Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99 ------------------------------ KOALISI SANDUNGAN GUS DUR (POLITIK): PKU, PNU dan PPP berkoalisi mencegat lajunya Gus Dur di PKB. Tahapan awal koalisi menyingkirkan Megawati jadi presiden? Di sebuah pondok pesantren di Demak Jawa Tengah terpampang sebuah spanduk besar warna hijau bertuliskan, "PKU merupakan partai satu-satunya orang NU". Di sebuah kawasan kecil di Magelang yang mayoritas warganya juga terdapat spanduk PPP yang berbunyi, "Ora ela elu, orang NU tetap pilih Ka'bah". Begitu juga di kawasan Cakung Jakarta, terdapat spanduk PNU yang mengajak warga nahdliyin untuk memilih partai itu. Belum lagi di banyak tempat PKB terang-terangan memasang spanduk yang menyatakan bahwa PKB merupakan satu-satunya partai milik orang NU. Itulah gambaran bagaimana kondisi NU saat ini. Secara organisasi, Nahdlatul Ulama (NU) memang belum bergeser dari khitahnya, organisasi yang tidak berpolitik praktis. Tapi sejak pemerintah membuka luas berdirinya partai politik, dan kebetulan Ketua PBNU Abdurrahman Wahid juga gerah dengan kondisi politik yang meminggirkan orang NU, maka berdirilah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Yang bertujuan sebagai wadah perjuangan politik satu-satunya warga NU. Sebab, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dulu diharapkan bisa dipakai kiprahnya orang NU, ternyata berkali-kali tak pernah terpegang oleh orang NU. Begitu pula jabatan menteri terutama Menteri Agama juga belum pernah diberikan pada orang NU, adalah alasan politik yang lain yang melatar belakangi pendirian PKB. Pendek kata, PKB dibentuk untuk berkiprahnya orang NU dalam berpolitik. "Selain PKB tidak ada partai lainnya," kata Gus. Namun tak lama kemudian sejumlah kyai yang berseberangan dengan Gus Dur ikut pula mendirikan partai yang konon diperuntukkan pula kepada warga nahdliyin. Partai-partai yang didirikan itu adalah Partai Kebangkitan Umat (PKU). Partai Nahdlatul Ulama (PNU) dan Partai Suni. PKU didirikan oleh KH Jusuf Hasyim, paman Gus Dur sendiri yang ketika di jaman Soeharto selalu menjadi seteru Gus Dur. Jusuf merupakan opisi keras Gus Dur baik dalam PBNU maupun dalam masyarakat. Tak jarang keduanya terlibat konflik terbuka dalam liputan pers saat itu. Dan konflik itu memang dilanggengkan oleh penguasa, sebagai upaya menggembosi kekuatan Gus Dur yang waktu itu mendapat angin dari kelompok anti status quo. Begitu pula PNU, lahir di kalangan NU yang kebetulan para kyai pencetusnya juga sering tak sepaham dengan Gus Dur di PBNU. PNU ini konon didirikan oleh orang-orang yang dinilai dekat dengan Habibie, Wiranto maupun Adi Sasono. Bahkan oleh Sekjen PKB Muhaimin Iskandar, mereka dianggap sebagian dari partai yang dibiayai status quo. Bahkan dikabarkan, Habibie ikut menyumbang Rp7 milyar dan Golkar 12 milyar. Dalam waktu dekat PNU mampu membuat jaringan partai di 23 wilayah dan 200 cabang, sementara PKU mampu membentuk 19 wilayah dengan 200-an anak cabang. Kini, konflik di antara mereka telah menyeruak kembali ke permukaan. "Gus Dur sebagai PBNU telah memecah belah umat dengan menganak tirikan partai di luar PKB," ucap Jusuf Hasyim ketika membacakan nota kesepakatan tiga partai NU, Senin lalu (26/4). Diskriminasi yang dimaksud menurut Maimun Zubair, adalah adanya pelanggaran HAM dan pengingkaran khittah 1927 Situbondo yaitu upaya dari ketua PBNU yang menggiring dan memaksa warga NU untuk mendukung PKB. "PPP, PKU dan PNU adalah partai Islam yang meneruskan perjuangan politik para pendiri Jamiyah NU. Karena itu warga NU memiliki kewajiban untuk ikut memelihara, mengembangkan dan menempatkan sebagai wadah politik," kata Maimun. Tapi kini, masing-masing ketua dari ketiga partai itu, yaitu KH Yusuf Hasyim Ketua Umum PKU, Ketua Fadlur Amir Ketua DPP PNU dan Hamsah Haz Ketua PPP ternyata telah menandatangani kesepakatan bersama yang merupakan hasil silahturahmi di antara mereka sendiri. Mereka sepakat untuk terang-terangan berseberangan dengan PKB. "Kita ingin berkoalisi dengan partai-partai yang berasaskan Islam. Ini koalisi umat NU yang berada di PKU, PNU dan PPP, untuk membuat kesepakatan bersama. Sedangkan PKB, kan berasaskan kebangsaan. Jadi bukan untuk menggembosi PKB," kilah Hamsah Haz, Ketua Umum PPP. Dan di lapangan telah terjadi bentrokan di antara warga NU sendiri. Usut punya usut, tampaknya perseteruan antar partai NU itu merupakan imbasan ketidaksenangan sekelompok umat Islam tertentu terhadap tampilnya Megawati sebagai calon kuat presiden mendatang. Sebelumnya, sejumlah tokoh PPP, PNU maupun PKU merupakan ulama yang sering melontarkan penolakan terhadap calon presiden wanita. Simak saja misalnya pernyataan Jusuf Hasyim saat memberikan pertimbangan pada PKB untuk bergabung dalam koalisi, salah satu syaratnya, asal PKB tak mendukung pencalonan Megawati Soekarnoputri sebagai presiden RI. "Kalau menerima syarat itu, PKU akan lebur ke PKB saat ini juga, dan sekaligus mengajak partai lainnya untuk berkoalisi dengannya," ungkap Pak Ud, panggilan akrab Jusuf Hasyim, Senin (26/4), seusai silaturahmi para ulama NU. Dan pernyataan itu adalah pernyataan yang kesekian kalinya menolak Megawati, Ketua Umum PDI Perjuangan sebagai presiden. Sebelumnya, di akhir 1998 lalu, Kongres Umat Islam (KUI) dalam salah satu rekomendasinya, menolak perempuan sebagai presiden, karena pemimpin umat mestinya seorang laki-laki. Di luar acara silahturahmi itu justru terdengar santer isu adanya koalisi untuk menggoalkan Habibie sebagai presiden lagi. "Alasannya, karena Habibie telah banyak berperan dalam konsolidasi partai mereka. Yang jelas bukan Gus Dur," kata sumber Xpos. Jadi, agenda koalisi PKU, PNU dan PPP itu menjegal Gus Dur atau menghadang Mega? Yang jelas, geliatnya sudah kelihatan menyabet kedua sasaran itu. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
