Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99 ------------------------------ HABIS MERDEKA, TERBITLAH RAKYAT MERDEKA (POLITIK): Koran peninggalan BM Diah digusur, gara-gara Ginandjar Kartasasmita? Para pekerjanya lebih memilih bekerja dengan idealisme yang pasti. Merdeka, koran peninggalan almarhum BM Diah, kini tinggal kenangan. Sejak, Kamis, 22 April lalu, koran bersejarah, yang terbit sejak Indonesia Merdeka itu, tak bisa ditemukan lagi di pinggir jalan. Yang ada hanyalah Rakyat Merdeka. Namun, meski sudah almarhum, nama Merdeka tetap dijual. Dari segi warna dan karakter huruf, koran ini seperti tak ada perubahan. Tapi, bila detil dilihat, tampak jelas perbedaannya. Kata Rakyatnya -ditulis huruf sambung dan kecil- ditaruh miring di depan Merdeka. Maka, sekilas, "koran Perjuangan" itu seolah tetap eksis. Lantas, apa yang terjadi? Menurut sumber, perubahan yang terjadi di Merdeka merupakan bagian dari penguasaan media massa untuk kepentingan politik. Apa pasalnya? "Selama ini, headline Merdeka dianggap keras dan sangat anti terhadap Golkar. Semangatnya, semangat PDI Perjuangan. Sebab itu, Ibu Herawati Diah berniat membeli kembali saham miliknya agar menjadi mayoritas penuh. Dengan begitu, Herawati bisa mengarahkan sepenuhnya kebijakan redaksionalnya," tuturnya. Tapi, seluruh karyawan menolak rencana Herawati. Apalagi, setelah diketahui bahwa fulus yang dipakai untuk menomboki saham yang dipegang Dahlan Iskan, bos grup Jawa Pos, ternyata milik Ginandjar Kartasasmita, Menko Ekuin, yang juga Ketua Partai Golkar. "Daripada jatuh ke Golkar, mendingan gabung ke Jawa Pos," kata sumber itu, lagi. Memang, sejak Merdeka digandeng Dahlan Iskan, lima tahun lalu, kondisi Merdeka kembang-kempis. Malah, kalau tidak dikucurkan dana segar dari Jawa Pos, Merdeka sudah koit. Dengan modal Jawa Pos, Merdeka pun bernafas lagi. Di bawah perjanjian di bawah tangan (bukan Akte Notaris), Dahlan Iskan dan Herawati Diah berunding. Dahlan dapat 39%, Herawati kebagian 41%. Sedang sisanya, 20% saham gratis bakal dibagikan ke karyawan. Meski, cuma menguasai 39%, pengelolaan Merdeka sepenuhnya di tangan Jawa Pos. Di bawah manajemen Jawa Pos, Merdeka memang melejit. Dengan mengandalkan headline-nya, oplah Merdeka yang semula 10 ribu menjadi 40 ribu. Sejak ditangani Margiono, orang kepercayaan Dahlan Iskan, yang ditaruh sebagai Pemimpin Umum, Merdeka memang sering menghantam Golkar. Beberapa bulan lalu, misalnya, DPP Golkar pernah mengugat Merdeka lantaran headline-nya yang berjudul "Awas, Bahaya Laten Golkar!". Merdeka juga pernah diadukan ke Mabes Polri oleh Syarwan Hamid, lantaran membuka kedok kejahatan Mendagri di peristiwa Sabtu kelabu 27 Juli 1996 di markas PDI pro Megawati Soekarnoputri. Meski digugat, Merdeka bak batu karang nan kokoh. Tetap keras dan menghantam kelompok pro status quo. Belakangan ini, Merdeka malah dituding pro PDI Perjuangan. "Sering kali, berita-berita Merdeka cenderung bersimpati kepada Ibu Megawati Soekarnoputri. Inilah yang merisaukan kelompoknya Herawati Diah. Golkar memang berkepentingan menjinakkan media massa yang anti Golkar. Malah, kalau bisa 'membeli'nya, agar bisa jadi corong Golkar," jelas sumber itu lagi. Selain itu, menurut sumber lagi, beralihnya karyawan Merdeka ke Rakyat Merdeka, memang dibumbui dengan persoalan laten. "Janji Herawati Diah, bukan hanya 5% saham saja yang nantinya dibagikan ke karyawan, tapi juga 20%. Nah, ini yang tidak ditepati Herawati. Karena itu, karyawan memilih menyebrang ke Rakyat Merdeka. Sudah jelas punya duit dan punya idealisme," katanya. Sejak ditinggal seluruh karyawannya, kecuali Tribuana Said -Pimred, yang juga menantu Herawati Diah- Merdeka otomatis mati. "Tapi, sekarang sedang disiapkan terbit lagi," tulis Tempo pada edisi terbarunya. Herawati sendiri menyatakan keterkejutannya dengan munculnya Rakyat Merdeka. "Kami memang diam-diam, mengurus SIUPP-nya. Jadi, ketika deadlock, Rakyat Merdeka bisa muncul," ujar Yasofi Bachtiar, Pimred Rakyat Merdeka pada Xpos. Yasofi sendiri tak tahu menahu soal dana Golkar lewat Ginandjar Kartasasmita. "Saya tidak tahu soal itu. Setahu saya ini soal saham karyawan saja yang kami tuntut. Bukan soal kebijakan redaksi. Kami ini hanya menyelamatkan diri dan profesi. Itu latar belakangnya," sangkalnya. Yasofi juga membenarkan perubahan Merdeka menjadi Rakyat Merdeka begitu cepat. "Memang diputuskan Rabu malam waktu deadline." Memang, daripada jatuh ke kandang singa, tak terdengar lagi kabarnya. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
