Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 14/II/18-24 April 99
------------------------------

PERS TERKOTAK PRASANGKA SARA
Oleh: Thamrin Amal Tomagola

(OPINI): Sejak Orde Lama sebetulnya koran sudah partisan karena mereka
merepresentasikan kepentingan komunal secara politik. Di situ terjadi suatu
pertarungan yang sengit dengan cara-cara yang boleh dibilang kampungan.
Sesudah Orde Lama bukannya reda tapi makin menghebat, meskipun terpendam.
Begitu juga sebetulnya yang terjadi di masyarakat. Tadinya ada tiga kelompok
Islam, Kristen dan Komunis. Nah kalau menghadapi komunis kedua kelompok
agama bersatu. Lalu komunis kalah, konflik di antara dua agama jadi
diametral, berhadapan langsung, bisa jadi ramai sekali. 

Yang harus dicatat adalah bahwa konflik itu pada awalnya sebatas perdebatan
theologis. Tidak mengacu pada kehidupan sehari-hari. Tapi kemudian konflik
itu merasuk ke bidang ekonomi, sosial dan politik. Kekuasaan, jabatan, dan
posisi dinilai mewakili suatu kelompok. Konflik identitas menguat dan ini
dipelihara Orde Baru, dibiarkan hidup asal tidak mencuat ke permukaan. Semua
wacana yang muncul dalam pers Indonesia waktu itu, pembingkaiannya atau
framingnya adalah pembangunan, kestabilan, keharmonisan. Itu framenya.
Segala sampah disapu ke bawah karpet sehingga tidak kelihatan sama sekali.
Semua konflik disingkirkan ke pojok-pojok ruang yang tidak terlihat sehingga
kemajemukan yang sebetulnya merupakan dasar yang cukup bagus untuk membangun
kerukunan justru habis terlibas. 

Kemajemukan itu sendiri ada dua bentuk, kemajemukan yang teatrikal dan
kemajemukan yang substansial. Kemajemukan yang teatrikal itu bagai panggung
sandiwara, biasanya muncul pada Hari Kartini misalnya, ada orang pakai
kebaya, baju Minang, baju Batak. Dan kalau sudah ditunjukkan kemajemukan itu
sepertinya Indonesia sudah aman, damai sejahtera. Kalau ada doa bersama itu
yang memimpin doa harus orang Islam, kalau sumpah masing-masing dihadapan
pemimpin agamanya entah itu kyai atau pastor. Teatrikal itu juga sangat
berkaitan dengan prosedur. Misalnya konflik Ambon, semua pimpinan agama di
Ambon, ada kyai ini, pendeta itu semua dikumpulkan lalu tanda-tangan
bersama. Secara prosedur sudah betul kemudian diumumkan. DPRD juga bikin hal
yang sama, bikin pernyataan dalam bahasa Indonesia yang tinggi. Sudah
jelas-jelas bukan ditujukan untuk masyarakat yang sedang berkonflik tapi
ditujukan kepada pemerintah pusat. Padahal bisa dipakai bahasa Ambon
sehari-hari supaya masyarakat bisa berdamai. Seperti Ingak...Ingak (Thamrin
menirukan iklan masyarakat di TV yang dibikin Visi Anak Bangsa). Itu
sebenarnya bisa dan mudah dipahami masyarakat biasa. 

Kita belum sampai pada kemajemukan yang substansial. Bahwa prinsipnya memang
kita berbeda secara theologis, secara penafsiran. Itu yang tidak diangkat ke
permukaan dan tidak dipercakapkan. Secara terus-terang. Nah pada saat
kemudian diangkat, orang komentar, ah ini kok tega-teganya mengangkat
sesuatu yang bobrok. 

Sekarang kita masuk pada era di mana keterbukaan itu betul-betul mewabah.
Orang-orang seperti berlarian. Seperti misalnya ada makanan di hadapan tapi
semua orang ditahan, jangan dulu mulai, tapi kemudian tiba-tiba tahanan itu
jebol. Yang mengambil makanan itu pertama-tama bos-bos sampai yang terakhir
sekarang ini massa berebut. Terjadi pengelompokan-pengelompokan identitas,
termasuk dalam pers. 

Orang hanya percaya pada kelompoknya, juga pers yang dipercayainya yang
mewakili identitas kelompoknya, karena ia dalam situasi yang kacau sudah
tidak percaya lagi pada kelompok lain. Ada cerita menarik dari Munir ketua
Kontras. Dia habis keliling ke masjid-masjid di pantai utara Jawa, dia
jelaskan pokok persoalannya. Tapi orang-orang tidak percaya. Mereka bilang,
"Ah nggak gitu yang dibilang Sabili". Jadi referensi media yang menjadi
bacaan itu menentukan pengelompokan masyarakat juga. Penerbit sudah
mengetahui di mana pasar mereka, community mereka dan dari situlah mereka
bertahan mati-matian. 

Pers kemudian terkelompok menurut komunitasnya. Yang di kota bacaannya
Kompas, Tempo, kalau sore ya baca Suara Pembaruan. Sedang orang-orang Islam
radikal ya bacaannya Sabili atau Siar (Siar dengan r kecil, ada media
alternatif lain yang bernama SiaR, dengan R besar). Di dalam pers sendiri
tidak ada komunikasi internal antar media. Sekarang yang terjadi adalah
penyaluran alamiah dari aspirasi yang tertutup selama tigapuluh dua tahun ke
dalam penerbitan-penerbitan itu. Hanya harus diberi catatan bahwa, benturan
di media-media itu belum sampai sama dengan apa yang terjadi di Yugoslavia,
di mana media benar-benar sudah menjadi propaganda partisan. Di Indonesia
ini masih mending. Saya tidak mau bilang ini baik atau buruk karena semuanya
ini masih on going battle (menuju pertempuran), jadi prosesnya bisa menuju
ke yang baik atau yang buruk. 

Nah, sekarang sebetulnya bola ada di tangan para pengelola media, apakah
akan membiarkan proses on going battle ini terus memuncak?

(*) Penulis adalah pengajar di FISP UI. Tulisan ini disarikan dari diskusi
"Media dan Liputan Mengenai Konflik SARA" 

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke