Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 13/II/11-17 April 99 ------------------------------ ABRI MENENTANG HABIBIE DI TIMOR TIMUR (PERISTIWA): Opsi yang ditawarkan Presiden Habibie berbuah kekerasan karena ABRI membangkang. Jika Habibie tak sigap, kredibilitasnya di mata dunia akan hancur. Apa yang dimaui tentara? Wajah Xanana Gusmao memancarkan kegusaran. Tak seperti biasanya, wajah yang penuh senyum itu tak nampak, Rabu, 7 April lalu. Di Lembaga Pemasyarakatan Khusus, di belakang Penjara Salemba, Jakarta Pusat, Rabu itu, Xanana mengulangi lagi pernyataannya bahwa Conselho Nacional Resistecia de Timorense (CNRT) menyatakan perang melawan ABRI. "Jika 200 ribu rakyat Anda sudah mati dan kini diburu dan dibunuh, apakah Anda akan diam saja?" ujar Xanana menjawab pertanyaan wartawan yang menganggap pernyataan perang Xanana terlalu terburu-buru dan akan menimbulkan banyak korban. Xanana memang pantas geram. Beberapa hari terakhir ini sudah puluhan orang pro-kemerdekaan dibunuh kelompok Besi Merah Putih, milisi bentukan ABRI di Liquica. Terakhir, Selasa (6 /4), kelompok ini melemparkan granat ke Gereja Liquica dan menewaskan empat puluh pengungsi yang selama ini mencari selamat di kompleks gereja yang berdekatan dengan Kantor Polres dan Kodim Liquica itu. Uskup Belo yang berkunjung ke Gereja Liquica setelah pengranatan itu mengatakan 45 orang tewas pada hari pengranatan itu. Empat puluh karena terkena pecahan granat dan lima terkena tembakan. Soal jumlah korban, Komandan Korem Timor Timur, Kolonel Inf. Tono Suratman membatahnya. Ia mengatakan korban tewas hanya lima. "ABRI telah menyembunyikan mayat-mayat itu. Hal yang sama pernah dilakukan ketika mereka membantai demonstran di Santa Cruz," ujar Xanana. Penggranatan ini memang mengejutkan. Apalagi jika granat itu dilemparkan di tengah-tengah kerumunan pengungsi yang berdesakan di komplek gereja yang tak terlalu luas, berapa korban yang akan jatuh? Tentu tidak hanya lima, sebagaimana disebutkan Kolonel Tono. ABRI tampaknya tengah melakukan upaya-upaya agar opsi yang dilancarkan Habibie untuk penyelesaian Timor Timur berantakan. Di kalangan perwira ABRI, opsi yang ditawarkan Habibie, yakni: otonomi luas atau merdeka, memang amat tak populer. Mereka umumnya marah dengan opsi ini, bagi ABRI, misalnya dikemukakan Wiranto ketika menanggapi pernyataan perang Xanana, Timor Timur adalah bagian sah dari wilayah Indonesia. "Jadi apapun yang kami lakukan di sana adalah hak kami," ujar Wiranto. Di Timor Timur, diam-diam, ABRI melawan kebijakan Jakarta. Mereka menyeponsori munculnya milisi-milisi dan mempersenjatai mereka. Yang paling banyak didukung dan kebetulan memang radikal adalah kelompok Besi Merah Putih di Liquica. ABRI memang tak rela Timor Timur di lepas. Panglima Kodam IX Udayana, Mayjen Adam Damiri, ketika berkunjung ke Dili beberara waktu lalu mengatakan, ada kalangan pemerintah yang tak setuju pelepasan Timor Timur dari wilayah RI. Pernyataan Adam ini tentu melawan kebijakan Habibie yang sudah setuju ada semacam pemungutan suara untuk mengetahui apakah rakyat Timor Timur menghedaki otonomi luas atau referendum. Belum ada reaksi Habibie soal ini. Namun dengan pernyataan Wiranto paling akhir, nampak jelas ada perpecahan antara Habibie dan ABRI dalam masalah Timor Timur. Jelas, ABRI tak menghendaki opsi apapun untuk Timor Timur kecuali tetap menjadi bagian dari Indonesia. Dukungan ABRI terhadap kelompok milisi bersenjata, Aitarak dan Mahidi di Dili, Alfa di Los Palos, Makikit di Viqueque, Besi Merah Putih di Liquica dan kelompok milisi lain yang dipimpin para bupati dan mantan bupati, menurut para aktifis HAM di Timor Timur jelas menunjukkan ABRI melakukan pembangkangan terhadap kebijakan Habibie. "Seharusnya, opsi Habibie harus ditindaklanjuti ABRI dengan menjaga ketertiban di Timtim," ujar salah seorang aktifis HAM di Dili. Sayangnya, Habibie tak bisa mengontrol ABRI di Timor Timur. Dua batalyon tentara dalam beberapa hari ini mendarat di Pelabuhan Dili. Pasukan ini didatangkan, nampaknya bukan dengan maksud menertibkan keamanan di Timor Timur, namun justru sebaliknya. Apalagi, Wiranto terang-terangan menerima tantangan Xanana untuk berperang. Pernyataan perang Xanana itu memang membuat Wiranto girang. "Xanana yang memulai perang bukan ABRI," ujar Wiranto. Nah, dengan begitu sah bagi ABRI untuk menembaki orang-orang Timor Timur atau siapa saja yang menghendaki kemerdekaan. Sejumlah pengamat di Jakarta menilai Xanana terjebak dalam permainan yang dijalankan ABRI. Memancing emosinya hingga ia menyatakan perang. Xanana memang amat marah. Malam hari sebelum ia menyatakan perang pada 6 April lalu, para tetangganya mendengar ia berteriak-teriak dan membantingi benda-benda yang mudah pecah. "Xanana membantingi piring dan gelas," ujar salah seorang warga di bilangan Percetakan Negara, tempat Xanana ditahan. Jelas Xanana terpancing. Dalam keadaan perang, pemberian senjata secara terang-terangan kepada para milisi pro-ABRI jadi sah. Memang beberapa pengamat di Jakarta mengatakan, pernyataan perang Xanana ini mungkin dimaksudkan agar PBB segera mengirimkan pasukan perdamaiannya di Timor Timur. Namun, jika itu maksud Xanana, masalahnya tak sesederhana itu, karena untuk mendatangkan pasukan PBB, kedua belah pihak yang bertikai harus menyetujui. Tentu, untuk keadaan sekarang, ABRI akan menolak kehadiran pasukan manapun di Timor Timur. NATO pun nampaknya juga tak tertarik ikut campur dalam urusan ini. Mereka tengah sibuk di Kosovo, yang ketidakstabilannya jelas-jelas mengancam ketentraman Eropa. Nah, Timor Timur? Xanana dan pasukan gerilyanya, Falintil, serta para pendukung kemerdekaan, nampaknya harus berjuang sendirian di Timor Timur. Untuk sementara, PBB hanya bisa mengeluarkan pernyataan yang tak akan didengarkan para jendral Indonesia. Karena,"Wiranto adalah jendarl Orba, bukan jendral reformasi. Saya tak kecewa dengan sikap Wiranto ini, karena sikap-sikap itu memang sikap-sikap ABRI" ujar Xanana. Korban telah berjatuhan. Bahkan gereja yang dulu merupakan tempat paling aman di Timor Timur, kini bukan lagi lobang perlindungan yang baik. Granat telah dilemparkan ke Gereja Liquica. Ada yang bilang granat itu dilemparkan tentara, namun ada saksi yang mengatakan milisi Besi Merah Putih yang melemparkannya. Siapapun yang melempar, perang telah dimulai. Dan, Habibie nampak seperti orang bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa. Beranikah ia menegur Wiranto yang mempecundanginya dari Liquica? (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
