Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99 ------------------------------ REBUTAN LAHAN DEKOPIN (POLITIK): Dua teman dekat Adi Sasono berebut jadi ketua Dekopin. Bagian gerilya politik atau sekedar cari lahan basah? Rapat anggota (RAT) Dekopin telah resmi dibuka Rabu lalu. Sejak awal, RAT dengan agenda utama pemilihan ketua umum pengganti Sri Mulyono Herlambang itu berlangsung cukup panas. Sejumlah nama masuk ingin berebut masuk bursa calon ketua. Termasuk dua orang kawan dekat Adi Sasono, yaitu Nurdin Halid (Inkud) dan Cacuk Sudaryanto (ketua persatuan daulat rakyat). Sedangkan kandidat lainnya adalah Ketua Kopindo M. Iqbal, Ketua Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKPRI) Mawardi Yunus, mantan Dirjen Koperasi Ibnoe Soedjono serta Dekopin Wilayah DKI Jakarta Nasrul Armans. Menurut penuturan berbagai sumber, sebenarnya pemilihan ketua umum Depkop tidak akan seheboh sekarang jika dua nama yaitu Nurdin dan Cacuk tidak masuk dalam bursa. "RAT Dekopin menjadi menarik dicermati lantaran masuknya dua nama itu," kata sumber ini. Masuknya Cacuk dalam bursa pencalonan juga dianggap aneh bagi sebagian orang. Apalagi sebelumnya dia merupakan salah satu eksekutif di Bank Mega dan menjabat Dirjen Pengusaha Kecil Menengah Depkop PKM. "Pak Cacuk ini ngapain sih, kok ingin menjadi ketua Dekopin yang tidak ada apa-apanya dibandingkan posisinya sekarang sebagai Dirjen," kata seorang pengurus koperasi. Cacuk memang sudah menjanjikan akan melepas jabatannya di Depkop kalau dia terpilih sebagai ketua. Seperti diketahui, Cacuk adalah bekas direktur Telkom yang dicopot oleh Soeharto lantaran tidak memenangkan tender anak-anaknya di perusahaan negara itu. Setelah reformasi, ia ditarik oleh Adi Sasono untuk menjabat di salah satu Dirjen di Departemen Koperasi. Bahkan belakangan ia ditunjuk untuk menjadi ketua Persatuan Daulat Rakyat, sebuah organisasi payung dari sejumlah koperasi pengusaha kecil yang mendapat kucuran dana dari Depkop. Persatuan Daulat rakyat ini pula yang belakangan digunjingkan banyak pihak karena ternyata merupakan organisasi bentukan untuk mendukung Partai Daulat Rakyat. Para wakil dari 40 induk koperasi -dari 41 induk yang diundang- maupun 27 anggota Dekopinwil sempat mempergunjingkan kehadiran Cacuk dalam RAT itu. Sebab Koperasi Insani yang mengutus Cacuk ke RAT itu tidak diakui keanggotaannya di Dekopin oleh peserta lain. Mereka menilai KI tidak melalui prosedur yang telah ditetapkan. Mendengar keberatan tersebut Cacuk Sudarijanto menjelaskan pihaknya sudah mendaftar sebagai anggota Dekopin pada 9 April 1999 dan resmi diterima pada 16 April. "Kalau status Koperasi Insani dipertanyakan berarti forum tidak mengakui keputusan pengurus lama yang sudah demisioner," kata Cacuk. Akhirnya Forum menyepakati secara bulat keberadaan KI sebagai peserta rapat anggota Dekopin. Sementara itu Nurdin Halid adalah mantan Ketua Umum Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) Hassanudin, Ujung Pandang. Nurdin kini adalah Ketua Umum Koperasi Distribusi Indonesia (KDI), kartel koperasi yang menguasai 40% pasar minyak goreng nasional dan gula pasir. Nurdin, anak Makassar ini juga anggota DPR-RI dari Golkar. Ia telah bebas dari dakwaan korupsi senilai Rp60 miliar, dana milik para petani Sulawesi Selatan. Nurdin semakin berkibar di Jakarta berkat dukungan Adi Sasono. Sebelumnya Nurdin Halid disebut-sebut siap memberikan dukungan kepada Cacuk. Tetapi sehari menjelang pelaksanaan rapat anggota Dekopin, ternyata ia justru menyatakan kesiapannya maju menjadi ketua umum. Nurdin Halid sempat menyatakan niatnya untuk mundur dari posisinya di Inkud kalau terpilih sebagai ketua umum Dekopin. Tapi ia tampaknya bakal terhadang seperti nasibnya ketika mencalonkan diri di Bukopin karena pernah terlibat dalam perkara kriminal. Kecuali, jika ada rekayasa dalam pemilihan nanti. Bagi sebagian orang fenomena perebutan kursi ketua umum Dekopin yang hiruk pikuk itu sungguh mengherankan mengingat dalam kenyataannya organisasi tersebut tak lebih hanya seperti macan ompong. Banyak pihak menyebutkan Dekopin selama ini telah hancur karena tidak berfungsinya lembaga itu dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan yang dihadapi gerakan koperasi. Selain itu diketahui ternyata selama ini induk-induk tak pernah membayar iuran bulanan sebesar Rp1 juta ke Dekopin. Jadinya, praktis Dekopin menggantungkan anggaran dari subsidi pemerintah plus memanfaatkan dana abadi peninggalan Bustanil Arifin yang konon tersisa Rp 600 juta. Tapi kenapa Dekopin menjadi ajang rebutan? Dengan masuknya dua kandidat yang ingin menjadi ketua Dekopin itu lantas sejumlah kalangan menyimpulkan bahwa, ada dua hal yang menjadikan Dekopin seksi untuk diperebutkan. Karena Dekopin merupakan lahan potensial untuk mencari duit, juga bisa digunakan untuk kepentingan politik. Dua hal ini menjadi alasan utama karena belakangan, Adi Sasono sedang bergerilya menaklukan semua jaringan koperasinya untuk mendukung kepentingan politiknya. Termasuk keberhasilan mengambil alih PT Bukopin dan menjadikannya koperasi, dan menempatkan orang-orangnya di lembaga baru itu. Alasan lainnya adalah uang. Sebab tak lama lagi Dekopin akan kebanjiran duit setelah pemerintah sekarang mengubah orientasi pembangunan dari pertumbuhan ekonomi ke konsep ekonomi kerakyatan yang dananya akan lebih banyak disalurkan lewat departemennya Adi Sasono. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
