Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 14/II/18-24 April 99
------------------------------

BURUH, LAHAN MONEY POLITIC

(POLITIK): Karena krisis moneter yang mencekik, kaum buruh terpikat kampanye
sejumlah partai yang menjajikan uang.

Eggy Sudjana, Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) belakangan
rajin mendatangi sejumlah perkampungan buruh yang kumuh di Jabotabek. Ia
mengumpulkan para buruh itu dan meminta mereka mendirikan koperasi. Setelah
terbentuk koperasi-koperasi, Eggy menyetor uang setiap kelompok Rp2,5 juta.
Buntutnya, mereka diminta Eggy untuk menjadi anggota Partai Bulan Bintang
(PBB). Eggy memang `bergerilya' untuk PBB. Para buruh pun senang, dengan
droping dana sebesar itu, paling tidak kehidupan mereka yang sulit bisa
sedikit terbantu. "Tak apa kita memilih PBB," ujar mereka. Maka jadilah
rumah-rumah petak para buruh jadi semacam posko-posko PBB. Hal sama juga
dilakukan Partai Keadilan dan partai-partai lain yang punya cukup uang.

Buruh dan apalagi pengangguran, memang bisa jadi lahan empuk untuk politik
uang. Jumlah mereka hampir 80 juta orang, 50 juta buruh formal dan 30-an
juta buruh informal, dan hampir semuanya memiliki hak pilih. Sebagai segmen
pemilih, massa buruh potensial untuk menguasai parlemen, bahkan merebut
kekuasaan.

Di Surabaya, Tjuk K. Sukiadi, pengamat ekonomi dan dosen Universitas
Airlangga, Surabaya, mengingatkan kemungkinan tenaga kerja, termasuk korban
PHK, dijadikan komoditas politik oleh partai-partai politik peserta pemilu.
Tjuk mengimbau agar para buruh mewaspadai praktek money politics yang
memanfaatkan kelemahan buruh. "Daya tahan pekerja cukup lemah menghadapi
praktek money politics yang dilakukan preman politik, sehingga mudah
dijadikan obyek untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan
kekuasaan," ujarnya.

Tjuk juga mengingatkan agar Federasi SPSI independen agar posisi buruh tidak
selalu dijadikan objek dan komoditas politik. Ketua DPC FSPSI, Surabaya,
Ismail Syarief mengakui banyak tawaran dari parpol yang akan memanfaatkan
organisasi yang dipimpinnya bagi kepentingan politik, tapi katanya, SPSI
tetap menegakkan independensi. "Kaum buruh kini menjadi primadona dalam
praktek politik uang, karena anggota SPSI Surabaya saja mencapai 240 ribu
orang. Buruh yang menerima uang tidak bisa disalahkan sebab berekonomi
lemah, tapi aspirasi politik dalam pencoblosan saat Pemilu nanti tergantung
nurani masing-masing," tuturnya. 

Kini, setidaknya ada dua partai yang terang-terangan menyebut dirinya partai
buruh, menggunakan buruh sebagai basis massanya yakni: Partai Buruh
Nasional, partai yang didirikan para aktifis Serikat Buruh Sejahtera
Indonesia dan Partai Pekerja Indonesia, partai yang diririkan oleh mantan
pengurus Serikat Pekerja Seluruh Indonesia. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke