Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 14/II/18-24 April 99
------------------------------

KEMANA DUIT BANK DUNIA?

(PERISTIWA): Bank Dunia menunda pinjaman senilai US$ 600 juta untuk
Indonesia. Padahal selama ini, selain dimakan para pejabat dan pengusaha
kroni, duit itu jatuh juga ke kantong konsultan Bank Dunia dan perusahaan
multinasional kroninya.Bank Dunia menunda pinjaman senilai US$ 600 juta
untuk Indonesia. Padahal selama ini, selain dimakan para pejabat dan
pengusaha kroni, duit itu jatuh juga ke kantong konsultan Bank Dunia dan
perusahaan multinasional kroninya.

Memang sial jadi rakyat di negara pinggiran yang diperintah oleh penguasa
korup. Rakyat Indonesia sampai akhir tahun 1998 saja sudah harus menanggung
hutang pemerintah pada luar negeri sebesar US$71,76 milyar. Belum lagi
hutang yang sudah diteken oleh Habibie selama kurang dari setahun ia
berkuasa sebesar US$17,6 milyar.

Sebetulnya sudah menjadi kasak-kusuk khalayak betapa duit pinjaman itu telah
dikorup oleh para pejabat. Bank Dunia sendiri, yang menjadi salah satu mata
air hutang, juga pernah melansir memo internal bahwa selama tiga puluh tahun
pinjaman dana mereka beroperasi di Indonesia, sekitar tiga puluh persennya
sudah jatuh ke tangan para pejabat. Dari data yang diungkap pengamat asal
Northwestern University, Jeffrey Winters, sejumlah US$10 milyar telah
dikorup dari total hutang US$30 milyar yang dikucurkan Bank Dunia selama
Rejim Soeharto berkuasa.

Yang mencengangkan, pengakuan dari Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier
mengenai berapa persen yang dikorup justru lebih besar. Senin, 5 April 1999,
Bisnis Indonesia melansir pernyataan Fuad dalam berita kecil yang nyaris
luput dari perhatian. Di situ Fuad bilang, "50% pinjaman luar negeri jadi
obyekan pejabat". Mereka yang sinis menanggapi bahwa apa yang dibilang Fuad
itu adalah pesanan dari Cendana untuk menghantam kelompoknya Ginandjar. "Dia
datang ke Cendana. Nah, di sanalah yang menggosok-gosok," ujar pejabat dari
kantor Menko Ekuin yang tak mau disebut namanya. Fuad mengelak
mentah-mentah, "Saya bicara dengan pengamatan ekonomi saya, tak ada niat
politis sama sekali". Penyelewengan itu, menurut Fuad sebetulnya sudah ia
catat sejak mantan Dirjen Pajak ini duduk sebagai Kepala Pusat Penyusunan
dan Analisis Anggaran Pendapatan Belanja Negara di bawah Badan Analisa
Keuangan Negara, Perkreditan dan Neraca.

Nah, sejak itulah polemik jadi membesar hingga membuat Bank Dunia gerah.
Perundingan antara Pemerintah RI dan Bank Dunia yang sudah lama berjalan
tersendat. Bank Dunia tidak merasa yakin dengan mekanisme baru pengawasan
dana oleh pemerintah. Maka keluarlah penundaan hutang sebesar US$600 juta
dari Bank Dunia kepada Indonesia. Menurut The Asian Wallstreet Journal
(AWSJ) edisi 13 April 1999, Bank Dunia merasa khawatir dana pinjaman akan
disalahgunakan hingga menjelang Pemilu mendatang. "Pinjaman itu seharusnya
diserahkan pada 31 Maret lalu, namun sejumlah aktivis oposisi di Indonesia
meminta Bank Dunia menangguhkan pencairannya sampai sesudah pemilu, karena
dikhawatirkan Partai Golkar akan menggunakan dana tersebut untuk memenangkan
pemilu pada tanggal 7 Juni nanti," demikian tulis AWSJ. Aktivis oposisi yang
dikutip oleh AWSJ, Wardah Hafidz dari Konsorsium Masyarakat Miskin Perkotaan
mengatakan, "Dana Bank Dunia jarang yang sampai kepada orang yang berhak,
namun banyak digunakan untuk politik uang".

Menarik untuk mengetahui bagaimana dan kemana duit hutang itu bocor. Karena
kalau dihitung dari omongan Fuad Bawazier, maka korupsi yang sudah dibukukan
Rejim Soeharto besarnya senilai US$35,9 milyar atau lebih dari Rp300
trilyun. Suatu jumlah yang sangat besar, setara dengan tiga kali lipat APBN
kita sekarang ini. Siapa yang dapat jatah? "Kalau itu polanya ada di APBN,
refleksinya ada di sana. Artinya yang paling banyak proyek itu kan ya di
Pekerjaan Umum (PU), Departemen Perhubungan, Departemen Pertambangan, sesuai
dengan sifat departemen itu sendiri," papar Fuad.

Beginilah prosesnya, suatu departemen mengajukan DUP (Daftar Usulan Proyek)
kepada Bapenas agar bisa dijadikan DIP (Daftar Isian Proyek). Untuk bisa
masuk dalam "buku biru" persetujuan Bapenas, antar departemen sudah bersaing
satu sama lain. Sampai di situ suap menyuap sudah terjadi yang nantinya
biayanya dibebankan pada pengurangan dana yang didapat. Dari Bapenas
diusulkan ke Bank Dunia, lantas dananya turun ke Departemen Keuangan. Untuk
mengeluarkan dana itu pun, departemen yang proyeknya disetujui harus
mengeluarkan uang pelicin lagi. Lalu di tingkat pelaksanaan proyek,
departemen itu memberikan kontrak kepada swasta. Nah untuk itupun, swasta
harus menyogok para pejabat departemen yang bersangkutan agar tender jatuh
ke tangan dia. Setelah dapat proyek, swasta domestik yang notabene kurang
menguasai tehnologi pembangunan proyeknya kemudian menggandeng multinasional
corporation (MNC) dan diawasi oleh konsultan di bidang proyek tersebut.
Perusahaan multinasional dan konsultan asing itu notabene adalah kroni Bank
Dunia juga. Jadi, sesungguhnya hutang yang harus dibayar oleh rakyat
Indonesia turun temurun itu ternyata hanya dinikmati segelintir penguasa
yang korup dan kroninya, yakni pengusaha domestik yang rendah kemampuannya
alias sebatas perantara, serta para kroni internasional Bank Dunia yang jadi
konsultan dan perusahaan-perusahaan multinasional yang mengerjakan
proyek-proyek tersebut.

Contoh fakta yang berhasil diungkap oleh Indonesian Corruption Watch (ICW)
adalah apa yang terjadi dengan proyek-proyek PAM Jaya. Sejak tahun 1978
sampai 1997, Bank Dunia memberikan pinjaman kepada Pemda DKI untuk
disalurkan ke PAM Jaya/PDAM sebesar Rp4 trilyun. Perusahaan multinasional
yang masuk adalah Thames Water International yang berpusat di Inggris dan
Suez Lyonnaise des Eaux asal Prancis. Thames masuk dengan mitra PT Kekar
Plastindo yang kemudian berganti nama jadi PT Kekarpola Airindo, sebuah
perusahaan domestik milik Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Harry
Sapto Soepojo dan Erik Boy Kosasie. Sementara Lyonnaise menggaet PT Garuda
Dipta Semesta, yang sahamnya dimiliki Group Salim melalui PT Elang Eka
Prabawa (90%) dan Soetyo Koerniawan (10%). Meski banyak kebocoran dan
praktek kolusi, semua proyek itu berlangsung mulus di bawah pengawasan
konsultan Alain Locussol, spesialis suplai dan sanitasi air Bank Dunia.

Setelah reformasi, dua perusahaan domestik kroni Soeharto ditendang. Muncul
ide swastanisasi PAM sesuai semangat liberalisasi yang ditiupkan Bank Dunia.
Tapi swasta yang dapat rejeki adalah dua perusahaan multinasional kroni Bank
Dunia juga, yakni Thames dan Lyonnaise itu tadi yang telah berubah nama
menjadi PT TPJ (Thames PAM Jaya) dan PT Palyja (PAM Lyonnaise Jaya). Setelah
Salim dan Sigit tersingkir, kontrak kerjasama dengan dua multinasional itu
jalan terus tanpa revisi. Bahkan meski sudah "diswastanisasikan", Bank Dunia
masih memberikan hutang sebesar US$83,000. Pemda DKI pun juga mengusulkan
dana pinjaman baru sejumlah US$800,000. Ya ampun, ini kan namanya memutar
uang ke kantong-kantong kapitalis internasional atas nama hutang yang harus
ditanggung rakyat Indonesia?

Makanya, tak usahlah para aktivis LSM berbangga bisa mendesak Bank Dunia
menunda hutang ke pemerintah RI. Seolah, Bank Dunia adalah bagian dari
semangat idealis reformis yang peduli pada bahaya politik uang menjelang
pemilu. Bank Dunia mah kepentingannya rasional saja, dia merasa tidak yakin
duit yang dihutangkannya bisa kembali.

Lalu, bagaimana dengan duit hutang tadi? Siapa yang bayar? Ketua ICW, Teten
Masduki punya usul menarik, "Ya koruptor itu yang harus membayarnya. Di
negara-negara anggota Bank Dunia seperti Inggris, Perancis, dan Amerika,
sistem hukum yang mereka punya memungkinkan untuk menyeret para pejabat
Indonesia ke pengadilan mereka. Misalnya seperti The Practice Corruption Act
dari Amerika tahun 1970, itu memungkinkan Pemerintah Amerika menyeret para
koruptor bantuan asing ke pengadilan mereka". Boleh juga, tentu dengan
catatan pemerintah pasca pemilu 1999 muncul dari kalangan reformis yang
tidak melindungi para koruptor itu. Sementara perekonomian kita di masa
mendatang ada baiknya tak tergantung pada hutang lagi, melainkan berpijak
pada usaha-usaha mandiri yang tangguh. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke