Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99 ------------------------------ PELURU UNTUK PETANI (POLITIK): Terpisahnya Polri dari TNI ternyata tidak merubah sifat ketentaraannya yang kecam terhadap rakyat sipil. Berondongan peluru Brimob terhadap petani Ketajek telah membuktikan hal itu. Setelah dua hari para petani merasakan ketenangan menempati kantor PDP Ketajek, Panti-Jember, mereka dikejutkan oleh tindakan polisi yang mengerahkan 200 personil untuk memaksa mereka turun. Polres Jember dengan berdalih adanya laporan dari pihak PDP tentang pendudukan semua fasilitas PDP oleh petani Ketajek, mengerahkan 3 SSK (Satuan Setingkat Kompi) dari Brimob dan Dalmas. Tanpa menggunakan langkah persuasif dan bahkan menolak ajakan para petani untuk musyawarah, polisi langsung memberikan tembakan beruntun ke arah kerumunan petani yang berjumlah sekitar 400 orang. Akibatnya seorang petani, Anwar Cholili (25 thn) meninggal dunia dalam perjalanan menju ke RSUD Dr. Subandi, Jember, karena kehabisan darah. Korban luka tembak lainnya berjumlah 10 orang, 6 orang diantaranya masih dirawat di RSUD Dr. Subandi. Selain itu 98 orang petani ditahan di Polres Jember dengan tuduhan melakukan pencurian, penyerobotan fasilitas, dan melawan petugas. --------------------------------------------------- KRONOLOGI KONFLIK PETANI KETAJEK DENGAN PDP September 1998: Setelah upaya terakhir tahun 1979 menemui kegagalan, beberapa petani Ketajek berinisiatif untuk mulai memperjuangkan kembali. 23 Oktober 1998: Para petani Ketajek mengirim surat pemberitahuan kepada Bupati Jember tentang niatan mereka menduduki kebun. 28 Oktober 1998: 300 petani menduduki Gudangtengah, tempat menimbunan hasil kopi. Nopember 1998: Pemda Jember berinisiatif mengundang wakil petani. Tapi selalu gagal. Sebab petani menghendaki Bupati sendiri yang melayani. Desember 1998: PDP mulai mengundang beberapa preman. Sementara itu, para petani mulai mendirikan rumah semi permanen di tanah milik mereka. 8 Januari 1999: Konflik pertama antara preman dengan petani. 12 Januari 1999: Para petani mendatangai pos keamanan PDP untuk menantang para preman. Pebruari 1999: Beberapa preman menyatakan berhenti dan bergabung dengan petani Maret 1999: Berdiri 150 rumah tersebut di 4 afdeling (Gudangtengah, Besaran, Bendotiga, Kapalan) April 1999: Para petani mulai mengajak keluarganya mendiami rumah yang sudah didirikan. 16 April 1999: Seorang warga ditangkap polisi dan preman. 19 April 1999: Para petani menduduki semua kantor afdeling PDP Ketajek. Semua staf PDP tidak ada di tempat. 20 April 1999: Para Petani sepakat untuk menunda pemanenan 21 April 1999: 200 polisi dari saruan Brimob menyerbu petani. --------------------------------------------------- Hari itu, Rabu (21/4) sekitar pukul 04.00 WIB, warga yang berada di areal perkebunan Ketajek mendapat informasi bahwa siang hari akan naik para preman yang selama ini disewa PDP sebagai petugas keamanan. Para preman ini naik ke atas bertujuan untuk memaksa para petani meninggalkan lokasi perkebunan. Mendengar informasi ini, para petani berkumpul, dan merundingkan hal tersebut. Kesepakatan mereka, kalau preman yang naik, para petani akan menghadapinya dalam rangka membela diri. Tetapi kalau polisi yang lain, para petani mempersilahkan dengan alasan, hanya polisi yang berhak menjaga keamanan. Di tengah musyawarah, datang seorang Babinsa Kec. Panti, Sertu Tonin (40 thn) yang menemui warga dengan membawa informasi sebentar lagi polisi akan naik. Mendengar hal ini warga bingung. Tapi akhirnya mereka sepakat untuk membuat rintangan di beberapa tempat dengan menebang beberapa pohon sebagai antisipasi kedatangan preman. Selain itu, para petani menyiapkan diri dengan membawa berbagai senjata tajam. Tengah hari, sekitar pukul 11.30, terlihat barisan polisi dipimpin oleh Wakapolres Jember, Mayor (Pol) Bambang Trianto bergerak naik menuju ke Gudangtengah, tempat para warga berkumpul. Melihat hal ini para warga mereka gembira, bahkan sempat muncul ungkapan " Nah... ternyata yang datang bapak-bapak kita," kata salah seorang petani. Para petanipun menunggu. Tetapi saat itu juga barisan polisi mengambil posisi siaga dalam konfigurasi tiga sap. Sap terdepan berposisi jongkok dengan senapan laras panjang yang siap tembak. Sap kedua berposisi berdiri, dan sap ketiga dalam posisi tiarap di atas posisi para petani. Polisi memerintahkan kepada para petani untuk mengumpulkan semua senjata tajam. perintah inipun dituruti oleh petani. Para petani masih berprasangka baik, mereka mempersilahkan polisi masuk ke salah satu gudang untuk bermusyawarah. Ajakan ini ditolak oleh polisi. Sementara para petani duduk di depan polisi. Salah seorang polisi memanggil tiga orang petani yang dianggap sebagai tokoh Yazid, Pak Syarofah, dan Haji Samsul. Melihat ini, sembilan petani lain berniat mendampingi, tapi ditolak. Tiba-tiba, Pak Sayrofah (40 thn), dipukul oleh salah seorang polisi dengan popor senjata laras panjang di leher dan diikuti dengan beberapa kali tendangan, pak Syarofah jatuh. Melihat ini petani mulai resah. Tapi oleh Yazid (30 thn) langsung berbalik menghadap ke petani dan berusaha menenangkan para petani. Dalam posisi seperti ini Yazid dihantam pula oleh polisi dan ditendang. Melihat hal ini para petani berdiri berusaha menarik tiga orang petani yang di depan. Saat itu juga terdengar perintah "siaaapp!" dan diikuti dengan tembakan gencar ke arah petani. Kontan saja kerumunan petani buyar menyelamatkan diri.Tembakan berlangsung sekitar 10 menit. Melihat beberapa petani tertembak, termasuk Mbah Midin (70 thn), sekitar 85 orang petani bertahan di tempat. Merekapun ditangkap dan diborgol oleh polisi. Selanjutnya mereka di bawa ke Mapolres Jember. --------------------------------------------------- PARA KORBAN PERISTIWA KETAJEK Sampai hari ini, tercatat 11 orang terkena tembakan. 6 orang luka-luka dan masih dirawat di RSUD Dr. Subandi sampai saat ini. 1. Zeki (20-an) laki-laki: Luka-luka akibat tembakan dari jakrak dekat di 7 tempat di kaki, paha dan kemaluannya 2. Arifin (35-an) laki-laki: Terkena tembakan di bahu, saat ini masih diborgol di tempat tidur 3. Yazid (30-an) laki-laki: Kondisi lemah, memar dibeberapa bagian di punggung dan kepala akibat tendangan dan dan hantaman batu oleh polisi. Ada indikasi gegar otak. 4. Midin (60-an) laki-laki: Luka 2 tembakan di mata kaki kiri, saat ini sudah di gips. Menurut saksi mata Midin ditembak dengan pistol. Indikasi kuat terkena peluru tajam. 5. Ahmad (35-an) laki-laki: Luka tembak di paha atas. Saat ini diborgol di tempat tidur. 6. Ngadimun (60-an) laki-laki: Terkena tembakan di dimata kaki kanan, dan memar di bagian paha. Kondisi saat ini diborgol di tempat tidur. Korban yang sudah dibawa ke Polres 1. H. Samsul (50-an) laki-laki: Terkana tembakan di bagian paha, setelah dirawat langsung dibawa ke Polres Jember dan ditahan. 2. Pak Syarofah (40-an) laki-laki: Terkena hantaman popor senjata laras panjang di leher dan ditendang. Saat ini ditahan di Polres Jember. Setelah kejadian, petani yang sempat melarikan diri tidak membawa barang apapun. Apalagi disekitar lokasi telah dikepung oleh kawanan preman yang disewa oleh PDP. Warga kebanyak melarikan diri dan bersembunyi. --------------------------------------------------- Kapolres Jember, Letkol (Pol) Jaelani Sjaf, ketika diminta konfirmasi mengatakan bahwa para warga Ketajek jelas melanggar hukum. Apalagi sampai melakukan pengusiran kepada staf PDP dan mencoba melakukan penutupan jalan masuk. "Anda tahu, mereka itu telah melakukan pencurian kopi. Akibatnya PDP mengalami kerugian Rp. 20 juta. Apalagi mereka juga melawan petugas. Tindakan kami sah menurut hukum," kata mantan Kapolres Situbondo, yang 'berhasil' menjebloskan empat petani Banongan ke penjara ini. Kapolres Jember pun membantah bahwa PDP mengerahkan preman untuk menjaga keamanan perkebunan. "Preman mana, mereka itu memang sengaja menghambat tugas polisi" kata Jaelani dengan pongah. Salah seorang saksi mata, Mas'ud (25 thn), menyatakan keheranannya atas pernyataan Kapolres ini. Bagi Mas'ud, tindakan polisi itu jelas tidak bisa diterima dengan akal sehat. "Posisi kami saat itu tiga meter di depan polisi. Senjata tajam pun telah dikumpulkan. Bagaimana kami dikatakan melawan petugas," kata Mas'ud. Mas'ud adalah keluarga dari Mbah Midin, Yazid, dan Arifin (korban luka tembak), dan Salamah, salah seorang yang ditahan. Selanjutnya Mas'ud juga menyatakan keheranannya kalau Polres membantah keterlibatan preman dalam kasus ini. "Ya, mungkin selama ini para preman itu memang dianggap bagian dari PDP," kata Mas'ud sinis. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
