Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99
------------------------------

David Diaz Ximenes, Pelaksana Harian CNRT:
"MILISI-MILISI ITU DIPERLATA KOPASSUS"

(POLITIK): David Diaz Ximenes, Pelaksana Harian Conselho Nacional
Recistencia de Timorense (CNRT) yang juga sebagai Ketua Frente Politica
Interna (FPI - Front Politik Internal) menilai perjanjian damai antara orang
Timtim hanya akan tercapai kalau ada niat dan keseriusan dari TNI untuk
menyelesaikannya. Selama ini, katanya, TNI menginginkan agar rakyat Timtim
itu saling membunuh dan membenci. David Ximenes menyingkir dari Dili,
bergabung dengan Falintil (Angkatan Bersenjata CNRT) di hutan-hutan Timor
Timur setelah lolos dari pembunuhan yang dilakukan milisi pro tentara
Indonesia. Rumahnya dibakar, istri dan anak-anaknya mengungsi ke rumah sanak
saudaranya. Berikut petikan wawancara khusus Xpos dengan David Diaz Ximenes
dari tempat persembunyiannya di sebuah pos Falintil.

T: Bagaimana tanggapan Anda tentang pembubaran CNRT di Ermera?
J: CNRT adalah organisasi yang sangat menyatu dengan nurani orang Timtim.
Organisasi politik yang berdiri dengan melibatkan semua tokoh politik, baik
Apodeti, UDT, Kota dan Trabhalista, sehingga kalau CNRT bubar berarti Timtim
sudah kiamat. CNRT adalah wadah renkosiliasi bagi semua kepentingan politik
yang ada di Timtim. Saya tidak percaya kalau CNRT bubar. Itu hanya bagian
dari propaganda militer Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa orang
Timtim tidak suka kemerdekaan, dan lebih suka integrasi. Padahal integrasi,
seperti yang diketahui semua orang bahwa selama 23 tahun ini rakyat Timtim
telah dibodohi dan ditindas. Hanya orang bodoh yang percaya hal itu.
Propaganda murahan ABRI yang sebenarnya sudah tidak bermutu lagi.

T: Ada yang mengatakan kelompok pro-kemerdekaan yang membubarkan diri di
Ermera itu adalah FPI pimpinan Anda. Bagaimana tanggapan Anda?
J: FPI adalah urat nadi dari CNRT. Sehingga itu tidak benar kalau orang FPI
yang membubarkan diri. FPI hanya akan bubar kalau CNRT sudah tidak ada lagi
di Timtim.  FPI itu barisan yang sangat identik dengan CNRT sehingga tidak
akan mungkin bubar kalau tanpa sepengetahuan dari Presiden CNRT, Bapak Kay
Rala Xanana Gusmao.

T: Jadi, mereka bubar karena ancaman milisi bersenjata?
J: Kami punya komitmen politik yang jelas, bahwa kemerdekaan adalah mutlak
bagi perjuangan kami yaitu CNRT. Mereka, kendati memiliki sejata M-16 atau
AK-45 pun kami tidak akan mundur dan mengakui integrasi. Kalau kami menerima
integrasi berarti kami mengkhianati sejarah perjuangan kami sendiri. Maka
prinsip kami adalah merdeka dan kebebasan bagi masyarakat Timtim. Bukan
integrasi untuk menjadi budak Indonesia. Orang Timtim selama 23 tahun ini
sudah muak dengan perlakun-perlakuan militer terhadap masyarakat sipil.

T: Perjanjian perdamaian antara kelompok pro otonomi dengan pro kemerdekaan
hanya bertahandua hari. Setelah itu aksi kekerasan kembali terjadi di
Timtim. Bagaimana tanggapan Anda?
J: Saya tidak melihat itu sebagai perjanjian perdamaian. Tapi saya melihat
itu sebagai bagian dari propaganda ABRI untuk menunjukkan kepada dunia bahwa
ABRI bisa meredam berbagai aksi kekerasan di Timtim. Dengan propaganda
seperti itu Wiranto ingin tampil sebagai pahlawan bagi perdamaian di Timtim
dengan mengesampingkan peran dari kedua Uskup. Wiranto ingin menunjukkan
kepada dunia bahwa dia mampu dan bisa menyelesaikan masalah Timtim dengan
mengurangi peran Xanana Gusmao. Tapi apa yang kemudian terjadi? Konflik
terus berlangsung dan pembunuhan, intimidasi teror semakin gencar saja,
setelah diadakan perjanjian perdamaian yang ditandatangani Domingos Coli,
Joao Tavares dari kelompok pro otonomi dan Leandro Izaac serta Xanana dari
kelompok pro kemerdekaan. Itu hal yang sangat tidak masuk akal karena mereka
menyejajarkan Xanana dengan Domingos Coli dan Joao Tavares. Di samping itu,
setelah perjanjian perdamaian di Timtim ditandatangani, tapi kekerasan
semakin terjadi, itu semakin membuktikan kepada kita bahwa dalam tubuh ABRI
juga sedang terjadi persaingan antara kubu Wiranto dengan kubu yang lain.
Dan Wiranto selaku Panglima ABRI juga tidak bisa mengatur anak buahnya untuk
menghentilkan kekerasan di Timtim.

T: Artinya Xanana tidak selevel dengan Domingos Coli dan Joao Tavares?
J: Jelas dong. Xanana itu tidak selevel dengan Domingos Coli dan Joao
Tavares. Hanya Habibie yang bisa selevel dengan Xanana Gusmao. Sedangkan
Taur Matan Ruak selevel dengan Wiranto. 

T: Cara terbaik untuk melakukan proses rekonsiliasi di Timtim sendiri
menurut Anda?
J: Rekonsiliasi itu bukan antara orang Timtim dengan orang Timtim. Melainkan
rekonsiliasi itu antara orang Timtim dengan orang Indonesia. Harus ada
pertemuan antara Wiranto dan Xanana untuk membicarkan proses rekonsiliasi
itu. Yang menciptakan instabilitas di Timtim itu kan ABRI, sehingga pimpinan
ABRI di Indonesia harus bertemu dengan Xanana untuk membicarakan proses
rekonsiliasi serta penghentian kekerasan di Timtim. Nah, di sini tentunya
dibutuhkan niat baik dari ABRI untuk bisa menyelesaikan masalah Timtim 

T: Bagaimana tanggapan Anda terhadap munculnya kekerasan yang dilakukan
milisi pro otonomi?
J: Saya tidak setuju kalau mereka kita katakan sebagai milisi bersenjata
yang anti perdamaian dan suka kekerasan. Karena bagaimanapun mereka adalah
orang Timtim, dan mereka hanya diperalat Kopassus dan tentara Indonesia
lainya. Mereka dipaksa untuk menembak saudaranya sendiri. Kalau toh nanti
Timtim sudah merdeka, mereka perlu kita maafkan. Mereka adalah
saudara-saudara kita yang sebenarnya tidak tahu-menahu tentang politik. Dan
mereka belum sadar bahwa saat ini mereka sedang dimanfaatkan oleh
orang-orang berkuasa untuk kepentungan politik orang-orang itu. Mereka hanya
dimanfaatkan dan tidak lebih dari  itu.

T: Soal gencatan senjata sendiri, apakah sudah waktunya?
J: Sekali lagi saya katakan, Falintil hanya akan meletakkan senjata kalau
adanya pasukan perdamaian dan penarikan tentara dari Timtim. Selama tentara
Indonesia masih di Timtim serta masih melakukan berbagai macam provokasi,
Falintil punya kepentingan untuk melindungi rakyat Timtim dan Falintil tidak
akan meletakkan senjata. Selain itu segera melucuti senjata yang di berikan
ABRI kepada kelompok pro otonomi. Saya kira dengan demikian maka gencatan
senjata akan dilakukan dalam suasana yang damai di Timtim. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke