Precedence: bulk
KESAKSIAN PASTOR RAFAEL DOS SANTOS (PASTOR PAROKI LIQUISA)
�Pertama-tama kami dua (Pastor Rafael Dos Santo dan Jose Daslan,
Pr) berada di tempat, mulai dari Senin (5/4) sampai Selasa (6/4).
Orang-orang dari Kecamatan Liqui�a, pro-kemerdekaan tidak mau diganggu oleh
orang pro-integrasi dari Kecamatan Maubara. Wilayah Maubara, ya khusus untuk
warga Besi Merah putih, tapi jangan bergerak ke Liqui�a. Karena warga BMP
bergerak ke kota Liqui�a pada Senin (5/4) maka warga di Kecamatan Liqui�a
berusaha untuk menhadangnya. Pagi-pagi (Senin 5/4) warga Liqui�a telah
berada di daerah perbatasan guna menghadapi BMP dengan senjata tradisional,
seperti panah, parang, tombak.
Kala itu memang tampak BMP yang berjalan di tengah jalan raya di
daerah perbatasan antara Maubara-Liqui�a kota. Tapi kenyataannya, tampak dari
kiri-kanan jalan raya adalah para anggota Koramil dari Maubara. Itu dibawah
kepemimpinan Bapak Dandim 1638 Liqui�a, Asep Kuswanto. Akibatnya, enam orang
ditembak. Para pemuda dari kota Liqui�a mau melawan dengan panah dan tombak,
tapi dari kiri-kanan mengeluarkan tembakan senjata sehingga mengenai 7 orang
pemuda. Ya, sekarang mereka sedang dirawat di poliklinik atau dimana..di Dili.
Pada saat itu para pemuda lari semua ke kota Liqui�a. Tapi di
seluruh kota Liqui�a, mulai pukul 13.00 WITA terdengar bunyi tembakan.
Tembakan itu
dilakukan oleh anggota Kodim Liqui�a dan anggota Polres Liqui�a. Tembakan
tentara dan polisi itu berlangsung selama satu jam. Akibatnya, rakyat takut
sehingga mereka lari ke gereja. Sesudah bunyi tembakan itu, baru BMP masuk
ke kota Liqui�a dengan teriakan. Bahkan BMP semua masuk ke Kodim Liqui�a.
Itu bagaimana.
Siapa dibelakang itu? Di lain tempat saya tidak tahu, tapi di Liqui�a
itu persis anggota Kodim Liqui�a yang di belakang itu. Kemarin (Selasa 6/4)
yang menyelamatkan saya dari rumah adalah orang berpistol. Kami sudah berusaha
kontak dengan ketua (komandan) BMP Manuel Sousa, Bupati Leonito Martins dan
Eurico Guteres sebagai perantara, namun tidak berhasil. Katanya, Bupati Leonito
dan Manuel Sousa masih panas (emosi), sehingga mereka tidak mau berdialog dengan
saya yang untuk mencari jalan keluar demi kepulangan ribuan rakyat di
lingkungan gereja ke rumahnya masing-masing.
Kala itu, anggota Brimob datang dan mengelilingi pagar gereja. Katanya
mau mengamankan pastor atau rakyat. Saya tidak tahu. Namun sekitar pukul 13.00
WITA, anggota BMP mau menyerang rakyat yang berada di dalam rumah pastoran di
dalam lingkungan gereja. Awalnya, aparat menembak gas air mata ke dalam gereja.
Lalu disusul dengan tembakan sporadis ke atas. Para anggota Brimob menembak
ke atas, sedangkan BMP menembak ke arah rakyat di dalam lingkungan gereja.
Tembakan Brimob ke atas itu justru memberi kesempatan kepada BMP
untuk masuk ke dalam lingkungan gereja, lalu BMP mulai membantai rakyat
dengan panah dan tombak. Rakyat yang terkena gas air mata itu lari keluar
dari dalam rumah pastoran dengan mata tertutup, lantas anggota besi merah
putih langsung potong-potong rakyat yang sedang terkena gas air mata itu.
Itu namanya pembunuhan. Tujuan mereka adalah membunuh semua rakyat yang
berada di dalam lingkungan gereja.
Sedangan beberapa orang yang bersembunyi di atas loteng rumah pastoran
ditembaki oleh tentara dan Brimob yang masuk ke lingkungan gereja ketika
saya dibawa keluar. Mereka yang berada di atas loteng rumah dan bersembunyi
di kamar mandi kamar saya itu dibunuh habis. Mereka adalah Kades Dato,
Jacinto da Costa Concei�ao Pereira, Agustinho, Victor, Leovigildo pelajar
SMU 3 dan Lucio. Sebelumnya, Laurindo Kadis Perikanan Tk II Liqui�a dan
Herminio dibunuh oleh anggota Koramil Maubara di rumahnya.
