Precedence: bulk
WIRANTO KIRIM PASUKAN KHUSUS KE ACEH
JAKARTA (MeunaSAH, 7/6/99), Menhankam/Pangab Jendral Wiranto
menyatakan, TNI akan mengirim pasukan PPRM (Pasukan Penindak Rusuh Massa) ke
Aceh hari ini Jumat (7/5). Pasukan itu diterjunkan untuk mengamankan
propinsi itu menjelang dan selama Pemilu 1999. Wiranto menyatakan hal itu
kepada wartawan seusai bertemu dengan Presiden BJ Habibie di Istana Negara,
Jakarta, Kamis, (6/5).
Menurut Wiranto, pengiriman pasukan khusus PPRM terdiri atas unsur Brimob,
Pasukan Huru Hara (PHH), penjinak bom (Gegana), dan Unit Yustisi serta unsur
Laboratorium Kriminal itu tidak bertujuan untuk menerapkan DOM (Daerah
Operasi Militer) lagi di Aceh.
"Ini bukan DOM. Sebab yang kami kirim adalah polisi. Di sana masih tetap
berlaku hukum tertib sipil," jelas Wiranto. "Tujuannya," kata Wiranto,
"untuk menambah jumlah pasukan keamaan di Aceh supaya Pemilu aman."
Namun beberapa pihak mencurigai kehadiran pasukan khusus Wiranto itu justru
akan memperburuk situasi Aceh. "Selama kecurigaan terhadap masyarakat Aceh
tidak segera dihentikan, maka darah masih akan terus berceceran di Aceh,"
kata pengamat Aceh.
Hal senada juga dikemukakan Ketua Tim Penasihat Presiden untuk Urusan Aceh,
Ir H Usman Hasan, yang kemarin berada di Lhokseumawe. Dalam tanggapannya,
Usman Hasan menyatakan menolak keras pengiriman 700 personel PPRM di tiga
kabupten di Propinsi Aceh, yakni Aceh Utara, Aceh Timur, dan Pidie itu untuk
melakukan operasi tempur. Namun, kalau dropping pasukan itu untuk
melaksanakan Operasi Kamtibmas, katanya, oke. Sebab, masyarakat Aceh saat
ini sangat membutuhkan kenyamanan hidup keseharian untuk lebih memberdayakan
diri.
"Kalau yang diutus adalah pasukan Brimob Polri, saya pikir missinya adalah
Operasi Kamtibmas. Itu perlu didukung agar masyarakat kita tidak terus
terombang-ambing dalam ketidakmenentuan situasi seperti terjadi akhir-akhir
ini," kata mantan Dubes Mexico itu.
Sementara itu, diperoleh informasi korban tewas dalam "Insiden Simpang KKA"
Krueng Geukueh, Aceh Utara pada Senin (3/5) hingga tadi malam berkembang
menjadi 40 orang.
Menurut laporan Serambi, dengan jumlah korban yang mencapai 40 orang,
insiden Simpang KKA ini tercatat sebagai peristiwa paling banyak merenggut
nyawa manusia dalam sepanjang aksi massa yang berlangsung di Aceh Utara
sejak awal November 1998 lalu.
Tim Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Aceh Utara, kemarin, menyisir
sejumlah desa di Kecamatan Dewantara dan Nisam, untuk mencari korban luka
insiden Simpang KKA. Dalam usahanya, PMI berhasil menemukan 44 korban luka
tembak. Penyusuran hari pertama, Rabu (5/5) di Kecamatan Dewantara, berhasil
ditemukan 19 korban luka tembak dan kena pukul oleh aparat. Sedangkan hari
ke dua di Kecamatan Nisam, ditemukan 25 korban yang juga mengaku menderita
luka tembak dan luka akibat dipukul aparat keamanan.
Beberapa warga Seumirah yang menjadi saksi mata dalam peristiwa itu kepada
harian Serambi mengungkapkan, pihak keamanan menembak warga sipil sambil
berdiri di atas truk dan ada juga dalam posisi jongkok di atas jalan aspal
Simpang KKA.
Padahal, pihak warga tidak satupun membawa senjata api, kecuali parang
sebagai alat untuk mengusir aparat keamanan yang telah ingkar janji.
Karenanya, mayoritas dari 39 korban insiden itu, yang hingga kemarin masih
dirawat di RSU Lhokseumawe, mengalami luka tembak di bagian punggung.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html