Precedence: bulk PASUKAN ABRI AKHIRNYA MUNDUR DARI SAMBAS PONTIANAK (16/4/99), Akibat desakan kelompok masyarakat akhirnya Selasa (13/4) kemarin pasukan Pengendali Huru-Hara (PHH)/Pasukan Penindak Kerusuhan Massal (PPRM) ditarik dari Sambas. Menurut aparat keamanan di Pontianak, mereka kini hanya ditempatkan untuk sekadar berjaga-jaga di pinggiran kota Pontianak. Masyarakat Sambas beranggapan bahwa pasukan PHH/PPRM yang berasal dari Batalyon 612 Limbong Medang itu terlalu berpihak pada warga pendatang dalam keributan antara warga setempat dengan warga asal Madura. Aparat bukan hanya memukuli, tapi juga menembaki warga Melayu dan Dayak di Sambas. Padahal justru sebetulnya telah dicapai kesepakatan untuk berdamai dan mengakhiri semua bentuk kekerasan oleh kedua belah pihak yang bertikai. Ketua Tim Tokoh Masyarakat Melayu Sambas di Pontianak, Drs H Muchalli Taufik, lewat siaran persnya bahkan menyatakan, bahwa konflik juga terjadi akibat kesembronoan aparat keamanan yang melakukan aksi kekerasan serta mengeluarkan sejumlah pernyataan yang menyinggung perasaan dan harga diri masyarakat Melayu maupun Dayak. "Tindakan sembrono itu menyebabkan terjadinya Tragedi Sungai Garam yang menewaskan 13 warga Melayu dan 50 orang luka berat dan ringan, yang sampai hari ini dirawat di rumah sakit," ujar Muchalli. Banyak warga Sambas menyatakan kekesalannya pada sikap aparat yang dianggap membela warga pendatang. Warga Kabupaten Sambas berdarah Melayu dan Dayak menyatakan kemampuannya untuk menjaga keamanan daerahnya. "Dengan syarat asal tak ada lagi warga Madura dan aparat yang memicu timbulnya kerusuhan baru," ujar seorang tokoh Melayu. Seperti yang telah diketahui, pada 8 April 1999, warga Melayu yang sedang dirawat di RS Umum Dr Abdul Azis, Singkawang, diserang oleh puluhan orang Madura yang mencoba melakukan aksi balas dendam.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
