Precedence: bulk


"MERDEKA" MATI, TERBIT "RAKYAT MERDEKA"

        JAKARTA (SiaR, 23/4/99), Para pelanggan Harian Umum  Merdeka sejak
Kamis 
(22/4) dikagetkan dengan  berubahnya logo koran Merdeka dengan penambahan
kata "Rakyat" di depannya. Semula para pelanggan hanya sekadar heran, tapi
pada Jumat ini ada pemberitahuan secara resmi perubahan manajemen itu di
halaman satu koran tersebut.

        Dalam "maklumat" manajemen harian "Rakyat Merdeka" itu dipaparkan
bahwa seluruh karyawan Merdeka menyatakan mendirikan "Rakyat Merdeka".
Mereka minta agar para pembaca, mitra usaha dan relasi tetap melanjutkan
hubungan yang ada. 
Sejak Kamis lalu (22/4) nama BM Diah sebagai pendiri Merdeka sejak 1945
tidak muncul lagi di boks redaksi halaman VI.  Begitu pula pemimpin redaksi
Tribuana Said telah hilang dan digantikan oleh Jasofi Bachtiar. Tetapi untuk
redaksi dan staf redaksinya yang lain masih utuh. Begitu pula tulisan
"Suara Rakyat Republik Indonesia" berganti menjadi "Reformasi Total Untuk
Rakyat".
Namun beberapa pembaca menilai, isi dan materi Merdeka belakangan memang
cenderung amburadul dan bombastis. "Tak lebih dari penjual judul," kata
salah seorang pembaca.

        Dari berbagai sumber diperoleh informasi, bahwa setelah harian Merdeka
mengalami kolaps beberapa waktu silam, pengusaha dari Grup Jawa Pos, Dahlan
Iskan, memasokkan dananya sebesar 40%. Sehingga, sejak saat itu komposisi
saham Merdeka 40% untuk Herawati Diah, 40% untuk Dahlan Iskan dan 20% untuk
karyawan Merdeka. Namun, menurut sumber ini, belakangan Herawati ingin
meminta lagi tambahan saham 10% dari penyertaannya di Merdeka tapi ditolak
oleh Dahlan. Sejak saat itu, lanjut sumber ini, pertentangan antara keduanya
terus berlangsung dan semakin meruncing saja. "Ujung- ujungnya,  Merdeka
terbit dengan tambahan kata Rakyat di depan Merdeka itu," kata sumber SiaR.

        Soal berubahnya Merdeka menjadi harian Rakyat Merdeka menurut sumber ini
sebenarnya sudah lama diinginkan oleh para karyawan. Namun pengurusan
SIUPPnya baru bernomor 88/Ditjen PPG/K/1999 diperoleh pada 6 April 1999.
Tapi konflik di tubuh Merdeka ini tidak pernah muncul ke permukaan. "Dan
tampaknya para karyawan memang  sudah bersepakat untuk tetap kerja seperti
biasa. Hingga tahu-tahu terjadi perubahan nama korannya, tanpa ada waktu
tidak terbit sehari pun," kata sumber SiaR.

        Konon, menurut sumber ini lagi, saham 10% yang seharusnya ditambahkan
Herawati adalah uang milik Ginanjar Kartasasmita.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke