Precedence: bulk


RATUSAN KAMRA JAKARTA UTARA MOGOK KERJA

        JAKARTA (SiaR, 5/5/99), Ratusan Keamanan Rakyat (Kamra) di wilayah Jakarta
Utara (Jakut), Rabu (5/5) ini melakukan mogok kerja akibat gaji mereka
selama dua bulan, April dan Mei belum dibayar. Ratusan Kamra itu berkumpul
di Mapolres Jakut menuntut pembayaran gaji tersebut, dan mengancam akan
terus melakukan mogok jika apa yang menjadi hak mereka itu tak dibayarkan.

        Menurut sejumlah anggota Kamra yang melakukan mogok tersebut, selain gaji
bulanan sebesar Rp200 ribu yang belum dibayarkan, juga upah makan harian
sebesar Rp7.500 belum diberikan pihak Mapolres Jakut.

        Salah seorang anggota Kamra menyebutkan, pihak Mapolres Jakut mengaku belum
menerima kiriman gaji bagi anggota Kamra dari Departemen Hankam seperti yang
telah mereka terima selama ini. Gaji untuk anggota Kamra selama ini
dibayarkan melalui kantor-kantor Polsek setempat. 

        Beberapa hari terakhir ketidakpuasan para anggota Kamra Jakut muncul ke
permukaan. Banyak di antara mereka mulai malas-malasan jika diminta
melakukan apel pagi hari, dan ditugaskan untuk bekerja di perempatan jalan
guna mengatur lalu lintas. Saat turun ke lapangan, SiaR mendengar gerundelan
beberapa anggota Kamra yang sedang beristirahat untuk makan siang di
warteg-warteg yang bertebaran di kawasan Tanjungpriok.

        Beberapa waktu sejak pendaftaran Kamra dibuka, banyak laki-laki bermodalkan
ijazah SLTA yang belum bekerja dan menganggur dari kalangan sosial ekonomi
bawah mengajukan lamaran. Tidak sedikit di antara mereka sebenarnya merasa
tak memiliki pilihan lain kecuali menjadi anggota Kamra karena masalah
kesulitan ekonomi tersebut. Bahkan banyak di antara mereka tadinya merupakan
aktivis dan anggota dari parpol tertentu yang dikenal pro-reformasi dan
anti-status quo.

        "Habis gimana lagi mas, saya harus bekerja untuk membantu keluarga," ucap
seorang anggota Kamra yang sebelumnya dikenal sebagai aktivis parpol
pro-reformasi dan anti-status quo pada SiaR.

        Meski demikian, anggota Kamra itu dan beberapa anggota parpol yang juga
"terpaksa" menjadi Kamra sempat diberi pendidikan politik ala kadarnya oleh
beberapa kader partai, agar mereka mewaspadai politik adu domba para
penguasa. Mereka, seperti pernah diakui pada SiaR langsung, berjanji tak
akan terperangkap dengan politik adu domba penguasa. Mereka mengaku ada juga
instruktur yang mengarahkan para Kamra untuk memilih Partai Golkar, dengan
alasan bahwa mereka dapat bekerja seperti sekarang ini karena kebaikan
partai berlambang pohon beringin itu. 

        "Kami mau diarahkan dan diadu domba, tapi gini-gini kami kan rakyat juga,"
ucap seorang anggota Kamra lirih.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke