Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 13/II/11-17 April 99 ------------------------------ INTEGRASI ATAU MATI? (PERISTIWA): Walaupun jajak pendapat masih beberapa bulan lagi, tapi kampanye untuk memilih otonomi kian gencar dilakukan oleh kelompok pro otonomi. Di Lospalos, misalnya, sosialisasi otonomi, justru menjadi ajang untuk mengancam masyarakat yang menolak otonomi. Bahkan Bupati Lautem, Edmundo Conceicao e Silva, yang terjung untuk mengancam rakyatnya di Lautem. Sehingga sebagian masyarakat, yang sempat "lolos" sampai di Dili menuturkan bahwa kebanyakan masyarakat Lautem sekarang hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Karena setiap hari kampanye otonomi yang dilakukan oleh para leader-leader politik di sana, masyarakat selalu di intimidasi dan diteror. Bagi rakyat yang menentang maka resikonya pun tidak ringan. Mati atau hidup. Kedua pilihan itu ditentukan oleh peluruh senjata. "Kalian harus dukung integrasi dan otonomi dengan Indonesia. Jika ada rakyat yang menolak maka kalian tidak selamat. Kami babat dengan senjata. Pilih merdeka itu mau makan apa. Kalian tidak bisa buat jarum jahit, tapi mau merdeka," kata Bupati Lautem, Edmundo dihadapan masyarakat di Desa Com, Kecamatan Lautem. Ungkapan orang nomor satu di wilayah Lospalos (Lautem) itu tentu membingungkan rakyatnya. Sebab tawaran dukung integrasi/otonomi itu terkesan dipaksa. Bahkan rakyat Lautem diteror dan diintimidasi sehingga rakyat pun menjadi bimbang untuk menentukan pilihannya. "Seharusnya sebagai seorang pimpinan daerah jangan bersikap demikian. Berikan kebebasan kepada rakyat untuk memilih. Bukan dengan cara teror dan intimidasi," kata Krizanto Monteiro kepada Xpos. Krizanto yang tergabung dalam Dewan Mini Solidarita Mahasiswa Pelajar dan Pemuda Timtim (DSMPTT) Lautem itu, menegaskan, "Jika pimpinan daerah Lautem tidak mampu memimpin rakyat Lospalos maka lebik baik mundurkann diri. Masih banyak orang Lautem yang lebih mampu memimpin rakyat Lospalos. Masa seorang bupati ikut teror dan intimidasi rakyatnya." Menurut dia, rakyat Lautem kini hidup dalam suasana mencekam karena tim Alfa dan organisasi paramiliter pimpinan Bupati Edmundo kini sedang melakukan kampanye integrasi/otonomi ala Indonesia kepada rakyatnya. "Sejak 10 Maret hingga kemarin, Bupati Edmundo dengan tim Alfa melakukan teror dan intimidasi terhadap rakyat Lautem. Kebebasan hidup dan pilihan rakyat diisolasi semua. Kini rakyat Lautem dipaksa untuk memilih integrasi dan otonomi dengan Indonesia. Jika rakyat menolak integrasi dan otonomi maka resikonya adalah mati," jelas Krizanto serius. Sedangkan di Dili, Gubernur Timtim, Abilio Jose Osorio Soares sedang menghimpun kekuatannya untuk menghadapi kelompok pro kemerdekaan, bila tawaran otonomi luas ditolak oleh masyarakat Timtim. Dengan bantuan dana sebesar Rp750 miliar, Abilio bersama kelompok pro integrasi lainnya, berancang-ancang untuk membeli kapal perang serta membeli senjata. "Setelah mereka menghadap Kasum ABRI Letjen TNI Soegiono, Kasum ABRI itu mengatakan bahwa khusus senjata akan disuplay dari Jakarta. Rencananya adalah 6000 senjata. Untuk sementara 15000 senjata sudah disuplay ke berbagai Kodim yang ada di Timtim," kata sebuah sumber yang mengikuti rapat di kediaman Abilio. Menurut sumber itu, saat ini Abilio bersama kelompoknya sudah melakukan survey di tiga tempat yang akan menjadi base camp kelompok pro integrasi yakni Suai, Maliana dan Ambeno. "Abilio sudah mengadakan survey di ketiga tempat itu," tambah sumber itu. Bahkan melalui media massa miliknya, Harian Novas, Abilio sudah mengimbau kepada masyarakat Timtim agar tolak saja jajak pendapat yang disponsori PBB itu. "Kalau menurut saya pribadi dan sudah saya sampaikan kepada tim PBB yang datang ke Timtim untuk tidak dilakukan jajak pendapat karena itu bukan cara yang terbaik. Sebab kalau itu dilakukan nanti ada yang menang dan ada yang kalah. Itu akan meruncing terjadinya konflik. Tolong kita pikirkan bersama-sama, bergandengan tangan untuk menghindari terjadinya perang saudara. Kalau perang saudara terjadi akan lebih dasyat dari tahun 1975," kata Abilio. Pernyataan Abilio mendapat reaksi keras dari Manuel Carrascalao. Menurut Ketua Gerakan Rekonsiliasi dan Persatuan Rakyat Timor Timur (GRPRTT), bahwa sangat memalukan bangsa Indonesia kalau penjajakan pendapat masyarakat Timtim yang sedianya dilakukan Juli mendatang dibatalkan. Pasalnya, kalau membatalkan jajak pendapat rakyat Timtim sama dengan menunda-nunda proses penyelesaian Timtim di dunia internasional. "Portugal-Indonesia dan PBB sudah sepakat untuk melakukan penjajakan pendapat rakyat Timtim untuk menentukan apakah rakyat mau pilih otonomi atau mau merdeka. Kalau sudah begitu jangan kita mau batalkan apa yang sudah disepakati Indonesia-Portugal dan PBB. Saya lebih setuju kalau jajak pendapat itu dilakukan sebelum Pemilu supaya yang otonomi ikut Pemilu dan yang mau merdeka tidak perlu ikut Pemilu," katanya. Menurut Manuel Carrascalao, dalam jajak pendapat rakyat Timtim dijamin tidak akan terjadi konflik antara pro integrasi dan pro kemerdekaan karena kegiatan itu dilaksanakan di bawah pengawasan PBB. "Orang yang bicara bahwa nanti terjadi ini dan itu adalah orang-orang yang tidak mau masalah Timtim ini cepat selesai. Mereka ingin terus membuat pemerintah Indonesia pusing dengan persoalan Timtim. Padahal, pemerintah Indonesia bukan hanya memperhatikan masalah Timtim saja, tapi banyak masalah di 26 propinsi lainnya menanti uluran tangan pemerintah," kata Manuel. Manuel menilai bahwa kesepakatan Indonesia-Portugal dan PBB untuk melakukan jajak pendapat di Timtim merupakan jalan terbaik bagi penyelesaian Timtim. "Soal rakyat nantinya pilih otonomi atau menolak adalah hak mereka. Biarkan mereka menentukan sendiri apa yang mereka inginkan. Kita jangan dulu takut sebelum melangkah ke suatu tujuan," katanya. Harapan kini tertumpu pada Pertemuan Rekonsiliasi Dare kedua, minggu depan, yang prakarsai oleh Uskup Diosis Dili Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB dan Uskup Diosis Baucau Mgr. Basilio do Nascimento, Pr. Untuk bisa meredam tidak terjadinya konflik bersenjata di Timtim, tentunya dibutuhkan kesabaran dari semua pihak menerima apapun hasil jajak pendapat yang akan dilakukan oleh PBB Juli mendatang. Hanya dengan cara itu konflik bersenjata tidak akan meletus di Timtim. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
