Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 14/II/18-24 April 99
------------------------------

TUNTUTAN MENDERA GOLKAR

(POLITIK):Tuntutan dan somasi bertubi-tubi dilayangkan kepada Partai Golkar.
Golkar sempoyongan dan semakin memperlihatkan sifat aslinya: preman.

Hari-hari belakangan ini merupakan saat yang tidak mengenakan bagi Partai
Golkar. Setelah Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) melayangkan somasi
karena Akbar Tanjung menuduh mereka sebagai pemicu kerusuhan di Purbalingga
Jawa Tengah, partai berlogo beringin itu juga disomasi oleh Ketua Partai
Amanat Nasional Amien Rais dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).

Amien Rais melalui kuasa hukumnya Abdullah Fadri Auli SH dari Kantor
Pengacara dan Persekutuan Hukum Abherzon's Bandarlampung telah menyerahkan
bukti-bukti pelecehan terhadap ketua PAN itu kepada Direktorat Reserse Polda
Lampung. Menurut Amien, isi spanduk yang dipampang Golkar dalam apel Akbar
Golkar 27 Maret 1999 itu menggambarkan belum sembuhnya penyakit arogansi
Golkar yang tumbuh selama Orde Baru lahir.

"Golkar sudah ditolak dimana-mana, masih melecehkan sesama partai. Kalau
mereka minta maaf, ya selesai disitu. Tetapi, kalau tidak, ya kita kejar
sampai ke ujung pengadilan," ujarnya.

Terhadap laporan kuasa hukum Amien Rais, pihak Polda Lampung dalam waktu
dekat akan memeriksa sejumlah saksi pelapor, dan memanggil panitia apel
akbar Partai Golkar, serta menyita barang bukti, yaitu spanduk yang
dipersoalkan Amien Rais.

Seperti diberitakan sejumlah media massa, awal dari peringatan Amien Rais
kepada Golkar tersebut bermula dari munculnya spanduk di Bandar Lampung yang
bernada menghina dan melecehkan mantan Ketua Muhamadiyah itu. Amien Rais
merasa dihina dan dilecehkan oleh spanduk yang dipasang kader Golkar di
Lampung yang berbunyi: "Tanggamu Oke, Aminraisso (Amin tak mampu, red.),
Jajuliiso".

Adapun somasi juga datang dari Ketua Umum IJTI Haris Jauhari. Melalui kuasa
hukumnya Johnson Panjaitan SH menilai tindakan sejumlah pengurus Lembaga
Pelayanan dan Penyuluhan Hukum (LPPH) Partai Golkar antara lain pengacara
berkuncir Ruhut Sitompul SH dan Lawrence TP Siburian SH yang dibantu satgas
Golkar telah melakukan perbuatan melecehkan profesi anggota IJTI, reporter
ANTeve Gunawan, serta Raffles Umboh dengan menendang serta mengeluarkan
kata-kata secara kasar.

"Saya ini preman asli, kau bisa diinjak-injak disini," kata Gunawan
menirukan seorang di antara kader Golkar itu dengan jumawa. Dan saat itu
pula para preman tersebut memaksa kedua reporter ANTeve tersebut untuk
meminta maaf dengan menendang dan memukul kedua reporter itu.

Peristiwa pelecehan dan penganiayaan terhadap reporter ANTeve itu  terjadi
di kantor DPP Golkar Slipi saat mereka melakukan peliputan penyerahan surat
somasi TPDI kepada Golkar. Dan mereka sudah secara resmi melaporkan kepada
polisi. Kini tinggal menunggu polisi, maukah mereka meneruskan tuntutan para
jurnalis televisi ini?

Sementara itu Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Rabu (14/4) lalu juga
telah melayangkan surat pengaduan ke Polda Metro Jaya sehubungan dengan
adanya pencemaran nama baik dan perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan
kader DPP Partai Golkar, Ruhut Sitompul, kuasa hukum Partai Golkar dari
Lembaga Penyuluhan dan Pelayanan Hukum (LPPH) Golkar. Waktu itu, seusai
kedatangan TPDI ke Sekretariat DPP Partai Golkar untuk melayangkan somasi,
Senin (12/4), Ruhut dihadapan wartawan sempat menyebutkan bahwa TPDI menyuap
wartawan Rp2 juta per media untuk hadir di kantor Golkar itu.

Padahal, menurut Didi Supriyanto dari TPDI, kehadiran wartawan ke
Sekretariat DPP Partai Golkar adalah suatu kebetulan belaka dan tidak pernah
ada pengaturan sebelumnya. "Kami datang ke DPP Partai Golkar dan di sana
sudah banyak wartawan. Jadi, kami tidak membawa wartawan sejak awal.
Lagipula, kami tidak punya uang sebanyak itu," ujar Didi.

Dalam sejarah Orde Baru, Golkar memang menggunakan preman-preman sebagai
beking kegiatannya. Apalagi setelah berdirinya ormas Pemuda Pancasila telah
"secara resmi" mewadahi para preman di setiap daerah untuk ikut menyokong
Golkar. 

Kini ketika Golkar di berbagai tempat ditolak masyarakat, mereka semakin
salah tingkah bahkan cenderung destruktif. Pecahnya kerusuhan di Purbalingga
Jawat Tengah, ternyata diketahui sebagai agen Golkar. Tiga provokatornya
ternyata anggota Pemuda Pancasila. Di Jakarta, wartawan dihujat dan dianiaya
oleh preman-preman yang dipimpin Ruhut Sitompul. Jadi, Golkar memang preman. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke