Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99
------------------------------

FREEPORT SEDOT 2,5 MILYAR TON BIJI GRASBERG

(POLITIK): Meski dituduh Jeffrey Winters bahwa Freeport berkolusi dengan
Ginandjar, perusahaan ini jalan terus. Bahkan, makin untung saja.

Kegiatan bisnis Freeport Indonesia tak berhenti bergulir. Urat nadi
penambangan raksasa  Freeport-McMoRan Copper & Gold di Grasberg Irian Jaya
makin bergerak cepat. Bahkan berbagai penyediaan fasilitas modern ke depan
untuk daerah yang kaya akan mineral itu tengah menggeliat. Berikut laporan
wartawan Bali Post, Nur Haedin, yang memperoleh kesempatan melihat dari
dekat proyek tambang tembaga dan emas terbesar di dunia itu. 

Setelah menikmati Kontrak Karya (KK) I dengan menggarap kawasan Ertsberg
seluas 10 km2, kini Freeport tengah mengenyam KK II (1991 hingga 2021) di
kawasan Grasberg, kapasitas produksinya naik hingga 300 ribu ton per hari.
Kesempatan mengeruk isi perut Gresberg hingga tuntas memang menjadi impian
Freeport yang sekarang mulai nyata. Pasalnya, kawasan itu menjanjikan
segudang dolar, kendati untuk meraihnya begitu berat. Freeport telah
menyiapkan sarana prasarana dan fasilitas penunjang lengkap seperti di
kawasan yang disebut Tembagapura.

Lokasi bijih Grasberg berada di ketinggian 4.100 m dari permukaan laut
(DPL). Daerahnya sangat terjal dengan udara yang begitu dingin. Tak pelak
kemiringan sangat tajam kawasan mining Freeport itu mengancam kelangsungan
penambangan. Keunikan alam Timika jelas menjadi tantangan Freeport. Warna
sungai yang begitu coklat dan curah hujan tingga bisa mencapai 12 ribu
mililiter per tahun, misalnya. Kondisi itu suatu saat mau tidak mau akan
dihadapkan dengan bencana alam gempa yang bisa mengakibatkan longsoran yang
bisa menghancurkan proyek ratusan juta milyar dollar Amerika itu.

Tiap hari bijih Grasberg diturunkan kemudian dihancurkan konsentrator dengan
sistem Semi Auto Genius Granding (teknologi Siemens Jerman) dan menghasilkan
konsentrat (tembaga, emas dan perak) pada tahun 1998 1,8 juta ton. Proses
penemuan Ertaberg hingga Grasberg memang panjang. Dari kegiatan ekspedisi
geologis Belanda, Jean Jaques Dozy, tahun 1936 inilah Freeport mendapat
petunjuk menggali tembaga, emas, perak, dan mineral lainnya di pegunungan
tertinggi ketujuh di dunia itu.

Menurut Manager Public Relations Departement PT. Freeport Indonesia, Mindo
Pangaribuan, total deposit mencapai hingga 2,5 milyar ton, yang mana
penggalian bijih sampai pada 3.200 m fisibel ditambang dengan cara terbuka
dengan cadangan bijih 1 milyar ton lebih. Sisanya antara lain 600 juta ton
bijih lebih di wilayah Kucing Liar, 200 juta ton lebih di Big Gassan dan IOZ
sekitar 300 juta ton lebih -yang ditambang dengan cara bawah tanah. Sesuai
rencana, penambangan terbuka akan selesai tahun 2015 lalu dilanjutkan dengan
tambang bawah tanah. Aksesnya sudah mulai dibangun,"' katanya di Grasberg.

Maraknya isu tentang aktivitas Freeport di Timika seperti KK II yang sarat
dengan KKN rupanya tak membuat pemilik Freeport McMoRan (McWilliam, Moffet
dan Rancin) takut. Mereka jalan terus dan memenuhi kewajibannya terhadap
negara ini. Mindo mengatakan, pihaknya selalu membuka diri bagi siapa saja
yang ingin tahu sepak terjang Freeport. "Kami beri kesempatan. Jangan hanya
bisa lihat Freport dari luar atau internet," cetus Mindo.

Belakangan muncul pendapat kalau pemerintahan baru pasca Pemilu Juni 1999
bakal mengobrak-abrik KK Freeport yang telah diberikan pemerintahan Orde
baru. Namun agaknya pihak Freeport tidak yakin kebijakan pemerintahan baru
Indonesia sampai kesana, apalagi mencabut ijin peningkatan produksi bijih
setiap harinya. "Mudah-mudahan itu tidak terjadi, karena ini menyangkut
kredibilitas pemerintah dan citra bangsa," kata Mindo.

Bicara royalti yang dipersoalkan selama ini lantaran semua royalti sampai
1998 jatuh ke tangan pusat. Untuk ke depan, menurut Mindo, sebaiknya daerah
harus lebih banyak memperoleh royalti supaya daerah mempunyai kemampuan
membangun daerahnya. Pihak Freeport mengaku apa yang dilakukan selama ini
sudah melalui mekanisme yang berlaku di negara ini. Hingga berakhirnya KK II
nanti, Freeport, menurut Mindo, komitmen melaksanakan kewajiban mereklamasi
kawasan tambang, dana yang disiapkan mencapai US$100 dollar.

Memang, kekayaan alam Indonesia yang sangat berarti itu bisa dikeduk oleh
kapitalis asing atas seijin pemerintah pusat yang mau menggadaikan
negaranya. Masih ingat data yang disodorkan Jeffrey Winters? Apa yang
terjadi nun jauh di timur nusantara itu karena Freeport berkolusi dengan
Ginandjar Kartasasmita. Sayang, sampai sekarang belum ada penyelidikan yang
sahih dan bisa dipercaya untuk membuktikan kolusi itu. Sementara penyedotan
tambang terus berjalan, penduduk sekitar menjadi korban, bukan hanya tak
mendapat bagian, tetapi juga dimatikan hak asasinya. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke