Precedence: bulk


LAPORAN PEMBANTAIAN CIAMIS

        PANGANDARAN (SiaR, 27/4/99) Pembunuhan demi pembunuhan terus terjadi.
Setelah Tregedi Banyuwangi 1998, hal serupa kini terjadi di Pangandaran,
Kabupaten Ciamis. Banyak kalangan mengatakan yang terjadi di Ciamis
sebetulnya lebih tepat merupakan gabungan dari modus Pembantaian Banyuwangi
dan Penembakan Misterius pada 1982.

        Keluarga para korban cenderung tutup mulut. Banyak di antara mereka masih
ketakutan dengan ancaman pembunuh yang sepertinya dapat dukungan aparat
birokrasi desa. Berikut ini adalah kiriman hasil investigasi sekelompok anak
muda yang mencoba menguak tabir pembunuhan sadis yang baru belakangan dikuak
pers. Nama-nama pada laporan ini merupakan nama samaran, yang dimaksudkan
untuk melindungi para saksi mata dari ancaman dan aksi balas dendam pelaku
pembunuhan dan juga kemungkinan aparat birokrasi dan keamanan yang
di-indikasikan mendukung tindakan sadis tersebut: 

        Pada kasus pembantaian dukun santet di Banyuwangi, tindakan pembantaian 
biasanya dilakukan malam hari, dan (juga) menjadikan ulama setempat sebagai 
sasarannya.

        Kasus pembantaian di Pangandaran sejauh ini tidak menyentuh ulama setempat.
Yang dijadikan target adalah seseorang yang diindikasikan tukang santet dan
pelaku kriminal.

        Kasus pertama, menurut penuturan sumber, terjadi sekitar Februari lalu (ada
juga yang mengatakan sebelum itu), dan mencapai puncaknya pada malam Idul 
Adha (Sabtu malam, 27 Maret 1999). Ketika itu, di Purbahayu saja jatuh 
korban sebanyak 4 orang dalam satu malam.

        Masyarakat sebenarnya tidak terlalu memasalahkan pembantaian dukun santet
yang terjadi di sekitar mereka, namun mulai bereaksi setelah terjadi salah
sasaran, khususnya kejadian salah sasaran di Jati Sari, Pangandaran.

        Salah seorang penduduk Jati Sari bernama Yusuf (paruh baya), namanya
mirip dengan salah seorang tukang teluh (dukun santet) di tempat itu. Pada
suatu 
hari Yusuf yang bukan dukun santet ini dijemput sekelompok massa yang tidak 
dikenal, kemudian terjadilah prosesi pembantaian terhadap dirinya. Hal ini 
tentu saja membuat marah anggota keluarganya. Dari sinilah konon kasus 
pembantaian dukun santet di Pangandaran merebak.

-----------

Kasus Toyip

Toyip adalah seorang bos maling motor (dan tukang tadah hasil curian 
lainya). Pada suatu hari salah seorang anak buah Toyip tertangkap basah 
ketika sedang mencuri sepeda motor.

Tak berapa lama, Toyip dicari oleh sekelompok orang yang tidak diketahui 
identitasnya. Akhirnya sekelompok orang ini berhasil menemukan Toyip yang 
ketika itu sedang berada di rumah istri mudanya, di desa Cibenda sekitar 5 
kilometer dari Cikemulan.

Toyip kemudian ditangkap, dinaikkan ke atas truk, ditelanjangi, disalib, dan 
diarak dari Cibenda hingga ke Citaman yang jaraknya sekitar 15 kilometer, 
hanya ada satu jalan, dan harus melewati beberapa pos keamanan seperti 
Koramil Parigi, Polsek Parigi, Koramil Cijulang, dan Polsek Cijulang.
Arak-arakan yang riuh rendah itu ternyata tidak mengusik para aparat yang 
berada di keempat pos keamanan tadi.

Arak-arakan atau pawai yang membawa tubuh bugil Toyip tadi melibatkan massa 
anak sekolah, siang hari, berbarengan dengan jam pulang anak sekolah. 
Kejadian yang menimpa Toyip memang bertepatan dengan saat anak-anak baru 
saja masuk sekolah setelah liburan Idul Adha 1419 H.

Akhirnya Toyip mati mengenaskan di atas truk, dan dibuang ke sungai 
Ciwayang, sekitar 25 kilometer dari Pangandaran.

Kasus Anwar

Penduduk desa Kedungharjo ini adalah seorang tabib, yang kemudian diduga 
menjalankan praktek dukun santet. Ketika Anwar sedang berada di Bandung, ada 
sekelompok orang yang mencari-carinya dengan mengendarai sepeda motor tanpa 
plat nomor.

Ketika Anwar kembali dari Bandung, datanglah sekelompok orang yang tidak 
dikenal dengan berbagai senjata tajam di tangannya sambil mengajak 
masyarakat setempat untuk menangkap Anwar.

Untungnya ketika itu aparat sudah mulai menyadari adanya kasus pembantaian 
dukun santet di Pangandaran ini, sehingga sejak awal Anwar dan keluarganya 
sudah dijaga oleh petugas keamanan (pasukan dari Bandung), dan selamatlah ia 
dari upaya pembantaian. Kasus Anwar ini terjadi sekitar awal April 1999 lalu.

Modus

Pada umumnya pelaku pembantaian menggunakan tutup kepala dan muka, sehingga 
hanya tampak matanya saja. Materi penutup kepala dan mata tersebut antara 
lain berupa kain sarung atau kain batik yang biasa disebut samping.

Pembantaian biasanya dilakukan dalam sebuah prosesi yang melibatkan 
masyarakat setempat, terutama anak sekolah yang baru saja bubaran sekolah. 
Pelaku biasanya mengajak massa dengan ajakan seperti: "mau ikut nyate 
nggak?" Ketika masyarakat bertanya apa yang akan disate, si pelaku menjawab:
"nyate dukun santet"

Masyarakat yang diajak serta melakukan prosesi pembantaian biasanya sulit 
menolak, karena takut dituduh pro dukun santet, sehingga mereka cenderung 
memenuhi ajakan pelaku pembantaian (yang bercadar itu).

Menurut sumber, sampai sejauh ini pelaku sebenarnya belum tertangkap. 
Sedangkan Sentot, yang punya motif balas dendam karena salah satu anggota 
keluarganya pernah dikerjai dukun santet, dianggap bukan sebagai pelaku 
utama, hanya ikutan saja.

Ladang Coklat

Menurut sebuah sumber, sasaran pembantaian akhir-akhir ini juga meluas ke 
orang-orang tertentu yang konon diduga sebagai orang yang anti Keluarga 
Cendana. Barangkali ada benarnya, bila dikaitkan dengan kasus ladang coklat
yang 
dimiliki Keluarga Cendana di daerah Pangandaran ini. Menurut sumber, di
Pangandaran ada perkebunan coklat yang membentang antara Pangandaran-Cikemulan,
seluas sekitar 150 hektar. Konon milik si mbak.

Sebelum era reformasi, rakyat yang ketahuan mengambil kayu di sekitar ladang 
coklat itu, langsung ditangkap sebagaimana layaknya pelaku kriminal.

Pada era reformasi ini, kebun coklat itu ditebas-habis dengan menggunakan 
gergaji mesin, dan kayunya dijual Rp 7.000,- per meter kubik. Kemudian tanah 
ladang coklat itu diserahkan kepada masyarakat sekitar untuk digarap dengan 
sistem bagi hasil, untuk ditanami ubi jalar, kacang tanah, dan sebagainya. 
Yang jelas, bukan coklat.

Mengapa bukan coklat, yang bila dikurs dengan rupiah bisa menghasilkan 10 
kali lipat dari hasil menjual ubi jalar dan kacang tanah?

Konon, nampaknya ada saja yang tidak ikhlas jika masyarakat setempat menjadi 
makmur berkat coklat. Bahkan ada kecenderungan agar masyarakat setempat 
dibiarkan tidak tahu nilai tinggi coklat tersebut.

Sikap seperti itu mirip kasus Lampung Barat (1995-1996). Ketika itu tanaman 
kopi siap panen yang jumlahnya ribuan hektar, dihancurkan oleh petugas yang 
berwenang, dengan alasan areal perkebunan kopi itu merupakan kawasan hutan 
lindung.

Kalau toh demikian, mengapa kebun kopi siap panen itu harus dibabat habis, 
bukankah bisa menunggu hingga akhir masa panen?

Ternyata itu semua cuma alasan saja. Karena tak berapa jauh dari kawasan itu 
(yakni di Fajar Bulan, Lampung Barat) terdapat perkebunan kopi milik PT 
Indolam. Perusahan milik si mbak ini selain memiliki kebun kopi juga membawahi
pabrik kopi, sehingga tempat ini selain kebun juga untuk pengolahannya
sekaligus.

Jadi, alasan sebenarnya membabat kebun kopi siap panen di Lampung Barat tadi 
ternyata cuma merupakan salah satu cara meredam munculnya pesaing potensial 
(rakyat setempat).

Peristiwa Banyuwangi Terulang di Pangandaran!

Pangandaran, kota pariwisata dengan pantai pasir putihnya yang terkenal 
indah, terletak di selatan Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat, kini 
terusik. Sejak lebih dari 2 bulan terakhir ini masyarakat Pangandaran dan 
sekitarnya (Padaherang, Cikembulan, Parigi, Cigugur dan Cijulang) mengalami 
keresahan akibat berlangsungnya penculikan dan pembantaian terhadap da'i, 
muadzin, maupun aktivis masjid lainnya secara kejam. Peristiwa ini persis 
seperti yang terjadi di Banyuwangi. Penangkapan dilandasi kecurigaan bahwa 
korban adalah dukun santet. Bedanya dengan kasus Banyuwangi, para pelaku 
yang jumlahnya ratusan sama sekali tidak melakukan penyamaran sehingga dapat 
dengan mudah dikenali. Beberapa kejadian malah terjadi di siang bolong. 

Pada malam lebaran tanggal 19 Januari 1999 seorang penduduk Desa Cikembulan, 
Kecamatan Pangandaran diculik. Korban pada saat itu tengah mengumandangkan 
takbir di Masjid Cikembulan, tiba-tiba beberapa orang masuk masjid dan 
langsung menjerat leher korban dengan menggunakan kabel. Selanjutnya diseret 
keluar masjid di mana telah menunggu puluhan orang di atas truk. Masyarakat 
setempat yang shock menyaksikan kejadian tersebut tidak berani dan tidak 
mampu bereaksi, hanya bisa menyaksikan korban disiksa di atas truk yang 
sedang berjalan meninggalkan halaman masjid tersebut. Korban kemudian dibawa 
ke Jembatan Ciwayang yang berlokasi di Kecamatan Cigugur, kurang lebih 15 km 
dari tempat kejadian. Di atas jembatan tersebut korban dieksekusi dan 
kemudian dilempar ke sungai. 

Kurang lebih dua minggu yang lalu, pada jam 11 siang terjadi arak-arakan 
tiga truk terbuka berisikan lebih dari seratus orang yang bergerak dari arah 
Kecamatan Pangandaran ke Jembatan Ciwayang. Sepanjang perjalanan orang-orang 
di atas truk tersebut berteriak-teriak mengajak warga masyarakat untuk ikut 
menyaksikan "penyembelihan hewan kurban". Menurut keterangan masyarakat yang 
mengikuti truk tersebut, sesampainya di Jembatan Ciwayang mereka melihat 
seorang laki-laki disiksa berat, giginya dicabuti dengan menggunakan tang, 
alat vitalnya dipotong, setelah itu dengan menggunakan batang pohon kelapa 
yang digotong beramai-ramai kepala korban ditumbuk hingga tewas. Mayat korban
kemudian dibuang ke sungai di bawah jembatan tersebut (Sungai Ciwayang).
Kejadian ini disaksikan oleh masyarakat setempat maupun  masyarakat yang
mengikuti arak-arakan tadi.

Beberapa kejadian serupa terus terjadi, sehingga sampai saat ini 
(11-04-1999) di Pantai Batu Karas dan Cukang Taneuh (Grand Canyon-nya 
Pangandaran), kedua tempat tersebut merupakan pantai tempat sungai Ciwayang 
bermuara, masyarakat setempat telah menemukan sekurang-kurangnya 25 mayat 
dalam keadaan tidak lengkap dan sukar dikenali lagi.

Kejadian terakhir dari rentetan peristiwa ini terjadi pada Jumat malam, 
tanggal 09 April 1999. Malam itu sekitar jam 23.30 terjadi lagi penculikan 
terhadap suami-istri penduduk Kampung Purwasari (Cijoho), Desa Parigi,  
Kecamatan Parigi. Korban yang diculik bersama istrinya tersebut adalah 
seorang muadzin di Masjid Kampung Purwasari. Kedua korban dieksekusi, dan 
mayat mereka kembali dibuang ke Sungai Ciwayang. Pada peristiwa ini 
masyarakat setempat sempat mendengar obrolan para pelaku yang jumlahnya 
ratusan tersebut merencanakan melakukan kembali penculikan dan pembantaian 
serupa malam Sabtu mendatang (16-04-1999) terhadap dua orang aktivis Masjid di
Kampung Astamaya, Desa Karang Jaladri, Kecamatan Parigi yang terletak 
sekitar 1 km dari lokasi kejadian.

Pada malam tanggal 09 tersebut secara simultan dua orang warga Kampung 
Buniayu, dan satu orang warga Kampung Bojong Salawe juga diculik, dibunuh 
dan mayatnya dijatuhkan di Jembatan Ciwayang sebagaimana semua korban 
terdahulu. Kedua kampung tersebut berada dalam wilayah Desa Karang Jaladri, 
Kecamatan Parigi. Sehingga total pada malam tersebut lima warga Kecamatan 
Parigi dibantai.

Akibat rangkaian kejadian tersebut di atas, masyarakat setempat pada saat 
ini berada dalam suasana ketakutan dan ketidak-mengertian tentang apa 
sebenarnya yang tengah terjadi. Lebih-lebih para aktivis masjid yang 
berisiko lebih tinggi, mereka pada saat ini sebagian telah mengungsi ke 
sanak keluarganya di kota. Keheranan masyarakat setempat semakin bertambah 
karena peristiwa ini sama sekali tidak menjadi perhatian pers. Pers lebih
banyak meliput kejadian di Kosovo, sementara holocaust yang terjadi di depan
mata, menimpa saudara-saudara kita sendiri, dengan tingkat kedzaliman yang
sukar dibayangkan sama sekali tidak mendapat perhatian.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke