Precedence: bulk
PEMBOM MASJID ISTIQLAL BUKAN NON-MUSLIM
Oleh: Sulangkang Suwalu
Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid mensinyalir pelaku pengeboman mesjid
Istiqlal bukan dari golongan non-muslim. Alasannya, kalau non-muslim yang
melakukan itu terlalu gegabah, atau sama artinya dengan bunuh diri.
Sebenarnya ini mudah dibaca. Tidak mungkin pemboman tersebut dilakukan
orang non-Islam. "Tidak terbayang di benak saya. Karena itu merupakan
tindakan yang luar biasa gegabahnya," ujar Nurcholis.
"Petunjuk ke dua," kata Nurcholish, "pasti pelakunya mempunyai tujuan
tertentu. Karena yang diledakkan masjid, dia memperkirakan sasarannya d
adalah memperburuk konflik-konflik antar agama. Mereka mengharapkan
terjadinya reaksi berantai."
Berarti lebih karena politis? "Ya, saya kira karena politis, jawab
Nurcholish. Tujuan maksimumnya kekacauan di seluruh Indonesia. Kalau sudah
kacau, seseorang akan mengambil-alih kekuasaan," sambung Nurcholish .
Sementara itu, Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum PBB beranggapan ini murni
politik. Jelas ini upaya yang sistematis untuk memperkeruh suasana dan kami
melihat motifnya politik, bukan motif keagamaan. Jelas yang meledakkan itu
bukan orang di luar Islam. Pelaku pemboman memiliki tujuan agar pemilu tidak
terlaksana.
"Sebab, jika kelompok itu ikut pemilu jurdil dan demokratis," kata Yusril
Ihza Mahendra, "sampai terlaksana, maka kesempatan untuk mereka berkuasa itu
tidak akan terjadi."
Jusril secara transparan mengungkapkan, peledakkan bom tidak bisa dilakukan
sipil, kecuali oleh pihak-pihak yang terlatih untuk itu. Mungkinkah orang
perorang atau sipil yang dilatih oleh militer.
Apa artinya ucapan Nurcholis Madjid dan Yusril Ihza Mahendra bahwa pelaku
pemboman itu bukan non muslim, bukan orang di luar Islam?
TONJOKKAN PADA YANG PERKERUH SUASANA
Arti pertama dari ucapan Nurcholis Madjid dan Yusril Ihza Mahendra tersebut
adalah merupakan tonjokkan kepada orang-orang yang hendak memperkeruh
suasana baik secara sadar atau tidak. Yang dimaksud dengan yang memperkeruh
suasana itu ialah yang mengatakan bahwa pelaku pemboman itu adalah non
muslim, atheis atau orang yang tidak percaya pada Tuhan dsb. Dengan mereka
menyatakan bahwa pelakunya non muslim, maka akan terhasut lah atau
terpancing lah umat Islam untuk bergerak meledakkan pula tempat kebaktian
agama lain seperti Gereja dsb. Justru itulah yang dikehendaki pelaku
pemboman tersebut. Siapa diantara yang hendak memperkeruh suasana tersebut?
Di antaranya ialah:
1. KH Nur Iskandar.
Seperti diberitakan Kompas (22/4) bahwa Ketua Induk Koperasi Pesantren KH
Nur Iskandar SQ usai diterima Presiden di Istana Merdeka (21/4) menyatakan
Presiden dalam pertemuan tersebut meminta pondok Pesantren membantu
pemerintah mengendalikan masyarakat agar tidak terpancing. "Sebab yang
melakukan peledakan itu adalah orang-orang yang tidak berTuhan".
Keterangan KH Nur Iskandar itu sangat kontroversial. Disatu pihak dia
mengemukakan pesan Presiden agar masyarakat tidak terpancing, di pihak lain
ia mendorong masyarakat untuk terpancing, melalui ucapannya "yang melakukan
peledakan itu adalah orang-orang yang tidak bertuhan"
2. Setiawan Djody.
Merdeka (22/4) memberitakan bahwa di tempat terpisah budayawan Setiawan
Djody menilai mereka yang telah nekat melakukan peledakkan di kompleks
masdjid Istiqlal sebagai orang atheis, yang tidak percaya adanya Tuhan.
Penilaian Setiawan Djody ini sama dengan penilaian KH Nur Iskandar.
Penilaiannya Setiawan Djody ini adalah tidak sesuai dengan apa yang
dikatakannya kemudian bahwa tentang siapa pelakunya, Djody tidak ingin
menerka-nerka. Menurutnya sebagai seorang budayawan dirinya tidak etis
menuduh-nuduh orang tanpa bukti.
Apa kah Setiawan Djody tidak sadar bahwa menuduh-nuduh tanpa bukti bahwa
pelaku pemboman itu sebagai "orang atheis, yang tidak percaya adanya Tuhan",
apakah dirinya seorang budayawan yang etis?
DUKUNGAN PADA YANG MENGIMBAU JANGAN TERPANCING
Bila terhadap yang hendak memperkeruh suasana Nurcholish MadJid dan Yusril
Ihza Mahendra menonjoknya, maka terhddap yang mengimbau agar jangan
terpancing ia mendukungnya. Yang mengimbau agar jangan terpancing dengan
peledakan bom di masJid Istiqlal itu banyak sekali. Di antaranya Presiden BJ
Habibie mengatakan: "Peledakkan ini merupakan upaya menciptakan konflik
antar etnis dan umat beragama. Karena itu masyarakat jangan terpancing
(Merdeka, 22/4).
Sedang Menteri Agama Malik Fajar juga menyatakan keprihatinannya atas
terjadinya peledakan bom di kompleks masjid Istiqlal. Dia meagimbau
masyarakat jangan emosional dalam menghadapi kejadian tersebut.
Malik juga meminta kepada umat Islam agar tidak mudah menuduh kelompok
tertentu sebagai pelakunya. Sebab kalau itu dilakukan, bisa memperkeruh
suasana. Dan harus disadari, kondisi semacam itulah yang memang dikehendaki
pelakunya.
Permintaan Malik Fajar yang terakhir ini semacam jeweran bagi KH Nur
Iskandar dan Setiawam Djody yang dengan gampangnya menuduh pelakunya sebagai
kelompok orang yang tidak percaya pada Tuhan atau atheis.
Sejalan dengan imbauan Presiden BJ Habibie, Menteri Agama Malik Fajar, maka
KH Ali Yafie juga mengemukakan bahwa pengeboman di Plaza Hayam Wuruk dan
Masdjid Istiqlal, apakah juga dilakukan oleh orang-orang atau kelompok yang
sama? Kita belum ada yang tahu. "Begini. Kita tidak berani menduga-duga Saat
ini kita sudah mempercayakan hal itu kepada aparat keamanan untuk
mengungkapkan hal tersebut. Nah, setelah mereka memberi tahu, baru kami
melakukan evaluasi," ujar Malik Fajar.
TANGGAPAN TOKOH LAIN TERHADAP PEMBOMAN MASJID ISTIQLAL
Sementara tokoh Islam yang lain, seperti Gus Dur malah mensinyalir pelaku
peledakan bom di masjid Istiqlal itu adalah teroris bayaran, dengan tujuan
menggagalkan pemilu. Pelakunya susah diketahui, karena mereka adalah
orang-orang yang istilalhnya massa mengambang. Mereka adalah bekas ABRI yang
saat ini sudah tidak dalam struktur lagi (Merdeka, 21/4).
Sedang AM Fatwa, Ketua DPP PAN pun berpendapat bahwa pengemboman itu untuk
mengacau keamanan negara dan menggagalkan pemilu. Cara-caranya memang model
intelijen, yakni dilakukan oleh mereka yang profesional. Cara pengeboman di
Istiqlal itu canggih. Serpihan bom tidak berhamburan ini pasti dilakukan
orang yang berpengalaman.
Lain pula komentar Komaruddin Hidayat, pengamat politik dan pemikir agama
Islam dari Universitas Paramadinah. Komaruddin mengatakan: Aparat keamanan
harus tersinggung dan malu. Apalagi peristiwa tersebut terjadi di jantung
ibukota dan dekat Istana Negara. Jadi, dari segi intelijen, ini merupakan
kebobolan besar. Ini penghinaan. Pelakunya kata Hidayat, pasti dibayar
mahal. Dan otaknya memang ahli intelijen. Aparat keamanan mesti malu, karena
merasa dikentutin (AKSI, Vol 3, No 137).
APARAT KEAMANAN TAK PERNAH SERIUS
Lain pula yang dikatakan KH Ilyas Rukhiyat, Rois Aam PBNU. Beliau
mengatakan berlarut-larutnya berbagai persoalan yang terjadi di Tanah Air,
belakangan ini, termasuk peledakan di lantai dasar masjid Istiqlal, akibat
aparat keamanan selama ini terkesan tidak pernah serius menangani berbagai
persoalan (Kompas, 21/4).
Lambatnya cara kerja aparat keamanan, ujar Ilyas, bukan hanya membuat
pelaku-pelaku ataupun provokator makin leluasa melakukan aksinya, tetapi
juga membuat masyarakat makin tidak percaya. Akibatnya masyarakat makin
mudah diprovokasi.
"Aparat keamanan selalu berkata akan segera diusut tuntas, ada provokator
dibalik ini dan sebagainya," kata Ilyas, "namun tidak pernah benar-benar
menunjukkan kepada masyarakat siapa pelakunya atau orang-orang yang dianggap
sebagai provokator."
Tampaknya itulah sebabnya maka P3MI Jakarta mengatakan jika kasus ini
(pemboman masjid Istiqlal, pen) akan bernasib sama dengan yang lainnya, maka
pimpinan TNI dan Polri harus segera diganti. Kejadian peledakan ini dan
kasus-kasus sebelumnya menunjukkan bahwa peralatan militer telah digunakan.
Ini menunjukkan ada permainan dari sebagian kalangan militer dengan sebagian
sipil (AKSI, Vol 3, No 137).
AMIN HANYA OMONGKOSONG?
Berkenaan adanya dugaan bahwa "Angkatan Mujahiddin Islam Nusantara" (AMIN)
yang dipimpin Amir terlibat dalam pemboman Istiqlal, maka Yan Triasmoro dkk
menyebutkan bahwa Kriminolog Erlangga Masdiana tak percaya jika kelompok
AMIN itu benar-benar ada. Dia menduga, itu hanya dibuat-buat oleh kelompok
tertentu yang selama ini diduga menjadi pelaku sebenarnya dari berbagai
tindak kekerasan.
Masdiana bahkan menduga, gerakan AMIN mirip dengan modus tuduhan kepada
Komando Jihad di era 1980-an.
Sedang Komaruddin Hidayat mengajak publik berpikir kritis. Apalagi dimasa
silam, banyak betul dilahirkan gerakan ekstrem yang sesungguhnya omongkosong
-karena diduga hasil rekayasa penguasa. Kita jangan mudah percaya dengan
nama-nama seperti itu, tutur Hidayat.
Pola-pola Orde Baru (dengan catatan AMIN cuma gerakan fiktif) masih juga
dijadikan modus menggasak lawan politik, meski masyarakat cenderung tak
mempercayai lagi hal-hal seperti itu. Bahkan hampir semua nara sumber
menduga, cuma bikinan intelijen, untuk memojokkan Islam.
KESIMPULAN
Jelas kiranya bahwa pelaku pemboman masjid Istiqlal bukan non muslim (bukan
orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, bukan atheis). Lepas dari
persoalan apakah pelakunya dari kalangan AMIN atau bukan. Yang terang
pelakunya orang yang terlatih menggunakan bom untuk teror. Tujuannya untuk
menimbulkan kekacauan guna memudahkan baginya mengambil alih kekuasaan,
seperti dikatakan Nurcholish Madjid.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html