dari itu, sangat disesalkan adanya tidakan anggota Kodim yang jga turut
melakukan tembakan, sehgingga banyak rakyat Liquica panik dan sebagian besar
melarikan diri ke gereja untuk berlindung, dan sebagian lagi melarikan diri ke
hutan.
"Saya tak tahu masalahnya apa, sehingga kelompok BMP yang juga
didampingi oleh aparat keamanan melakukan serangan dari Maubara menuju kota
Liquica. Melihat kejadian ini saya cukup bingung, karena tentara TNI yang selama
ini dikatakan netral malah memukul rakyat, bahkan menembak hingga banyak warga
sipil yang terluka akibat kena tembak," jelas pastor Rafaiel.
Kepala Desa Dato, Jacinto da Costa Canicio Pereira kepada MateBEAN
mengatakan, rumahnya di serang anggota Kodim 1638 Liquica, sehingga dia
bersama keluarga melarikan diri untuk berlindung ke gereja. Untuk sementara,
sudah sekitar 8 buah rumah warga Desa Dato, Kecamatan Liquica di bakar oleh
kelompok BMP yang melakukan serangan ke kota Liquica.
Sedangkan belasan rumah warga termasuk kios-kios yang terletak di
pingir jalan dirusak kelompok BMP. Bahkan seisi kios dan rumah dijarah
kelompok BMP. Tampak saat mereka memasuki Desa Dato ada yang membawah
barang-barang jarahan seperti koper, tas, jam dinding, tape dan sebagian
pakaian. Sementara di setiap kios-kios yang mereka masuk, seisi kios habis
dijarah oleh kelompok BMP.
Di tengah suasana tegang dan mencekam itu membuat para warga sipil,
terutama orang tua dan anak-anak di kota Liquisa bingung untuk menyelamatkan
diri dari maut. Tampak dengan wajah-wajah ketakutan mereka berbondong-bondong
menuju gereja Liquisa. Pemandangan yang sangat mencekam itu berawal dari pukul
13.30 wita hingga 17.00 wita petang. Pasalnya, anggota BPM yang bergabung dengan
prajurit ABRI melakukan penembakan dari rumah ke rumah. Bagi warga sipil yang
berfisik lemah maka memilih menyelamatkan diri ke gereja Liquisa. Sedangkan
warga sipil (para pemuda) lari menyelamatkan diri ke hutan.
Sekitar pukul 17.45 wita, tampak para prajurit Kodim 1638 Liquisa
menyelamatkan keluarganya. Ada yang ditampung di lingkungan kantor Kodim
Liquisa dan sebagian ditampung di kediamaan Bupati Leonito Martins.
Bupati Leonito, kemarin petang, pada MateBEAN mengatakan, "Saya juga
merasa kaget dengan kejadian ini. Sebab lari ke rumah saya secara tiba-tiba.
Sebagai pimpinan daerah maka kehadiran mereka saya tampung. Mereka datang
bukan atas perintah saya. Bahkan aksi BMP juga bukan atas perintah saya.
Saya hanya bisa himbau agar rakyat Liquisa tetap tenang."
Komandan BMP, Manuel Sousa kepada MateBEAN menegaskan, "Aksi kami
ini adalah pembalasan atas kematian teman-teman kami yang telah diculik dan
dibunuh oleh Falintil dan pengikutnya. BMP menyerang kota Liquisa bukan atas
perintah Dandim dan Bupati Liquisa. Tidak ada jalan lain selain menyerang.
Kesabaran kami sudah habis."
Sementara pemantauan MateBEAN di seputar kota Liquisa, kemarin, tampak
para anggota BMP bersama tentara melakukan patroli. Rumah-rumah penduduk
yang dicurigai anti-integrasi dirusak dan dibakar. Bahkan isinya dijarah oleh
gerombolan BMP.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html