Precedence: bulk
CONSELHO NACIONAL DA RESISTENCIA TIMORENSE
(DEWAN NASIONAL PERLAWANAN TIMOR)
PEMUDA TIMOR LESTE
PERNYATAAN PERS
Melihat semakin tidak terkontrolnya tindakan intimidasi, teror dan
pembunuhan terhada[ penduduk sipil di Timor Leste, yang dilakukan oleh
kelompok paramiliter yang dipersenjatai Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (ABRI) kami, Pemuda Timor Leste merasa wajib untuk menyatakan
sikap kami kepada umum. Menurut kami, kelicikan ABRI yng merekayasa
masyarakat Timor Leste untuk saling membunuh, merupakan tindakan biadab yang
lebih mencerminkan sikap pengecut Pemerintah Indonesia, dalam hal ini ABRI,
untuk mempertahankan pendudukan ilegalnya di Timor Leste. Tindakan yang
justru berlawanan dengan komitmen Pemerintah Indonesia kepada masyarakat
internasional untuk menyelesaikan masalah Timor Leste secara damai,
demokratis dan terhormat.
Selama beberapa bulan provokasi dan teror, pihak Perlawanan telah
menyikapinya dengan ketenangan, biajksana dan menghindari penggunaan
kekerasan. Gerilyawan FALINTIL (Forcas Armadas da Libertacao Nacional de
Timor-Leste) telah mengambil sikap defensif guna mendukung proses
rekonsiliasi sebagai wujud niat baik kami untuk menciptakan suasana yang
kondusif bagi sebuah penyelesaian yang adil, damai dan disetujui dunia
internasional atas masalah Timor Timur.
Niat baik dan komitmen kami untuk perdamaian telah dipahami sebagai titik
kelemahan kami, dan keadaan di Timor Leste semakin memburuk. Untuk itulah,
sebagai Panglima FALINTIL dan Presiden CNRT, Xanana Gusmao memiliki wewenang
dan tanggungjawab sepenuhnya untuk menyikapi semakin memburuknya situasi itu
melalui pernyataannya yang diumumkan tanggal 5 April 1999.
Pernyataan Xanana tersebut haruslah dipahami dalam konteks ini dan bukan
merupakan ungkapan "ruptura" apapun bagi kemauan kolektif kami untuk
meneruskan dialog demi tercapainya perdamaian dan kemerdekaan di Timor Timur.
Karena itu, kami, para Pemuda Timor Leste menyatakan dukungan kami
sepenuhnya terhadap pernyataan Panglima FALINTIL dan Presiden CNRT Kay Rala
Xanana Gusmao yang dikeluarkan tanggal 5 April 1999 lalu, berdasarkan
keyakinan bahwa, hak untuk membela diri dari penindasan, sewenang-wenang
serta ancaman lainnya dimiliki oleh setiap bangsa tanpa peduli sekecil dan
selemah apapun dia, di hadapan musuh-musuhnya.
kami ingin mengungkapkan kekecewaan kami terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) yang terlalu lamban dalam menyelesaikan masalah Timot Leste dan
terkesan bersekongkol dengan Pemerintah Portugal dan pemerintah Indonesia
untuk menjerumuskan masyarakat Timor Leste ke dalam konflik dan penderitaan
yang berkepanjangan. Persekongkolan ini tercermin dalam setiap perundingan
mengenai penyelesaian masalah Timor Leste yang tidak melibatkan wakil-wakil
dari Rakyat Timor Leste.
Penanganan bebrbagai kasus di belahan dunia oleh PBB, dari Kuwait, Irak,
Somalia, Bosnia dan terakhir menyetujui pengeboman oleh NATO di Kosovo,
semakin memperteguh keyakinan umum bahwa PBB lebih merupakan alat
negara-negara Barat untuk membela keperntingan ekonominya daripada medium
internasional untuk menyelesaikan konflik-konflik politik di dunia.
Berdasarkan kenyataan di atas, terutama dengan terjadinya pembantaian oleh
ABRI di Liquica tanggal 5 April lalu, kami, Pemuda Timor Leste dengan tegas
meecam dan mengutuk:
- Tindakan biadab ABRI dalam berbagai kasus pembunuhan di Timor Leste,
terutama pembantaian yang terjadi di dalam gereja Liquica yang menewaskan
lebih dari 25 penduduk sipil dan melukai ratusan lainnya, pada tanggal 5
April 1999;
- Makin meningkatnya tindakan intimidasi, teror dan pembunuhan yang
dilakukan oleh kelompok paramiliter yang dibentuk, dipersenjatai dan
didukung ABRI;
- Kelambanan danketidakseriusan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam
menyelesaikan masalah Timor Timur;
- Portugal sebagai Potensi Administratif, karena tidak memiliki sikap
politik yang jelas dan tegas terhadap penyelesaian masalah Timor Leste;
- Arogansi Pemerintah Indonesia karena membiarkanAngkatan Bersenjatanya
(ABRI) bertindak sewenang-wenang di Timor Leste. Hal yang justru berlawanan
dengan komitmen Pemerintah Jakarta untuk menyelesaikan masalah Timor Leste
secara damai, demokratis dan terhormat;
- Menyayangkan pernyataan tak berdasar Jenderal Wiranto yang menyatakan
bahwa Timor Leste di-invasi dan di-aneksasi secara ilegal oleh angkatan
bersenjata Indonesia.
Menuntut:
- Diadakannya perlucutan senjata dari kelompok-kelompok paramiliter yang
dibentuk ABRI di Timor Leste di bawah pengawasan internasional;
- Penarikan segera tentara Indonesia dari Timor Leste di bawah pengawasan
PBB dan institusi-institusi internasional yang berkompeten untukitu;
- Keseriusan dan sikap tanpa pilih kasih PBB dalam menyelesaikan masalah
Timor Leste dengan mengirimkan pasukan perdamaian PBB ke Timor Leste
sesegera mungkin demiterciptanya ketenangan di Timor Leste serta demi
pelaksanaan resolusi-resolusi Dewan Keamanan dan majelis Umum PBB tentang
masalah Timor Leste;
- Keterlibatan Presiden CNRT kay Rala Xanana Gusmao dalam perundingan
Tri-party mendatang;
- Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk merevisi bantuannya
kepada Indonesia, karena bantuan tersebut lebih banyak digunakan untuk
memperkuat aparat militer untuk menindas Rakyat Indonesia dan Rakyat Timor
Leste.
Patria ou Morte! A Luta Continua!
Indonesia, 9 April 1999
Perwakilan pemuda Timor Leste:
1. Jose Manuel (Organizacao da Juventude e dos Estudantes de Timor Leste/OJETIL)
2. Tome Xavier Jeronimo (Front nasional Pemuda Timor Leste/FRONPETIL)
3. Virgilio Da Silva (Resistencia Nacional dos Estudantes de Timor Leste/
RENETIL)
4. Dewan Pimpinan Pusat IMPETTU (DPP IMPETTU)
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html