Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99
------------------------------

HABIBIE-AKBAR BEREBUT KURSI

(POLITIK): Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung ingin calonkan diri
sebagai presiden. Akankah Habibie terganjal menjadi presiden kembali?

Acara debat terbuka calon-calon presiden yang diselenggarakan Forum Salemba
di auditorium kampus UI Salemba Selasa (27/4) urung dihadiri ketua Umum
Golkar Akbar Tanjung. Akbar yang sempat menyatakan kesediaannya, tidak hadir
karena 

Mengikuti acara kenegaraan dengan presiden Habibie menemui Menlu Australia
John Howard di Bali. Begitu juga, terpidana politik Budiman Sujatmiko, calon
presiden dari Partai rakyat Demokratik juga tiak bisa hadir, lantaran tidak
diperkenankan oleh Menkeh Muladi. Sehingga debat calon presiden itu hanya
dihadiri oleh 4 calon, yaitu Amien Rais (PAN), Yusril Ihza Mahendra (PBB),
Sri Bintang Pamungkas (PUDI) dan Didin Hafifudin (PK).

Sejumlah sumber mensinyalir, ketidakhadiran Akbar Tanjung  bukanlah tindakan
yang tidak disengaja. Tapi, katanya, ada persoalan intern yang belum tuntas
dibicarakan dalam partai berlambang beringin itu. Yaitu masalah calon
presiden yang belum diputuskan. Konon, tarik menarik pencalonan presiden di
Golkar cukup alot antara kubu Akbar Tanjung dan kubu Habibie. Kubu Habibie,
yang dikomandoi oleh orang-orang ICMI tetap kukuh ingin mencalonkan Habibie.
Kubu Habibie didukung tokoh-tokoh asal Sulawesi seperti Marwah Daud Ibrahim,
Andi Matalata, dan sejumlah tokoh penting di pemerintahan Habibie saat ini.
Mereka berpendapat bahwa Habibie merupakan satu-satunya calon yang layak
jual menjadi capres tunggal Golkar karena punya banyak keunggulan. 

Tapi sebaliknya, banyak pengurus DPP Golkar yang lain yang mendukung Akbar,
ragu dengan asumsi itu. Mereka khawatir penetapan Habibie menjadi capres
tunggal Golkar justru akan jadi bumerang bagi Golkar karena Habibie
belakangan sudah kelihatan belangnya, tidak disukai.

Perseteruan dua kubu ini berimbas dalam penetapan Rapim Golkar yang
merupakan forum penentuan calon presiden. Kubu Akbar Tanjung yang
disebut-sebut menjadi mayoritas di DPP Golkar saat ini, menginginkan rapim
diadakan setelah pemilu. Tapi usulan itu ditentang habis-habisan oleh kubu
Habibie. Kubu Habibie menilai usulan itu hanyalah akal-akan kubu Akbar untuk
menjegal Habibie. Tapi untung saja maslaah itu tidak diakhiri dengan voting.
Sebab kalau itu dilakukan, maka kubu Habibie bisa tenggelam oleh pendukung
Akbar Tanjung.

Seburuk itukah nasib Habibie?

Karena posisi yang diujung tanduk itulah, belakangan kubu Habibie bergerilya
mencari dukungan ke sejumlah partai-partai baru. Tiga partai baru, misalnya
PKU, PNU dan Partai Suni, konon telah disokong perkembangannya oleh kubu
Habibie ini. Bahkan ada kabar walaupun telah dibantah oleh masing-masing
pengurusnya, PKU dan PNU dalam konsolidasi partainya dibiayai oleh kelompok
ini. Sehingga tak heran, ketika beberapa waktu lalu kedua partai ini
bersama-sama PPP bersilahturahmi untuk berkoalisi dalam menghadapi Pemilu
nanti. Yang jelas tujuannya selain untuk berkoalisi antar partai Islam, juga
untuk sosialisasi pencalonan Habibie. 

Kenapa PPP ikut mendukung Habibie? Seperti diketahui umum, bahwa belakangan
PPP telah ditinggalkan oleh sejumlah pendukung utamanya dari kalangan NU
yang mendirikan PKB. Partai ini dalam perkembangan terakhir dekat dengan
kekuasaan setelah dua kursi menteri diberikan kepada Hamzah Haz sebagai
Menteri Negara Investasi/Ketua BKPM, serta A.M. Saefuddin yang menjabat
Menteri Negara Urusan Pangan dan Hortikultura. "Karena itulah wajar jika
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada akhirnya harus menyokong kekuatan
Habibie," kata sumber Xpos.

Selain partai-partai tersebut di depan, ada dua partai lagi yang juga
disebut-sebut penuh muatan dukungan kepada Habibie yang tak bisa
disepelekan. Yaitu Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Daulat Rakyat (PDR).

PDR dan PBB dilahirkan oleh sejumlah kader ICMI yang tak lain adalah
orang-orangnya Habibie juga. PBB, walaupun ketuanya Yusril Ihza Mahendra
juga dicalonkan sebagai presiden, tapi ada kelompok di PBB yang menginginkan
Habibie sebagai presiden lagi. Tapi hubungan PBB dengan Habibie sedikit
mengalami kerenggangan, setelah Habibie menuduh Prabowo akan melakukan
kudeta terhadapnya. Sejumlah pentolan PBB yang dekat dengan Prabowo konon
sempat dongkol dengan Habibie setelah munculnya pernyataan itu. "Tapi tidak
semua pimpinan PBB begitu, itu hanya sebagian saja. Sebagian yang lain masih
loyal terhadap Habibie," kata sebuah sumber.

Adapun dukungan partai baru yang tak bisa disepelekan adalah dari Partai
Daulat Rakyat (PDR). Bayangkan saja, dalam waktu yang singkat partai ini
telah memiliki cabang di 16 provinsi lebih. Partai yang disebut-sebut
memakai dana Depkop dalam konsolidasi partainya ini merupakan kelompok
binaan Menteri Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil dan Menengah Adi Sasono,
yang sangat dekat dengan Habibie. Kelompok ini memang mengunggulkan Adi
Sasono sebagai "calon  presiden"-nya karena telah menelorkan program ekonomi
kerakyatan. Tapi  menurut sumber di PDR, bukan hal yang mustahil kelak suara
itu akan diplintir menjadi dukungan kepada Habibie."Adi Sasono sangat
berhutang budi pada pak Habibie, tak mungkinlah Adi tega melihat dan
membiarkan Habibie terpuruk," kata sumber ini.

Kalau itu benar, berarti kalangan penentang Habibie jangan terlalu banyak
berharap bisa ada pergantian presiden. Sebab jika voting terjadi nanti,
Habibie jelas selain dukungan dari partai-partai pendukungnya itu, juga akan
didukung oleh 38 suara dari tentara yang ditempatkan di MPR. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke