Precedence: bulk ACEHMU ACEH KITA SEMUA Koran pagi datang membawa suara gagak Raiya Meraung-raung mengitari wuwungan rumah Dan sesaat mengepakkan sayapnya sutra hitam memayungi jagatraya Ada apa di acehmu Raiya, getir mengguncang, dendam membara ? Tak terhentikan melayangnya nyawa Tak tertahankan mengucur darah. Sudah berapa dimakamkan jenasah ? Aceh terpapar di ensiklopedia indonesia : Luas membentang dari Ulelhe membangun ekor bukit barisan dataran tinggi hijau hutan perawan, gunung- gunung , petak sawah berhamparan coklat tanahmu , coklat kulit petani terpanggang matahari menyimpan dan memangku bebijian harta limapuluh delapan ribu kilometer persegi dijaga tiga juta Jika kudengar orang bilang Aceh, acehmu, aceh kita semua Seperti lantun suara guru pelajaran sejarah, perkasa melawan Belanda Nama terus terpahat, Tjut Nyak Dien, Tjut Nyak Meutia, aku suka perempuan perkasa Tjik Ditoro menghadapi Jenderal Ven der Heiden di Pidi, Teuku Umar tetapi juga Snouck Hurgronje, tentu engkau paham Raiya, Tetapi sekarang apa yang terjadi di Lhoseumawe, Meunasah Blang Apakah ada perang ? Dan kemarin disebutkan nama Ahmad Kandang, siapa lagi di koran pagi Letup api, deru helikopter, teriak histeris, siapa lagi Siapa nama mereka yang tersungkur rebah, sudahkah tercatat mereka punya nama Janda-janda, anak lapar tanpa bapak, luka-luka, bekas diperkosa Gunung Lauser, gunung Ucap Mulu, tampak termangu memperkaya catatannya Dan menggarisbawahi nama-nama pemimpin zaman orba yang menjual harta Dan memalingkan muka ketika disapa: untuk siapa ? Airmata gerimis pagi, duka dunia Langit menyembunyikan cahaya Cahaya tersimpan di dalam kelam Kelam memancar di wajah kusam Wajah berdarah terhantam popor senapan Siapa yang sudah lupa bahwa mesiu juga dibeli dari hasil hutanmu Raiya Makanan dan minuman dari lumbung dan mata air bagi yang katanya penjaga merdeka, Apa benar mereka menjaga engkau merdeka, Apa benar engkau minta merdeka, kita semua belum tahu siapa punya merdeka, Kita semua ingin setara. Adakah kursi orang-orang Jakarta terlalu tinggi tak tergapai Dipisah barikade dikawal pasukan berani mati Kebanyakan upeti Langitmu, langit kita semua Awan-awan dilangitmu terus bergayut, angin mati tidak berdaya Hutanmu ligir, dedaunannya kemana Tanahmu merekah, isinya disimpan siapa Laparmu lapar kita Lukamu luka dunia Tangismu airmata kita Sungaimu, gunungmu, minyakmu, padi, kelapa sawit, lada Karet,gambir, gula, gas alam, oi acehmu kaya raya ( tapi engkau bilang rakyat miskin ) Ada emas perak pula, begitu tulis ensiklopedia indonesia Aku mengiburmu Raiya : simpanlah duka di laci meja Dosanya dibawa sendiri mati Jika kau dengar ketuk di pintumu: intip dari lobang kunci Jika ia meminta maaf: bukakan hati Kemudian antarkan ke kantor polisi. Seorang teman keponakanku, baru selesai mengikuti penataran Mampir di rumah seperti penasaran Berceloteh panjang lebar, tentang acehnya, walau aceh kita semua Ketika diingatkan Jakarta punya banyak telinga 'saya sudah cape diam ', begitulah ia sambil terus bercerita di zaman Suharto belum digusur mahasiswa. Kiranya ada api di dalam sekam Walau disiram tidak bertunas damai di sanubari. Sebab apa bulan terus bertengger di batang padi Walau malam telah lama lari. Tikus terus menari-nari. Pemuda itu menutup cerita: 'cobalah Bapak jadi rakyat Aceh Pasti Bapak seperti saya akan berceloteh.' Raiya, engkau bertanya di dalam suratmu: Malapetaka apa lagi dibawakannya untuk kami, Engkau juga menulis: aku cape lahir bathin, aku tidak bisa menangis lagi Aku takut, suara helikopter meraung-raung, berita kematian tiada henti Yang di dalam tahanan dianiaya Jerit anak, perempuan, aku tak sanggup lagi, telah sekian malam aku tidak bisa tidur, Aku lelah lahir bathin, Mala petaka apa lagi dibawakannya buat kami. Aku merindukan damai. Tak bisa kubunuh bayang bocah kecil menangis Ayahnya digiring ke mobil tahanan Melambaikan tangan Dan terus menangis. Seperti ibunya terus menangis Seperti kami terus menangis Menyembunyikan tangis di dalam ketakutan. Di dalam ketakutan senapan bersahut-sahutan ( Istri kehilangan suami anak kehilangan bapak lapar dan dahaga di alam kaya raya , kami merindukan damai ) Raiya, hapus air mata Acehmu, aceh kita semua Perjalanan jauh untuk kembali jadi manusia Raiya, acehmu aceh kita semua Ada kalanya kita terdiam Di dalam diam kita bertanya Di dalam diam merangkai makna. Sambil ke sawah mengusir hama Mendulang emas dan perak kandungan bumi Jaga pantaimu, siapkan kuitansi bagi pembeli Burung-burung gagak akan menukar bulunya Putih bersih berkicau di rumah jaga Ketika panser dan senapan disimpan di asrama Aku menghiburmu Raiya: simpanlah duka di laci meja Dosanya dibawa sendiri mati Jika kau dengar ketuk di pintumu: intip dari lobang kunci Jika ia meminta maaf: bukakan hati. Kemudian antarkan ke kantor polisi. Meniti benang sampai ke seberang Jangan terjatuh di tengah jurang Jika tegak hukum menimbang Di jalanmulah bintang nyala terang. Menyimpan parang usai perang. Januari 99 ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
