Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99
------------------------------

"MILISI DAN TNI MEMBANTAI KAMI"

(PERISTIWA): Sabtu (17/4) lalu, rumah keluarga Manuel Carrascalao diserbu
milisi pro-integrasi dan pasukan TNI. Sejumlah pengungsi tewas, mungkin
mencapai puluhan, termasuk salah seorang anak Manuel. Berikut kesaksian
seorang gadis Timor Timur, Maria (bukan nama sebenarnya. Identitasnya
disembunyikan untuk keselamatannya) dalam insiden penyerangan para milisi
bersenjata terhadap rumah Manuel Carrascalao:

Sabtu (17 April) pagi sekitar pukul 10.00 Witeng, Maria pergi ke rumah
keluarga Carrrascalao mengabarkan kondisi pengungsi di Suai dan situasi
politik di Timtim. Waktu itu, memang ada upacara pengukuhan pasukan Aitarak
dan para milisi lainnya di depan kantor Gubernur Abilio. Maria  dan Chris
Carrascalao sedang bicara soal pengungsian tersebut, ketika tiba-tiba
terdengar bunyi rentetan tembakan dari arah jalan. Mereka memberitahu pada
para pengungsi yang ada di dalam rumah agar waspada. Tiba-tiba datang
kelompok milisi dan anggota TNI dengan truk, dan sejumlah milisi bersepeda
motor mengepung rumah Manuel Carrascalao. "Kami berteriak dan saling
melindungi agar tak tertembak oleh tembakan brutal tadi. Saya berusaha
keluar rumah dengan memanjat pohon dan meloncat ke pagar tetangga yang
tinginya enam meter. Lalu, saya bersembunyi di rumah itu," ujar Maria.

Menurut Maria, ada tujuh orang anggota keluarga Carrascalao yang ada di
rumah itu ketika terjadi penyerbuan. Maria tidak bisa keluar dari tempat
persembunyian karena jalan-jalan dijaga ketat oleh tentara Indonesia dan
para milisi. Esok harinya, ia  baru bisa pulang ke rumah.

Para milisia dan tentara mengepung dari Sabtu (17 April) jam 12.30 Witeng
sampai keesokan harinya Minggu (18 April) pukul 03.00 Wita). "Mereka
menembak, mencaci-maki, memukul dan sebagainya. Itu semua saya dengar dari
tempat persembunyian," ujar Maria 

Ketika milisi dan tentara Indonesia membabi buta menembaki rumah Manuel
Carrascalao, tokoh CNRT itu tidak ada di rumah. Maria sendiri sempat melihat
mobil putih milik Maunel masuk ke halaman rumah, kemungkinan Manuel dan
mencoba mengambil anak-anaknya dari rumah. Kemudian setelah Maria pulang, ia
mendengar berita bahwa salah seorang anak Manuel, yakni Manuel Jr.
Carrascalao, dan para pengungsi di rumah itu, tewas dibantai milisi dan
pasukan Indonesia. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke