Precedence: bulk
KARYAWAN RRI DIPAKSA TUSUK PARTAI GOLKAR
JAKARTA (SiaR, 23/4/99), Para karyawan/ti Radio Republik Indonesia (RRI)
Stasiun Nasional Jakarta diminta untuk menusuk Partai Golkar dalam Pemilu,
Juni mendatang. Pemaksaan secara halus ini terungkap, setelah dalam acara
santiaji pemahaman Pemilu yang berlangsung pada awal pekan ini, para
penceramah yang mantan Manggala BP-7 menyarankan para karyawan/ti RRI di
akhir santiaji, agar menyalurkan aspirasinya ke Partai Golkar.
Menurut pengakuan sejumlah karyawan-karyawati, Kamis (22/4), pada mulanya
mereka mempertanyakan acara yang dikemas dengan berkedok sebagai santiaji
pemahaman pemilu tersebut. Istilah santiaji, menurut seorang karyawati di
bagian pemberitaan, mengingatkan mereka kepada model-model pembekalan ala
Orde Baru.
"Katanya anggota Korpri sekarang ini diberi kebebasan untuk menyalurkan
aspirasinya ke partai-partai politik manapun, koq masih ada pesan titipan
kayak begini," keluh karyawati RRI tersebut.
Dalam acara santiaji tersebut, para penceramah itu juga menyebut-nyebut
tentang rencana pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS) sebesar
Rp 150 ribu di semua tingkatan/golongan berlaku per 1 Mei ini. Selain itu,
demikian karyawati RRI itu mengutip si penceramah, di tiap
instansi/departemen pemerintah dimana karyawan/ti dan keluarganya bersedia
menyalurkan aspirasinya untuk Partai Golkar --meskipun menggunakan hak
pilihnya di lingkungan rumah masing-masing-- akan diberlakukan kebijakan
penambahan uang insentif khusus sebesar Rp 100 ribu selama jangka waktu yang
ditentukan.
Karyawati RRI itu mengaku, sebagian besar rekan-rekannya sempat memprotes
model pembekalan di acara santiaji itu. Berbagai celetukan tak senang sempat
terlontar. "Huu�katanya zaman reformasi kok masih ada yang model begini,"
cemooh beberapa peserta santiaji tak puas.
Kepala RRI Stasiun Nasional Jakarta Drs Beni Koefbani yang dihubungi per
telepon menolak memberi komentar tentang masih adanya praktik-praktik
penekanan dengan berkedok santiaji ala Orde Baru itu di instansinya. "Itu
kan pembekalan biasa, agar mereka lebih memahami pentingnya penggunaan hak
pilih mereka, terutama menyangkut hal-hal yang bersifat teknis. Nggak ada
itu tekanan untuk memilih Partai Golkar, apalagi dengan iming-iming segala
macam," katanya membantah.
Selain di RRI, SiaR juga memperoleh informasi hal serupa telah terjadi di
berbagai instansi pemerintah lainnya. Di Direktorat Jenderal Perikanan
misalnya, selain diberi pesan agar para karyawan dan keluarganya menusuk
Partai Golkar, sejumlah karyawan juga mengeluhkan beredarnya isu yang
menyebutkan, bahwa hal itu akan mempengaruhi konduite karyawan di mata
atasan mereka.
"Kami resah, apakah benar jika kami tak menyalurkan aspirasi kami ke Partai
Golkar, posisi dan jabatan kami menjadi terancam?" ujar seorang karyawan
Ditjen Perikanan.
Rupanya tak hanya karyawan dari instansi pemerintah yang merasa
diintimidasi untuk menusuk Partai Golkar. Para pelajar pun mengalami hal
serupa. Seperti para pelajar SMU Wiyata Mandala, Jakarta Utara, yang juga
dipaksa menusuk partai berlambang pohon beringin melalui model acara
ceramah. Berbeda dengan di RRI, maka di SMU Wiyata Mandala itu, acara
ceramah mengambil tema perkelahian pelajar dengan melibatkan staf Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, dan para perwira Polwan dari Polda Metro Jaya.
Dalam acara ceramah itu, menurut pengakuan sejumlah pelajar, seorang
penceramah, perwira Polwan, meminta para pelajar untuk tidak lupa
menyalurkan aspirasinya ke Partai Golkar. Bahkan tanpa sungkan-sungkan, sang
Polwan, kata para pelajar itu, menjanjikan pembagian uang yang akan
dibagikan seandainya mereka menyatakan bersedia menyalurkan aspirasinya
melalui Partai Golkar.
Masih menurut para pelajar SMU Wiyata Mandala itu, sejumlah guru dan para
pelajar yang agak risih mendengar ucapan penceramah itu melakukan protes,
sehingga acara ceramah tersebut sempat gaduh oleh suara protes mereka.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html