Precedence: bulk
DITENTANG MILITER, HABIBIE TUDING "KOMAS"
JAKARTA (SiaR, 5/5/99), Ucapan Presiden BJ Habibie tentang gerakan "Komas"
atau komunis, nasionalis, serta marhaenis sebagai biang pemecah belah bangsa
terus mendatangkan reaksi. Sejumlah tokoh nasionalis senior di Jakarta,
Selasa (4/9) kemarin menduga, Habibie --sebagai panglima tertinggi TNI--
melempar isu tersebut karena takut oleh pembangkangan militer pro-Soeharto
yang ditengarai sebagai pihak yang berada di belakang berbagai kerusuhan dan
pembantaian selama ini.
Nasionalis sepuh Prof Dr Usep Ranawidjaya menilai tudingan Habibie itu
sebagai tidak berdasar, tanpa bukti, dan untuk kepentingan diri sendiri
dalam mempertahankan kekuasaannya. Menurut Usep, kini di masyarakat kuat
dugaan bahwa dalang di balik berbagai kerusuhan berasal dari kalangan status
quo. Bahkan khusus untuk kasus Timor Timur dan Aceh, kata Usep, terlihat
semacam pembangkangan TNI terhadap Habibie.
"Janji Habibie untuk rakyat Aceh praktis sirna dengan peristiwa Lhokseumawe
yang menewaskan puluhan warga sipil itu akibat penembakan oleh pasukan
bersenjata," katanya.
Usep menganggap Presiden Habibie sedang kebingungan dalam menghadapi
sejumlah manuver politik tentara, termasuk dalam kaitannya dengan peristiwa
pemboman Masjid Raya Istiqlal, yang diduga banyak orang sebagai peringatan
oleh militer pro-Soeharto kepada Habibie. Habibie, lanjut Usep, tak punya
jalan lain terkecuali menciptakan hantu baru yang bernama "Komas" seperti
dulu Soeharto sering mengkreasi hantu-hantu sebagai kambing hitamnya.
Senada dengan Usep, tokoh PDI Perjuangan Soetardjo Soerjogoeritno malah
menilai pernyataan Presiden Habibie itu sebagai akibat tak dipahaminya apa
yang menjadi hakekat ajaran nasionalisme dan marhaenisme oleh Habibie.
"Habibie tidak mengerti apa itu marhaenisme. Marhaenisme itu berbeda dengan
marxisme, marhaenisme tetap berdasarkan ketuhanan. Sedangkan nasionalisme
kita adalah nasionalisme yang populis dan berwatak cinta damai. Nasionalisme
kita tak memiliki alat-alat kekerasan untuk memaksakan kehendak," ujarnya
panjang lebar.
Ia bahkan mencurigai pernyataan Habibie yang dilontarkan saat kunjungan
para tokoh pemuda dan pemudi Muhammadiyah di Bina Graha, Senin (3/5) lalu
sebagai bentuk psy-war terhadap parpol tertentu yang dianggap Habibie dapat
mengganjal langkahnya untuk memperpanjang jabatan kepresidenannya. Meskipun
tidak eksplisit, kata Soetardjo, maksud Habibie jelas diarahkan pada PDI
Perjuangan.
Menurut putra pahlawan nasional Bung Tomo, Bambang Sulistomo, pernyataan
Habibie itu mengisyaratkan dirinya mencari jalan aman dengan berpura-pura
mengabaikan manuver-manuver pihak militer pro-Soeharto, sebaliknya
mengkambinghitamkan lawan politiknya yang lain, yakni partai-partai politik
berbasis ideologi nasionalis seperti PDI Perjuangan dan lain-lain.
Bambang sendiri merasa heran mengapa TNI yang selama ini selalu
membanggakan diri sebagai memiliki jaringan intelijen yang tangguh dapat
kebobolan oleh berbagai peristiwa kerusuhan di Tanah Air. Ia menyebutkan
sejak tragedi Banyuwangi, Trisakti, Semanggi, Kupang, Ambon, Sambas, Ciamis,
Jepara dan seterusnya selalu dikatakan sebagai ulah provokator. Tapi,
lanjutnya, hingga kini tak pernah ketahuan siapa orangnya. Oleh sebab itu,
kata Bambang yang juga Ketua Partai Aliansi Demokrat Indonesia, banyak
anggota masyarakat yang menduga pelakunya dan provokatornya adalah mereka
yang dekat dengan kekuasaan itu sendiri.
"Sudahlah Habibie jangan menjadi provokator, karena akan membingungkan
masyarakat. Saat ini masyarakat membutuhkan sembako, bukan sejumlah
pernyataan konyol," ucapnya.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html