Precedence: bulk
PROFIL "PANGLIMA PERANG" JOAO TAVARES
DILI (MateBEAN, 23/4/99), Mantan Bupati Bobonaro Periode 1985-1990
belakangan menjulang karena mengangkat dirinya sendiri sebagai Panglima
Perang Pro-integrasi. Di mata masyarakat Timtim (terlebih masyarakat
Bobonaro), Joao adalah sosok yang menakutkan. Dengan jabatan Panglima Perang
Pro Otonomi, saat ini, Joao Tavares dikenal sebagai seorang pembunuh yang
berdarah dingin. Untuk urusan bunuh-membunuh, bukan baru sekarang Joao
Tavares melakukan itu. Ketika pecah perang saudara di Timtim, nama Joao
Tavares juga sudah tercatat sebagai sosok seorang pembunuh. Tak mengherankan
kalau Joao memimpin kelompok milisia untuk menyerang dan memporak-porandakan
kantor Harian Umum Suara Timor Timur (STT) Sabtu lalu. Siapa sebenarnya Joao
Tavares?
Joao Tavares dilahirkan di Kecamatan Atabae, 67 tahun yang lalu. Dengan
empat bersaudara, salah satu adiknya yang juga menjadi pemimpin milisia pro
otonomi adalah Jorge da Silva Tavares, saat ini sebagai Ketua DPRD II Bobonaro.
Jabatan tertinggi yang pernah disandangnya adalah Bupati Bobonaro periode
1985-1990. Ketika menjadi Bupati Bobonaro, Joao Tavares dikenal sebagai
pemimpin yang menghambur-hamburkan uang untuk berjudi serta suka main perempuan
nakal. Setelah masa jabatannya habis Joao Tavares digantikan oleh Guilherme dos
Santos.
Joao Tavares dikabarkan, menerima uang ratusan juta untuk membentuk
kelompok milisia pro integrasi di Atabae. Pada awalnya, kelompok Halilintar
yang dia pimpin itu hanya bergerak sebatas di Kecamatan Atabae. Kelompok itu
baru mulai tersebar setelah Indonesia menawarkan dua opsi, merdeka atau
otonomi khusus diperluas. Kelompok Halilintar yang dipimpinnya itu adalah
hasil bentukan Kopassus, karena semua peralatan tempur seperti senjata,
granat, serta seragam didrop Kopassus serta gaji para milisi juga dikabarkan
dibayar oleh Kopassus.
Ayah Fransisco Tavares, mahasiswa Fakultas Ekonomi, UKSW dan Jose
Tavares (diplomat Indonesia yang tidak jelas itu) memang terkenal dalam
urusan "menghilangkan" nyawa manusia secara paksa. Pada Oktober 1975, ketika
Indonesia menginvasi Timtim, Joao Tavares sudah terlibat dalam aksi
pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak sepaham politik dengannya.
Lima wartawan Australia yang dibunuh di Balibo, salah satu pelakunya
adalah Joao Tavares. Dia bersama Letjen TNI Yunus Yosfiah (saat itu masih
berpangkat Kapten) ikut menembak dan memimpin pembakaran kelima mayat wartawan
Australia itu. Bahkan sebelum mayat-mayat ini dibakar, barang-barang milik
mereka dijarah, termasuk jeans, kamera, dan jam tangan mereka. Tidak semua
penjarahan dilakukan oleh tentara Indonesia. Jo�o Tavares waktu itu juga ikut
menjarah jam tangan salah seorang wartawan dan sebuah kamera dari wartawan
lainnya.
Joao Tavares sendiri, sebagai Panglima Perang Prointegrasi yang memimpin
penyerangan dan pengrusakan Kantor STT. Menurutnya pemberitaan STT selama ini
berseberangan, dan terkesan seolah-olah ingin menjatuhkan reputasinya. "Akibat
penyerangan terhadap kantor STT itu, kami tidak bisa menerbitkan koran ini,
karena semua peralatan, komputer, pesawat telepon dan mesin fax dihancurkan,
sehingga otomatis tugas keredaksian terhenti dan macet total," kata Pemimpin
Perusahaan STT, Domingos Saldanha, sehari setelah para milisia pimpinan Joao
Tavares itu menyerang dan memporak-porandakan kantor Redaksi STT.
Di mata anak buahnya dan militer Indonesia, Joao Tavares adalah
sosok seorang pahlawan Timtim yang membela integrasi. Tapi bagi masyarakat
Timtim, Joao Tavares adalah sosok yang tak lebih dari seorang pembunuh yang
sangat kejam. Ribuan warga sipil tak berdosa pernah dia bantai secara
biadab. Suatu saat nanti Joao Tavares akan mempertanggungjawabkan semua
perbuatannya di hadapan Tuhan. Dan pintu neraka terbuka untuk Joao Tavares.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html