Otak pembunuhan itu tidak pakai tentara dari Jawa, tapi tentara
putra daerah, anggota Koramil Maubara. Tapi bukan semua tentara putra
daerah. Hanya orang tentara tertentu yang diberikan senjata dan bergabung
dengan BMP untuk membunuh rakyat. Saya dengan pastor Jose juga mau ditembak,
namun senjata tradsional BMP tidak meledak. ABRI tuduh bahwa ada dua senjata
di dalam rumah. Lalu saya jawab kepada dua orang anggota polisi bahwa
Jacinto dan putranya ketika masuk ke lingkungan gereja hanya membawah parang.
ABRI bilang bahwa ada dua senjata itu hanyalah alasan mereka (BMP dan
tentara) untuk membunuh semua rakyat di lingkungan gereja. Maksud BMP ke
kota Liqui�a itu untuk membunuh semua leader pro-kemerdekaan di Liqui�a.
Rakyat yang berlindung dalam lingkungan gereja Liqui�a sebanyak 2.000 orang
lebih. Saya lihat secara langsung korban tewas tergetak di rumah pastoran
itu ada 7 orang. Pasalnya, setelah kami berdua dibawa ke kantor Kodim, baru
terjadi pembunuhan lebih sadis dan brutal. Kalau Danrem Tono bilang hanya
lima orang yang terbunuh, lantas pemuda dan orang tua yang dibunuh di luar
rumah pastoran itu bagaimana. Masalahnya, sekarang mayat-mayat itu tidak
tahu ada dimana. Saya tidak tahu. Pada malam harinya, saya dengar bunyi
kendaraan Hino di gereja.
Bagaimana pun kita harus tahu dimana mayat-mayat yang dibunuh itu.
Saya pulang dari Kodim sekitar pukul 19.00 wita. Tapi ketika saya tiba dirumah,
mayat-mayat itu tidak ada. Yang tersisa hanya ceceran darah di kamar-kamar,
termasuk kamar tidur saya juga penuh dengan darah.
Sementara Rp 8 juta milik SMPK Liqui�a yang disimpan oleh Pastor Jose
Daslan juga raib. Bahkan uang derma di celengan juga dijarah. Termasuk
sepeda motornya pastor Jose dan beberapa buah mobih pribadi milik rakyat
juga dijarah oleh anggota BMP, lalu dibawah ke Maubara. Semua dokumen gereja
yang disimpan dalam lemari juga dirusak. Pokoknya seisi rumah pastoran telah
dihancurkan. Peristiwa pembantaian dan penjarahan di gereja Liqui�a dan
rumah-rumah penduduk di kota Liqui�a ini harus ditanggung oleh ABRI dan
pemerintah.
Menurut salah seorang saksi mata dari 18 orang yang ketika aksi
pembantai berlangsung mereka bersembunyi di dalam gereja Liqui�a, kemarin,
mengaku bahwa, �Sekitar pukul 18.45 wita, mereka melihat 6 buah truk Hino
sedang mengangkut mayat-mayat dari lingkungan gereja. Mayat-mayat dilempar ke
atas truk hino, tapi dibawah kemana mereka tidak tahu. Saksi yang enggan
ditulis
namanya itu menambahkan, pembantaian itu dilakukan oleh anggota BMP, tentara
dan polisi serta Brimob. Mereka tembak dan potong manusia bagaikan membunuh
binatang. �Masa orang sudah angkat tangan untuk menyerah tapi masih tetap
ditembak dan dipotong. Kami hanya melihat dan menangis dari dalam gereja,�
katanya.
Dia mengatakan saksi mata yang bersembunyi di dalam gereja itu
sebanyak 16 orang. Masing-masing, 8 orang wanita dan 8 pria. Namun sekitar
pukul 01.00
WITA pagi, Rabu (7/4), 12 orang pergi meninggalkan gereja. Sedangkan sebagian
dari 2.000 warga yang berlindung di lingkungan gereja Liqui�a ada yang kembali
ke rumahnya masing-masing dan sebagian lainnya melarikan diri ke hutan. Terutama
kaum muda yang sempat lolos dari ancaman pembantaian BMP dan oknum prajurit
ABRI.
Pemantauan, kemarin petang, di TKP tampak rumah Pastor Rafael Dos
Santos yang hanya berjarak sekitar 15 meter sebelah barat gereja Liqui�a hancur
berantakan. Kaca jendela, atap hancur berkeping-keping. Sedangkan seisi rumah
hancur dan dijarah oleh BMP. Tampak darah segar berceceran di kamar-kamar tidur
dan kamar mandi. Sementara tembok gereja bagian barat dan utara juga diwarnai
darah manusia yang dibacok dan ditembak oleh BMP. Suasana di lingkungan gereja
Liqui�a dikosongkan. Sedangkan aktivitas warga kota Liqui�a lumpuh. Bahkan
suasana kota Liqui�a tegang dan mencekam. Tidak ada warga Liqui�a yang
keluar rumah.
Rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan raya Tibar hingga kota
Liqui�a hanya tampak terpasang bendera Merah Pulih. Menurut salah seorang
warga bahwa warga yang menolak memasang Merah Putih di depan rumahnya maka
resikonya mati dibacok oleh BMP. Bagi warga yang anti Merah Putih maka harus
mengungsi ke hutan atau keluar dari wilayah Liqui�a.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html