Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99 ------------------------------ Mely Rahayu, istri Ichwan tertuduh peledakan bom: "SUAMI SAYA KATANYA DIPINJAM SEBENTAR" (DIALOG): Kamis, 15 April 1999 pukul 11.00 telah terjadi peledakan bom di Pertokoan Hayam Wuruk Plaza yang kemudian disusul peristiwa perampokan di Cabang Pembantu BCA, Jl. Keamanan, Gang Kancil Kecamatan Tamansari Jakarta Barat. Berbagai mediamassa secara gencar melansir bahwa sebagian warga Maseng, terlibat sebuah organisasi bernama AMIN (Angkatan Mujahidin Islam Nusantara) dan diduga sebagai otak pelaku peledakan bom tersebut dan bahkan juga dikait-kaitkan dengan peledakan Mesjid Istiqlal. Ichwan, seorang warga Maseng yang bekerja sebagai tehnisi AC di PT Delima Mustika Jakarta, adalah salah seorang tersangka pelaku peledakan bom bersama tetangga-tetangganya; Suhendi, Edi Rohadi, Edi Taufik, Naiman, dan Jahid. Mereka tinggal di Kampung Maseng, RT 24/08 Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Bogor. Sebuah wilayah, yang hanya dihuni tujuh rumah semi permanen, satu musholla, dan satu dapur beratap plastik untuk menggoreng kripik singkong. Berikut adalah wawancara dengan Mely Rahayu, istri Ichwan, yang kini kebingungan menanggung dua anak yang masih kecil-kecil. T: Kapan suami Anda ditangkap? J: Suami saya ditangkap pada hari Jumat itu, tanggal 16 April 1999. T: Bagaimana suasana penang-kapan waktu itu? J: Ya waktu itu Jumat kira-kira jam 5.30 suami saya habis sholat subuh belum sempat ganti baju kerja sedang nyiapin sarapan bareng sama saya. Tiba-tiba datang aparat ada yang berpakaian preman, ada yang berpakaian seragam. T: Seragam dari kepolisian atau tentara? J: Polisi, ya polisi. Pakai senjata besar-besar. Saya nggak tahu tuh nama senjatanya apa. Pokoknya yang saya tahu waktu itu banyak orangnya kira-kira limabelas orang. Nah, rumah saya kan ada di pojok ya, mungkin karena itu nggak diacak-acak. Rumah-rumah tetangga saya yang lain pada diacak-acak. Rumah saya digedor kenceng, terus digedor begitu. Saya buka, saya bilang, "Ada apa Pak, ada yang bisa saya bantu?" Orang yang menggedor itu nanya, "Suami ibu ada?" Saya jawab saja, "Suami saya ada apa Pak." Dia nanya lagi, "Ada KTP?" Saya ambil KTP, "Ada ini KTPnya." "O iya namanya Ichwan, ayo ikut saya!" suami saya diseret. "Lho ada apa Pak?" "Nggak, nggak ada apa-apa." "Lho suami saya mau dibawa kemana?" "Suami ibu dipinjam sebentar untuk penunjuk jalan, nggak, nggak apa-apa." Terus dibawa tuh suami saya. Saya nggak boleh ikut. Di depan rumah saya masih dijaga empat orang. Pakai senjata lengkap semuanya. T: Ada surat perintah penangkapan? J: Nggak ada, waktu itu sama-sekali nggak ada. Kasusnya apa pun saya nggak tahu. Saya itu baru tahu dari koran keesokan harinya. T: Ada pemukulan saat penangkapan itu? J: Nggak ada. Saya nggak tahu kalau di luaran. Para tetangga lihat kalau suami saya diseret. Maklum jalan kampung itu licin. Mungkin dia jatuh, lalu diseret gitu aja. Saya nggak lihat, soalnya saya kan ada di dalam. Karena dijaga, saya nggak berani keluar. T: Kabar suami ibu sekarang bagaimana? J: Kabar apa? Orang saya belum ketemu dia sejak ditangkap. Suami saya nggak boleh saya jenguk. Yang saya tahu sekarang suami saya ada di Kapolda. T: Apakah masih ada aparat yang datang? J: Ada terus. Malah mereka masih terus mengacak-acak rumah-rumah tetangga saya. Katanya mereka mencari suami-suami yang belum pulang sampai sekarang. T: Ibu pernah ke Kampung Roke yang katanya dipakai untuk latihan kemiliteran AMIN? J: Tidak pernah. Saya tahu Roke itu ya dari televisi. Juga dari koran. Kami sama sekali belum pernah ke bukit Roke. Kerja kami sehari-hari ya bikin kripik, tempatnya ya di dekat musholla di kampung kami. T: Bagaimana dengan gerakan AMIN? J: Kami nggak tahu AMIN. Kami tahu AMIN itu ya dari koran. T: Mengenai nama Amir yang diduga otak peledakan? J: Ah, nama Amir, Umar, Rojak, itu juga kami baru tahu dari koran. Karena kami hanya usaha kripik biasa nggak kenal sama yang nama-nya Amir. Apalagi kalau sampai tempat kami dianggap sebagai tempat untuk merakit bom. Kan tempat kami dipakai untuk jualan kripik singkong, bukan tempat untuk merakit bom. Kami ini pendidikan juga nggak ada, kerjanya ngurus anak-anak, mana tahu soal merakit bom? T: Kegiatan suami ibu sehari-hari? J: Ya kerja di Jakarta. T: Kalau hari Sabtu Minggu? J: Bikin kripik sama-sama. Ya nggoreng, ya marut kelapa. T: Pengajian-pengajian yang dilakukan? J: Pengajian ya sering diadakan. Bentuknya tadarusan. Dan di mana-mana tadarusan itu biasa kan tidak ada larangan, orang tadarusan biasa. Itupun sambil direcokin anak-anak. T: Ada guru ngaji yang datang dari luar? J: Kami nggak ada gurunya. Dari kami-kami sendiri, orang kami nggak punya uang mana mungkin mendatangkan guru ngaji? T: Musholla yang dibilang pejabat untuk mengorganisir AMIN itu kapan didirikan? J: Tahun 1997-an kira-kira. Setahun setelah kami tinggal di Maseng. Itu juga nggak langsung permanen karena kami meng-umpulkan uang sedikit demi sedikit. Kalau hari ini bisa kami beli semen ya kami pakai semen, begitu. Berhenti dulu, kami ngumpulin dananya lagi. Nggak langsung sekali jadi. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
