Precedence: bulk


BENDERA DI GEDUNG MPR/DPR AKHIRNYA JADI SETENGAH TIANG

        JAKARTA (SiaR, 12/5/99), Ribuan mahasiswa Trisakti dari Kesatuan Aksi
Mahasiswa Trisakti (Kamtri) berhasil mendekat ke gerbang Gedung MPR/DPR dan
tertahan di jalan tol, Rabu siang (12/5). Mereka minta pertanggungjawaban
pemerintah dan panglima TNI atas Tragedi Trisakti yang menelan korban 4
mahasiswa Universitas Trisakti 12 Mei 1998. 

        Sementara itu, ribuan mahasiswa yang lain gagal memasuki radius 100 m
Gedung MPR/DPR. Mereka dihadang ribuan pasukan Pengendali Huru-Hara (PHH)
Kodam Jaya di beberapa ruas jalan, misalnya di perempatan Slipi (untuk
mahasiswa yang melintasi Jl Gatot Soebroto dari arah Grogol) dan
penghadangan mahasiswa di Pancoran (untuk mahasiswa dari arah Cawang).
Begitu pula, jalan-jalan kecil seperti jalan Slipi-Tanah Abang, juga diblokir.

        Keberhasilan mahasiswa menduduki ruas jalan tol depan Gedung MPR/DPR itu
sempat membuat macet selama beberapa menit. Bahkan karena terlalu lama
menanti deal mahasiswa dengan aparat keamanan, sebagian besar kendaraan
akhirnya memutar kembali dan keluar dari tol.

        Sekitar pukul 14.45, Marie Muhammad, mantan Menkeu itu turun dari mobilnya
yang terjebak macet di depan Gedung MPR/DPR itu. Marie didaulat untuk
memberikan orasi singkat di hadapan mahasiswa. 

        "Kita telah lihat, pemerintah sampai saat ini tidak serius mengusut Tragedi
Trisakti. Kita harus tuntut sampai kapan pun," katanya.

        "Aksi kita damai, tolong bendera di halaman Gedung MPR diturunkan," ujar
Marie berkali-kali.

        Tapi komandan pengamanan Gedung MPR, Letkol Agil tak mau segera menanggapi
permintaan mahasiswa dan Marie Muhamad. Karena tidak ditanggapi, Marie
keluar barisan dan dengan mengendarai mobilnya masuk Gedung MPR lewat pintu
belakang. Tak lama kemudian, bendera pun turun menjadi setengah tiang.

        "Presiden sendiri yang menjadikan 4 mahasiswa Trisakti sebagai pahlawan
Reformasi, kenapa MPR/DPR tidak memasang bendera setengah tiang pada hari
ini?" kata Marie.

        Ketika Kamtri melakukan aksi di depan Gedung DPR/MPR, ratusan mahasiswa
lain, termasuk dari Universitas Muhammadiyah, IISIP dan Universitas
Gunadarma, juga sudah terkonsentrasi di ruas jalan Slipi yang mengarah di
Gedung DPR/MPR tetapi tak bisa bergabung dengan massa yang telah lebih dulu
mendekat Gedung MPR/DPR. Mereka dicegat di jembatan, di depan Manggala
Wanabhakti. Dua jalur tol di depan Gedung MPR macet total untuk beberapa jam.

        Sedang aksi mahasiswa lainnya juga digelar di depan kantor perwakilan
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Jl MH Thamrin. Aksi yang dilakukan oleh
Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) ini keluar dari
samping Gedung Sarinah dengan mengusung bendera hitam merah bertuliskan
huruf R dilingkari, dengan tulisan "People Power" di bawahnya. Dengan
spanduk warna-warni berisi mengecam "Kekerasan aparat pada warga sipil".
Seperti kasus Aceh, Timor Timur, Papua Barat, dan penembakan Trisakti serta
Pembantaian Semanggi.

        Menurut Andi, mahasiswa Universitas Trisakti, aksi Famred ini memang
ditujukan untuk menyetop bantuan kursus dan pelatihan militer dari negara
asing pada militer Indonesia. 

        "Bantuan itu baik pelatihan maupun senjata bahkan uang digunakan untuk
menembaki rakyat sipil dan mahasiswa," ujar pemuda tersebut. 

        "Mestinya perwakilan PBB juga menginvestigasi kasus kekerasan militer pada
rakyat sipil sebagai dampak bantuan militer negara maju", tegasnya.

        Dalam tuntutannya, Famred menyatakan bahwa pembantaian rakyat sipil oleh
militer semakin banyak dalam dua tahun ini. Mereka mempertanyakan apakah
ABRI yang telah berganti jadi TNI memang tidak mampu menangani kerusuhan
dikompensasi dengan prestasi kekerasannya pada rakyat sipil.

        Dalam pernyataannya, mereka minta praktek ,iliterisme harus dihentikan agar
dapat memulihkan rasa keadilan, rasa aman dan kepercayaan dari rakyat.
Mereka juga menuntut dihapuskannya peran sosial politik ABRI/TNI hingga
rakyat terbebas dari militerisasi sipil. Dan penghentian cara kekerasan
dengan disertai pembantaian terhadap rakyat dengan memberikan label gerakan
separatis, komunis maupun peniupan issue SARA. Dan dengan tegas mereka minta
penghentian pembiayaan operasi militer dan pembelian senjata dimasa krisis. 

        "Jangan biarkan militer berkoalisi dengan Golkar sehingga terulang kembali
masa kegelapan Orde Soeharto," kata salah satu tuntutan merekas.

        Aksi yang diikuti lebih dari 600 orang itu berlangsung aman dan berakhir
dengan  long-march ke bundaran air mancur Hotel Indonesia.

        Sedangkan Forum Kota (Forkot) dengan menaiki sekitar 40 bus berkonvoi
menuju ke Kampus Trisakti, Grogol guna memperingati satu tahun penembakan
Trisakti. Namun rombongan tersebut tidak diperbolehkan masuk ke Kampus
Trisakti, hampir terjadi perselisihan dalam peristiwa itu. Forkot nyaris
bentrok dengan panitia karena hanya diizinkan 15 wakil masuk ke Kampus
Trisakti. Untung saja jendral lapangan membelokkan masa kembali menuju
Gedung MPR/DPR. Pada saat bergerak kembali tersebut konvoi dihadang
sepasukan KAMRA di depan Mall Taman Anggrek.

        Bentrokan sempat terjadi sebentar karena blokade KAMRA tersebut dapat
ditembus oleh Forkot, rakyat bersorak-sorai melihat anggota KAMRA
tunggang-langgang. Tepat di atas Jembatan Slipi di depan Gedung Manggala
Wanabhakti rombongan ini dihadang lagi oleh sekitar 300 pasukan gabungan
dari kepolisian dan PHH. Barikade kawat berduri dipalang merintangi konvoi
bus para mahasiswa. Sementara itu dari arah Timur 4 bus besar rombongan
mahasiswa dari Yayasan Akutansi Indonesia (YAI) tanpa mengalami hambatan
tiba di depan Gedung MPR/DPR. 

        Dengan dipimpin Reza, rombongan menyerukan pengusutan kasus kekerasan sipil
yang selama ini terjadi dari kasus Aceh, Penembakan Trisakti, hingga
pembantaian Semanggi yang belum ada kejelasannya hingga saat ini. 

        Blokade aparat dibuka pukul 17.15 dan rombongan mahasiswa dari dua arah
tersebut berangsur-angsur kembali ke kampusnya masing-masing.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke