Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 14/II/18-24 April 99 ------------------------------ RUHUT SITOMPUL (LUGAS): Jika di awal-awal reformasi, lelaki pendek, berkulit putih, berwajah kotak, berambut kucir dan berjas muncul di televisi, di tayangan-tayangan berita yang menampilkan Muchtar Pakpahan, Sri Bintang Pamungkas dan Nuku Sulaiman di LP Cipinang, ia adalah Ruhut Sitompul. Ketika itu, Ruhut selalu hadir di acara-acara kaum reformis anti Soeharto, tak hanya di penjara, seolah-olah menampilkan dirinya sebagai sosok seorang reformis. Padahal kehadirannya di penjara Cipinang, bukanlah siapa-siapa bagi ketiga tapol itu. Ia selalu muncul dan duduk berdampingan dengan mereka, hanya ingin mengesankan seolah sebagai pengacara orang-orang ini. Karena ulahnya, baik Muchtar, Bintang dan Nuku sempat gusar karenanya. Bahkan nuku pernah hendak menempelengnya karena Ruhut memaksa-maksa untuk segera menerima amnesti. Ruhut adalah salah satu pengurus Pemuda Pancasila dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI. Ia membela Yorries Raweyai, Ketua Harian Pemuda Pancasila ketika bos preman itu tersangkut kasus perjudian. Ruhut memang pengacara praktek yang lebih banyak mengurus penagihan utang ketimbang beracara di pengadilan. Maka tak heran, jika sebuah majalah menyebut ia pengacara berpenghasilan terbesar: Rp1 miliar setahun. Ruhut juga dekat dengan anak-anak Soeharto, yang di zamannya bisa berbuat apa saja, bahkan memecat jendral bintang empat. Sejak dulu Ruhut mendukung Golkar, bersama Yorries dan Yapto Soeryosoemarno, Ketua Umum Pemuda Pancasila. Jadi orang terheran-heran ketika ia tiba-tiba "dekat" dengan kelompok prodemokrasi. Orang berfikir, "mungkin Ruhut mencari perlindungan dan ingin membersihkan namanya." Namun, belakangan, setelah Golkar berhasil mengkonsolidasikan dirinya, Ruhut kembali lagi. Ia jadi pengacara Golkar. Tempo hari, ketika Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mengajukan somasi di kantor Golkar, Slipi, Ruhut marah. Ia menendang seorang wartawan ANTV dan menuduh para wartawan dibayar untuk meliput penyerahan somasi TPDI. "Saya preman, kalian mau apa!" ujarnya. Ruhut telah kembali ke asalnya. Banyak orang kembali gusar, "Ruhut itu sebaiknya diculik dan dibunuh saja," katanya. Namun, tindakan itu tak perlu. Orang-orang semacam Ruhut akan membusuk sendiri bersama zaman yang berubah ini. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
