Precedence: bulk
TIMOR TIMUR TETAP BERGEJOLAK
DILI (MateBEAN, 23/4/99), Kesepakaran damai yang ditanda tangani
kelompok pro otonomi dan kelompok pro kemerdekaan, bukanlah solusi terbaik
untuk menyelesaikan masalah Timor Timur. Karena kesepakatan semacam ini
sudah berungkali dilakukan, tapi nyatanya Timtim tetap bergejolak.
Bahkan pada dialog AIETD (All Inclusive East Timorese Dialogue) yang
menghadirkan pemimpin kedua kelompok itu saja tidak bisa meredam konflik
kedua kelompok. "Saya tidak terlalu percaya dengan kesepakatan damai
kelompok itu. Kalau selama ABRI belum ditarik dari Timtim, serta kedua
kelompok belum meletakkan senjatanya, saya masih sangat pesimis bahwa Timtim
akan damai," kata seorang tokoh masyarakat di Dili kepada MateBEAN.
Menurut tokoh masyarakat itu selama ini yang menciptakan instabilitas di
Timtim adalah ABRI. Sehingga kesepakatan damai yang disponsori oleh Pangab
Wiranto itu, adalah salah satu dari trik-trik politik ABRI untuk mencari
legitimasi masyarakat bahwa ABRI memang bersungguh-sungguh untuk
menyelesaikan masalah Timtim. "Bagaimana kita bisa percaya bahwa Timtim akan
damai, kalau tentara tetap berkeliaran di Timtim," tambah tokoh itu.
Tokoh masyarakat itu juga menambahkan image ABRI di mata masyarakat Timtim
selama ini sudah sangat jelek. Sehingga salah satu caranya untuk bisa
memulihkan nama baiknya adalah menciptakan Timtim rusuh baru dia muncul
untuk mendamaikan kedua kelompok, sehingga terkesan bahwa ABRI memang
betul-betul tidak ingin Timtim rusuh serta ABRI ingin menciptakan suasana
yang damai dan kondusif di Timtim.
"Itu adalah bagian dari skenario ABRI. Setelah kedua kelompok itu
bertikai, baru Wiranto berkunjung ke Timtim dan memaksa kedua kelompok untuk
berdamai. Itu skenario yang sangat simple, dan tak mudah dipercaya oleh
dunia internasional. Orang Timtim juga sudah muak dengan perlakuan-perlakuan
ABRI selama 23 tahun di Timtim. Siapa yang percaya itu?" tambahnya.
Sedangkan seorang tokoh pemuda yang meminta namanya dirahasikan mengatakan
Timtim hanya akan damai kalau tentara ditarik serta perlunya gencatan
senjata kedua kelompok. "Dalam gencata senjata itu juga harus menghadirkan
badan-badan internasional, komisi HAM PBB serta beberapa LSM Indonesia yang
independen yang mengawasi gencatan senjata itu. Sehingga bisa setelah
gencatan senjata itu, tidak akan terjadi lagi konflik bersenjata di Timtim.
Dan stabilisasi langsung diambil alih oleh Polisi PBB sedangkan Korem, Kodim
dan Koramil, serta Polda, Polres dan Polsek, langsung didemisioner, sehingga
tugas keamanan langsung ditangani oleh PBB. Hanya dengan itu saya kira
masalah Timtim bisa selesai dan perdamaian bisa bersemi di Timtim," katanya.
Menurutnya, sangat riskan kalau ABRI tetap bertugas di Timtim, karena ABRI
itu mempunyai berbagai macam skenario untuk menciptakan situasi Timtim tetap
rusuh. "Ketika rakyat Timtim ingin hidup bersatu, ABRI mulai melakukan
provokasi untuk memecah-belahkan orang Timtim dengan membagi-bagikan
senjata-senjata kelompok pro otonomi. Setahun lalu, Uskup Belo dan Uskup
Basilio yang berinisiatif mengadakan dialog rekonsiliasi di Dare
menghadirkan kedua kelompok untuk berdamai saja Timtim tetap rusuh. Apalagi
dengan seorang Pangab Wiranto yang mencoba untuk tampil sebagai pahlawan.
Siapa yang percaya bahwa Timtim akan aman dan damai," tambahnya.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html