Precedence: bulk
AKSI PEMBANTAIAN KELOMPOK PRO-INTEGRASI TERUS BERLANJUT
DILI (MateBEAN, 18/4/99), Berikut ini adalah laporan yang dikirim
seorang narasumber MateBEAN dari Dili yang menyatakan bahwa aksi pembantaian
oleh kelompok pro-integrasi yang didukung ABRI dan birokrasi setempat
tampaknya terus berjalan secara sistematis. Aksi kekerasan pada Sabtu (17/4)
kemarin kembali meningkat. Berikut adalah perkembangan terakhir yang
diterima redaksi MateBEAN.
Sebagaimana telah diinformasikan sebelumnya tadi siang, setelah upacara
akbar pengukuhan pasukan komando milisi pro integrasi, pimpinan Eurico
Guterres, pihak milisi pro integrasi telah melakukan serangkaian tindak
kekerasan terhadap masyarakat sipil di Kota Dili. Berhubung tadi siang
hingga sore hari, kota Dili dikuasai oleh pihak milisi pro integrasi dari
berbagai kelompok yang ada di Timor Timur, maka informasi yang dapat kami
himpun pun sangat terbatas. Ruang gerak kami (Yayasan HAK) pun terbatas,
karena kami termasuk salah satu sasaran yang dincar.
Berikut disampaikan beberapa informasi yang dapat dihimpun melalui
konfirmasi telepon dan laporan lisan beberapa saksi mata.
1. Setelah selesai upacara akbar tersebut, berbagai kelompok milisi tersebut
berpencar ke seluruh kota Dili mencari "mangsa"-nya masing-masing. Sekitar
jam 12.00, satu rombongan pasukan milisi dengan menumpang sepeda motor dan
beberapa jenis mobil, berjalan datang dari arah Matadouro, Jl. Balide menuju
ke Timur arah gereja Balide. Sewaktu melewati kantor CNRT, gerombolan ini
melepaskan tembakan, dan tembakan ini mengagetkan masyarakat yang sedang
berada sepanjang jalan. Kebetulan kantor CNRT yang telah tutup semenjak
peristiwa Liquica baru-baru ini, gerombolan milisi ini tetap berjalan ke
arah Timur. Sesampai di pertigaan jalan masuk ke kantor Desa Mascarenhas
(masih di JL. Balide), gerombolan ini berhenti dan melepaskan lagi
serangkaian tembakan ke udara, dan mereka turun dari kendaraan menyerbu
rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Sambil menginterogasi penduduk, pihak
milisi tetap melepaskan tembakan ke udara dan ke arah perbukitan di
sekitarnya. Pada saat yang sama, beberapa milisi mendatangi rumah almarhum
Herman das Dores Soares (korban penembakan anggota BTT tahun lalu di
Manatuto) mengeledah seisi rumah, kemudian membakar gudang dan dapur serta
dua mobil milik almarhum (Kijang dan Hartop). Sewaktu terjadi aksi tersebut,
pihak aparat keamanan yang ada di sekitarnya (di dekat tempat kejadian
terdapat Markas Denpal dan kompleks perumahan PM) hanya menonton saja.
Setelah para milisi itu pergi, baru aparat kepolisian datang ke tempat
kejadian, hanya untuk minta informasi kepada masyarakat. Tidak ada korban
jiwa pada peristiwa ini.
2. Sekitar jam yang sama tersebut di atas, satu kelompok milisi mendatangi
dan menyerbu masyarakat yang ada di terminal Becora, Dili Timur. Pada
kejadian ini, pihak milisi melepaskan tembakan ke arah masyarakat yang ada
di sana dan membakar sejumlah rumah dan kios. Diperoleh informasi bahwa
kira-kira 5-7 orang yang terkena tembakan. Dua diantaranya sempat dilarikan
ke klinik gereja Motael, sedangkan yang lainya tidak diperoleh informasi
tentang keadaan terakhir mereka.
3. Sekitar jam 13.00, di Desa Metiaut (Pasir Putih), satu kelompok milisi
yang dipimpin Kepala Desa setempat, menyerang beberapa rumah penduduk, dan
melukai beberapa penduduk. Diperoleh informasi dari Klinik gereja Motael
bahwa ada 4 korban luka tembakan di Desa Metiaut yang dibawa ke sana.
4. Sekitar jam 13.00 juga, diperoleh informasi bahwa ada sekelompok milisi
mendatangi rumah Bapak Leandro Isak, salah satu pimpinan CNRT, dan merusakan
semua isi rumah beliau.
5. Sekitar jam 14.00, di rumah Bapak Manuel Carrascalao (salah satu pimpinan
CNRT dan GRPRTT), dimana di situ terdapat sekitar 170 pengungsi dari
beberapa tempat, diserang pihak milisi dari kelompok Besi Merah Putih.
Sebelum penyerangan, pihak milisi memblokade jalan ke rumah Bapak Manuel,
kemudian mereka mengepung dan sesaat kemudian menyerbu ke dalam rumah. Pada
penyerangan ini, banyak pengungsi yang ada di dalam rumah Bapak Manuel yang
menjadi korban. Diperoleh informasi bahwa ada sekitar 10-15 yang mengalami
luka berat dan mungkin meninggal akibat tembakan dan bacokan. Diantara para
korban terdapat seorang anak angkat Bapak Manuel. Sewaktu terjadi
penyerangan, Bapak Manuel yang baru saja tiba dari Jakarta, tidak bisa masuk
ke lokasi rumahnya, dan terpaksa pergi ke kediaman Bapak Uskup Belo. Sampai
dengan sore hari, sebagian dari para korban yang sempat dibawa ke klinik
gereja Motael. Sedangkan yang lain belum diketahui perkembanganya. Mungkin
ada korban yang mati, dan mayatnya di bawah ke entah kemana untuk
menghilangkan jejaknya sebagaimana kasus-kasus sebelumnya (Santa Cruz dan
Liquica).
6. Sekitar jam 15.00, sekelompok milisi pergi menyerang kantor surat kabar
(koran lokal) Suara Timor Timur (STT). Dilaporkan ada sebuah truk dan tiga
mobil Kijang yang penuh dengan milisis pro integrasi datang menyerbu ke
dalam kantor STT, dimana ada beberapa staf yang sedang melakukan pekerjaan
mereka. Pada saat itu tidak terjadi bentrokan antara pihak milisi dan staf
STT yang ada di situ, dan mereka (milisi) hanya merusakan semua peralatan
kerja kantor STT seperti komputer, mesin cetak, lemari arsip, kaca pintu dan
jendela dll. Menurut salah seorang staf STT yang berada di tempat kejadian
mengatakan bahwa para milisi itu sewaktu datang merusakan kantor STT karena
STT dianggap sebagai salah satu penghianat integrasi. Mereka (milisi)
mengatakan bahwa selama ini STT selalu menjadi corong pihak anti integrasi.
6. Sekitar jam 16.00, sekelompok besar milisi menyerbu rumah masyarakat di
Kampung Cacaulidu, Desa Bairo Pite, Dili Barat. Pada penyerangan ini pihak
milisi membakar rumah milik Bapak David Diaz Ximenes, salah satu pimpinan
CNRT. Pada saat itu, Bapak David tidak berada di tempat, dan hanya istri dan
anak-anaknya yang berada di situ. Keluarga David hanya bisa meratap tangis
melihat kekejaman pihak milisi. Selain membakar rumah tersebut, pihak milisi
juga melakukan pengeledahan terhadap rumah-rumah penduduk setempat dan
penyiksaan terhadap beberapa pemuda yang dijumpai.
7. Selain di kota Dili, diperoleh informasi juga bahwa di beberapa kabupaten
juga telah terjadi penangkapan dan penyiksaan terhadap beberapa warga
masyarakat. Dari Viqueque, dilaporkan ada seorang pemuda yang ditabrak
dengan sepeda motor yang dikendarai oleh seorang anggota Makikit. Korban
langsung meninggal di tempat. Dan sewaktu pihak keluarga melaporkan kejadian
ini kepada aparat, malah diancam akan dibunuh bila tetap mempermasalahkan
hal ini.
8. Sewaktu sekelompok milisi menyerang dan merusak kantor STT, salah seorang
anggota milisi sempat mengatakan bahwa sasaran berikutnya adalah
kantor-kantor LSM-LSM yang selama ini sangat vokal dan banyak membantu para
pengungsi yaitu kantor Yayasan HAK, Kontras dan Caritas. Dan sekitar jam
19.00, diperoleh informasi bahwa Minggu (18/4) Kantor Yayasan HAK akan diserang.
9. Aksi-aksi para milisi tersebut, tidak lagi dalam rangka memaksa
masyarakat untuk menerima otonomi luas sebagaimana ditawarkan pihak
pemerintah Jakarta. Namun secara tegas dinyatakan oleh Eurico Guterres pada
sambutanya bahwa mereka akan berjuang menegakkan integrasi. Bagi mereka
otonomi tidak perlu lagi. Menurut salah seorang pengamat mengatakan bahwa
aksi-aksi ini untuk mendukung rencana dan kepentingan ABRI di Timor Timur,
dimana ABRI tidak hendak mengurangi perannya di Timor Timur. Bagi ABRI,
Otonomi luas juga merupakan suatu pukulan keras bagi mereka. Selain itu ada
juga pihak yang mengatakan bahwa sebenarnya pihak ABRI bisa menerima
"kekalahan"-nya di Timor Timur. Namun, sebelum mereka mundur atau mengurangi
peran mereka (bila otonomi menang), biar semuanya hancur. Karena bagi ABRI
mereka telah banyak berkorban di Timor Timur selama 23 tahun. Sehingga
kesannya pihak ABRI ingin membalas dendam kepada rakyat Timor Timur dengan
menciptakan keadaan kacau dan hancur seperti tahun 1975. ***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html